Nokia Pernah Hidup dari Tisu Toilet, Samsung Berangkat dari Dagangan Mi Kering

Nokia 3310 terjual lebih dari 126 juta unit dan menjadi salah satu ponsel paling ikonik pada masanya. Namun, perusahaan asal Finlandia itu pernah menjual tisu toilet, sementara Samsung memulai bisnisnya dengan mi kering dan bahan pangan kering.

Kisah dua merek tersebut menunjukkan bahwa penguasaan pasar ponsel tidak lahir dari bisnis komunikasi sejak awal. Samsung dan Nokia lebih dulu berkembang melalui usaha yang sangat jauh dari perangkat elektronik.

Nokia Beralih dari Kertas ke Ponsel Compact

Nokia berdiri pada 1865 di Finlandia sebagai perusahaan pulp dan kertas. Produk awal yang pernah dipasarkannya meliputi tisu toilet dengan kemasan bermerek “Nokia Silk”.

Jon Erlichman pernah membagikan foto kemasan tisu toilet tersebut lewat akun X. Kemasan berwarna cokelat itu menampilkan nama Nokia yang kini lebih dikenal berkat sejarah panjangnya di industri telepon seluler.

Sebelum fokus pada ponsel, Nokia memasuki industri elektronik pada 1960 dan menjalankan banyak lini usaha. Kegiatannya mencakup produk karet, ban kendaraan, sepatu bot, kabel komunikasi, plastik, aluminium, bahan kimia, komputer, peralatan pembangkit listrik, robotika, kapasitor, hingga perlengkapan militer.

Perusahaan mulai memusatkan perhatian pada ponsel compact pada 1990-an. Strategi itu mengantar Nokia menjadi salah satu pemain awal yang kemudian mendominasi pasar ponsel global.

ModelTahun DisebutCatatan Utama
Nokia 3310Tidak disebutkanBerbobot 133 gram dan terjual lebih dari 126 juta unit
Nokia 33302001Termasuk ponsel fitur lanjutan
Nokia 33502001Termasuk ponsel fitur lanjutan

Dengan bobot 133 gram, Nokia 3310 disebut sebagai salah satu ponsel paling ringan pada zamannya. Kejayaan bisnis ponsel Nokia kemudian meredup, dengan sejumlah riset menyoroti budaya kerja yang mencekam dan kegagalan berinovasi.

Microsoft mengakuisisi divisi perangkat keras Nokia pada 2014 senilai 7,2 miliar dollar AS. Lisensi merek Nokia kemudian dibeli HMD Global pada 2016 dan masih digunakan untuk ponsel fitur serta ponsel 5G.

Samsung Memulai Usaha sebagai Pedagang Grosir

Samsung didirikan Lee Byung-Chull di Daegu, Korea Selatan, pada 1 Maret 1938. Nama Samsung berarti “tiga bintang” dalam bahasa Korea dan pada awalnya digunakan untuk usaha toko grosir.

Toko itu menjual mi kering, ikan kering, serta sayur-mayur kering. Usaha Samsung berkembang hingga Seoul pada 1947, sebelum Perang Korea dimulai pada 1950.

Setelah perang berakhir pada 1953, Samsung memperluas kegiatannya seiring pembangunan dan industrialisasi Korea Selatan. Bidang yang dimasuki mencakup bank komersial, tekstil, asuransi, ritel, dan industri kimia.

Samsung memasuki industri elektronik pada 1969 melalui divisi seperti Samsung Electronics dan Samsung Semiconductor & Telecommunications. Pada periode itu, perusahaan bekerja sama dengan Sanyo dari Jepang untuk menghasilkan televisi hitam-putih.

Ekspor Elektronik Membuka Jalan ke Ponsel

Ekspor produk elektronik rumah tangga sepanjang dekade 1970-an memperkuat posisi Samsung sebagai perusahaan besar di Korea Selatan. Fondasi tersebut menjadi jalan bagi Samsung untuk memasuki produksi telepon genggam.

Pada 1988, Samsung meluncurkan Samsung SH-100 sebagai ponsel komersial pertamanya. Perangkat ini juga dikenal sebagai ponsel pertama yang dibuat di Korea.

Menurut tekno.kompas.com, Samsung SH-100 masuk koleksi Samsung Innovation Museum. Samsung sejak 1988 telah menghasilkan sedikitnya 2.300 model ponsel, termasuk edisi terbatas bertema The Matrix Reloaded yang dijual 5.000 unit di Amerika Serikat pada 2003.

Sebagian koleksi ponsel Samsung dipajang di Smart Gallery, pabrik Samsung di Gumi, Korea Selatan. Perjalanan dari dagangan pangan menuju perangkat komunikasi memperlihatkan bagaimana dua perusahaan besar dapat membentuk identitas baru setelah melewati perubahan bisnis yang panjang.

Baca Juga