Persaingan mobil listrik di Indonesia terus bergerak cepat, tetapi Neta belum kembali merakit kendaraan di dalam negeri. Ketika merek-merek pesaing menambah model dan memperluas pasar, Neta masih menunggu keputusan Hozon Auto di China.
Perakitan Neta yang ditangani Handal Indonesia Motor telah ditunda sejak Juli 2025. Kelanjutan merek ini di pasar nasional bergantung pada proses restrukturisasi Hozon Auto yang belum memiliki kepastian penyelesaian.
Jarak dengan Pesaing Berpotensi Melebar
Pasar kendaraan listrik berbasis baterai kini dihuni lebih banyak pilihan dari berbagai produsen. BYD, GWM Ora, Geely, Chery, dan merek lain terus meningkatkan persaingan melalui model baru serta penawaran kendaraan yang lebih terjangkau.
Neta sendiri selama ini mengandalkan Neta V-II dan Neta X di Indonesia. Penundaan produksi membuat merek tersebut berisiko semakin tertinggal saat kompetitor memperkuat lini produk dan jangkauan penjualannya.
Catatan penjualan Neta juga menunjukkan tren penurunan sebelum aktivitas perakitan ditunda. Pada tahun berjalan, belum ada penjualan unit yang tercatat untuk merek tersebut.
| Periode | Penjualan | Status |
|---|---|---|
| 2024 | 570 unit | Penjualan tahunan |
| 2025 | 406 unit | Lebih rendah dari 2024 |
| Tahun berjalan | Belum ada penjualan | Produksi ditunda |
Penjualan Neta turun dari 570 unit pada 2024 menjadi 406 unit pada 2025. Angka tersebut menempatkan Neta pada posisi yang belum sekuat sejumlah merek mobil listrik asal China lainnya di Indonesia.
Restrukturisasi Jadi Titik Penentu
Handal Indonesia Motor menyatakan penundaan produksi Neta tidak berarti penghentian permanen. Perakitan dapat dimulai lagi apabila restrukturisasi prinsipal selesai dan kegiatan penjualan kembali berjalan.
Menurut ridertua.com, restrukturisasi Hozon Auto berkaitan dengan tekanan keuangan yang dihadapi perusahaan tersebut. Proses itu berdampak pada kegiatan Neta di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Hozon Auto sebelumnya pernah menyampaikan target penyelesaian restrukturisasi sekitar pertengahan tahun. Namun, belum ada pengumuman lanjutan mengenai perkembangan proses tersebut atau kepastian jadwal pemulihan produksi Neta.
Bukan Masalah Kapasitas Perakitan Lokal
Fasilitas Handal Indonesia Motor tetap menjalankan perakitan untuk merek China lain, termasuk Chery dan Jetour. Kehadiran merek tambahan tidak disebut menjadi hambatan bagi kegiatan produksi di fasilitas tersebut.
Fakta itu menunjukkan keputusan menghidupkan kembali perakitan Neta tidak terutama ditentukan oleh kesiapan pabrik di Indonesia. Arah bisnis Neta akan mengikuti langkah Hozon Auto dalam menyelesaikan restrukturisasi dan menentukan kelanjutan operasional mereknya.
Perhatian terhadap kendaraan elektrifikasi tetap tumbuh, termasuk pada segmen mobil plug-in hybrid atau PHEV. Meski begitu, perkembangan pasar tidak serta-merta memberi kepastian bagi Neta selama keputusan dari prinsipal belum tersedia.
Jika produksi kembali dibuka, Neta akan masuk ke pasar yang sudah jauh lebih kompetitif. Hingga akhir 2026, kelanjutan merek tersebut di Indonesia masih bergantung pada hasil restrukturisasi yang berlangsung di China.






