Pengemudi ojek online dapat menghadapi beban pengeluaran baru apabila harus mengganti motor kerja melalui skema tukar tambah. Dalam kondisi tersebut, konversi motor lama menjadi kendaraan listrik dinilai dapat memberi pilihan untuk mempertahankan kendaraan yang sudah dimiliki.
Pengamat transportasi Bebin Djuana menilai keputusan mengganti motor perlu dihitung terhadap dampaknya bagi pendapatan. Bagi pengguna yang mengandalkan motor setiap hari, biaya awal pembelian unit baru dapat menjadi pertimbangan besar.
Konversi tidak hanya untuk motor tua
Konversi diposisikan sebagai jalur transisi bagi pemilik motor berbahan bakar minyak yang belum ingin mengganti kendaraannya. Pilihan ini juga relevan bagi pemilik yang memiliki ikatan emosional dengan motor yang telah lama dipakai.
Motor berusia tua memang berpotensi menghadapi masalah ketersediaan suku cadang. Namun, persoalan tersebut tidak otomatis membuat setiap pemilik memilih membeli sepeda motor baru.
“Selama konsepnya jelas dan konsisten, saya sih pendapatnya begitu, karena kan tentunya ada yang punya motor dan sikapnya emosional terhadap motornya,” ujar Bebin kepada Kompas.com. Ia menilai opsi konversi perlu tetap tersedia untuk menjawab kebutuhan pemilik seperti itu.
Biaya awal harus dibuat lebih ringan
Manfaat utama yang diharapkan dari konversi adalah potensi biaya penggunaan per kilometer yang lebih rendah. Akan tetapi, manfaat itu tidak akan optimal jika biaya mengubah motor lama justru terasa mahal bagi pengguna.
Bebin menyoroti komponen konversi yang masih harus diimpor sebagai salah satu faktor biaya. Menurutnya, pemerintah perlu memberi dukungan agar komponen tersebut tidak dikenai biaya masuk.
“Kalau ingin konversi, terus belum apa-apa biayanya tinggi kan bukan meringankan, membebani namanya,” kata Bebin. Dukungan kebijakan dinilai penting agar konversi tidak hanya menjadi pilihan di atas kertas.
Molinas tetap melayani pembeli baru
Keberadaan Motor Listrik Nasional atau Molinas tidak dipandang sebagai pengganti program konversi. Molinas menyasar konsumen yang datang ke pasar untuk mencari kendaraan baru, sedangkan konversi melayani pemilik motor yang ingin mempertahankan unit lama.
| Pilihan | Pengguna yang Dilayani | Pertimbangan Utama |
|---|---|---|
| Konversi Motor Listrik | Pemilik motor lama dan pengguna yang ingin menekan biaya penggantian kendaraan | Motor tetap dipertahankan |
| Molinas | Konsumen yang membutuhkan motor baru | Kebutuhan kendaraan baru |
Bebin menilai pasar sepeda motor Indonesia yang besar tetap memberi peluang bagi pengembangan motor listrik baru. Karena itu, Molinas memiliki ruang pertumbuhan tanpa perlu menutup akses terhadap program konversi.
Molinas diluncurkan oleh Presiden RI Prabowo Subianto di Bekasi, Jawa Barat, pada Kamis, 13 Agustus 2026. Peluncuran tersebut menandai hadirnya pilihan motor listrik nasional bagi konsumen yang membutuhkan unit baru.
Kebijakan konsisten dibutuhkan
Pemisahan sasaran pengguna menjadi dasar agar dua program ini dapat dikembangkan bersamaan. Konversi memberi jalur bagi pemilik motor lama, sedangkan Molinas menjawab permintaan kendaraan roda dua baru.
Kejelasan dan konsistensi kebijakan diperlukan agar masyarakat dapat menentukan pilihan sesuai kemampuan dan kebutuhan masing-masing. Dengan demikian, percepatan elektrifikasi tidak hanya bertumpu pada satu jenis pengguna atau satu cara memiliki kendaraan listrik.






