Ledakan material saat mendekati Matahari membuat Komet 220P/McNaught sempat bersinar sekitar 8.000 kali lebih terang dari biasanya pada Juni. Setelah fase tersebut mereda, komet itu kembali memancarkan cahaya sekitar 600 kali lebih terang pada Agustus 2026.
Fase terang terbaru itu direkam dari Namibia pada 8 Agustus 2026 oleh Gerald Rhemann dan Michael Jäger. Hasilnya memperlihatkan pendar hijau yang jelas di tengah latar bintang-bintang pada langit malam.
Peristiwa Terang dalam Dua Tahap
Komet ini melewati perihelion pada Juni, yaitu posisi ketika orbitnya berada paling dekat dengan Matahari. Pada fase tersebut, perubahan pada material komet memicu pelepasan material dalam skala besar.
Peristiwa itu menghasilkan lonjakan cahaya jauh melampaui pendaran yang kemudian teramati pada Agustus. Kecerahan baru yang sekitar 600 kali lipat tetap cukup signifikan untuk membuat komet lebih memungkinkan didokumentasikan.
| Waktu | Kondisi Komet | Perubahan Kecerahan |
|---|---|---|
| Juni | Melewati perihelion dan mengalami ledakan material | Sekitar 8.000 kali dari normal |
| Agustus 2026 | Pendar hijau kembali terlihat | Sekitar 600 kali dari normal |
Rekaman dari Langit Gelap Namibia
Foto yang dihasilkan menempatkan 220P/McNaught sebagai objek bercahaya kuat di antara hamparan bintang. Kondisi langit gelap membantu memperlihatkan kontras antara warna hijau komet dan lingkungan langit malam di sekitarnya.
Menurut mediaindonesia.com, kedua astrofotografer memakai astrograph berukuran 12 inci bersama kamera ZWO ASI 6200 MM Pro. Kombinasi perangkat tersebut digunakan untuk merekam detail objek secara lebih mendalam.
Teleskop berdaya tinggi memiliki peran penting karena komet kerap terlalu jauh atau terlalu redup untuk pengamatan mata telanjang. Peningkatan aktivitas membuat struktur cahaya komet lebih mudah ditangkap instrumen dibandingkan saat berada dalam kondisi normal.
Pengunjung Berkala dari Orbit 5,5 Tahun
Komet 220P/McNaught ditemukan pertama kali oleh astronom Australia Robert H. McNaught. Objek ini membutuhkan sekitar 5,5 tahun untuk menyelesaikan satu kali revolusi mengelilingi Matahari.
Perjalanan periodiknya membawa komet melalui kondisi orbit yang dapat mengubah aktivitas materialnya. Ketika jaraknya lebih dekat dengan Matahari, perubahan tersebut dapat memicu peningkatan cahaya yang besar.
Dokumentasi Komet McNaught menunjukkan bahwa tampilan komet tidak selalu stabil dari waktu ke waktu. Objek yang sulit terlihat dapat menjadi jauh lebih menonjol ketika terjadi lonjakan aktivitas.
Jejak Material Komet di Dekat Bumi
Komet dapat meninggalkan debu dan batuan di sepanjang lintasan orbitnya. Jika Bumi melintasi jejak itu, partikel-partikelnya masuk ke atmosfer dan terbakar sehingga tampak sebagai meteor.
Hujan Meteor Perseid merupakan contoh yang dipicu oleh debu dari Komet Swift-Tuttle. Dalam kondisi langit bersih dan gelap, fenomena tahunan tersebut dapat menghadirkan hingga 100 meteor per jam.
Pendaran hijau dari Langit Namibia menjadi salah satu catatan visual saat 220P/McNaught memasuki fase aktivitas yang tidak biasa. Rekaman itu memperlihatkan dampak besar perihelion terhadap komet periodik yang mengitari Matahari secara berulang.






