Dua kematian gajah di Aceh menjelang Hari Gajah Sedunia memperlihatkan dua ancaman berbeda yang dihadapi satwa terancam kritis ini. Yuna, anak gajah betina di Saree, diduga kuat terserang virus EEHV, sementara penyebab kematian seekor gajah jantan di Aceh Tamiang masih diselidiki.
Kedua kejadian hanya berjarak dua hari, yakni 9 dan 11 Agustus 2026. Kabar tersebut muncul ketika jumlah gajah Sumatera di alam liar diperkirakan terus menurun.
Dua Peristiwa, Dua Kondisi Berbeda
| Peristiwa | Lokasi | Tanggal | Informasi Utama |
|---|---|---|---|
| Gajah jantan ditemukan mati | Kampung Kaloy, Aceh Tamiang | 9 Agustus 2026 | Penyebab kematian menunggu hasil nekropsi |
| Yuna mati | Pusat Latihan Gajah Saree | 11 Agustus 2026 | Diduga kuat terinfeksi EEHV |
Gajah jantan itu ditemukan pekerja perkebunan di jalan Afdeling B Blok 34, area perkebunan sawit PT MPLI. Lokasinya berada di Kampung Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu.
Bangkai gajah dilaporkan berada di antara tumpukan pohon sawit, di kawasan dengan akses jalan yang rusak. Pekerja kemudian menyampaikan laporan kepada kepolisian dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh.
Pemeriksaan awal tidak menemukan luka fisik pada bagian luar tubuh gajah. Kedua gadingnya juga masih utuh, sehingga penyebab kematian belum dapat disimpulkan dari temuan awal.
Pemeriksaan Lapangan Berjalan
Tim dokter hewan BKSDA Aceh melakukan bedah bangkai atau nekropsi di lokasi temuan. Kepala BKSDA Aceh Ujang Wisnu Barata menyatakan hasil pemeriksaan masih ditunggu.
“Tim melakukan bedah bangkai atau nekropsi di lapangan. Jadi, kami belum menerima hasilnya dan kami belum bisa memastikan penyebab kematiannya,” kata Ujang, dikutip Kompas.com dari Antara pada 10 Agustus 2026.
Berbeda dengan kasus di Aceh Tamiang, kondisi Yuna memburuk cepat setelah sebelumnya masih beraktivitas pada pagi hari. Anak gajah berusia di bawah tiga tahun itu mulai terlihat lemas sekitar pukul 16.00 WIB.
Mata dan wajah Yuna membengkak, sedangkan lidahnya membiru. Ia mati pada pukul 20.48 WIB pada 11 Agustus 2026.
Ancaman EEHV pada Anak Gajah
Yuna diduga kuat terinfeksi EEHV atau Elephant Endotheliotropic Herpesvirus. Virus tersebut dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah dan dikenal rentan menyerang anak gajah.
Kementerian Kehutanan dalam keterangan 12 Agustus 2026 menyebut kondisi Yuna “drop sangat cepat”. Kasus ini menegaskan pentingnya perhatian terhadap kesehatan anak gajah, terutama ketika perubahan kondisi dapat berlangsung dalam hitungan jam.
Habitat yang Kian Terpecah
Populasi Gajah Sumatera di alam liar diperkirakan berada di kisaran 900 sampai 1.350 individu. Data Kementerian Kehutanan mencatat sekitar 1.100 ekor tersisa per Juli 2026, turun dibandingkan estimasi 2.400 hingga 2.800 ekor pada 2007.
Setidaknya enam gajah dilaporkan mati sepanjang November 2025 hingga Juni 2026. Tekanan terhadap populasi bukan hanya berasal dari kematian, tetapi juga hilangnya serta terpecahnya habitat.
Pembangunan jalan, alih fungsi hutan untuk perkebunan dan pertambangan, serta perluasan permukiman mengurangi ruang jelajah satwa ini. Kondisi itu turut meningkatkan kemungkinan konflik antara manusia dan gajah di sekitar kawasan habitat.
Penanganan kasus kematian tetap diperlukan, tetapi perlindungan ruang hidup jangka panjang menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Keberadaan jalur jelajah yang aman menentukan peluang gajah Sumatera bertahan di alam liar.






