Kecamatan Cimerak menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak kekeringan terbesar di Kabupaten Pangandaran. Sebanyak 2.561 jiwa di kecamatan itu membutuhkan pasokan air bersih di tengah krisis yang telah berlangsung sejak Mei 2026.
Di seluruh Kabupaten Pangandaran, jumlah warga terdampak mencapai 7.973 jiwa atau 2.681 kepala keluarga hingga Rabu, 12 Agustus 2026. Dampak kekeringan tercatat meluas ke 22 desa yang berada di sembilan kecamatan.
Selain Cimerak, Kecamatan Kalipucang dan Parigi juga mencatat jumlah warga terdampak yang tinggi. Ketiga wilayah tersebut mencakup sebagian besar masyarakat yang membutuhkan penanganan pasokan air.
| Kecamatan | Warga Terdampak | Status Dampak |
|---|---|---|
| Cimerak | 2.561 jiwa | Terbesar |
| Kalipucang | 2.231 jiwa | Besar |
| Parigi | 1.708 jiwa | Besar |
Sembilan Kecamatan Mengalami Krisis
Krisis air bersih juga terjadi di Kecamatan Cijulang, Cigugur, Sidamulih, Pangandaran, Padaherang, dan Mangunjaya. Luasnya sebaran dampak membuat kebutuhan air pada tiap desa tidak selalu sama.
Pemerintah Kabupaten Pangandaran telah memberlakukan status tanggap darurat kekeringan selama 90 hari. Masa tersebut berjalan dari 3 Juli hingga 30 September 2026.
Dalam masa tanggap darurat, Kementerian Sosial menyalurkan satu unit truk tangki air, enam tandon, dan enam paket penjernih air. Bantuan tersebut dipakai untuk mempercepat pengiriman air sekaligus menyediakan penampungan di titik yang memerlukan bantuan.
Di Desa Limusgede, Kecamatan Cimerak, petugas menyalurkan air menggunakan truk tangki dan menempatkan tandon bagi masyarakat. Instalasi penjernih air juga dipasang agar air yang diterima warga dapat dimanfaatkan dengan aman.
Keberadaan tandon memberi ruang bagi warga untuk menyimpan air yang dikirim sebelum digunakan. Langkah ini menjadi penting ketika kebutuhan air harus dipenuhi melalui distribusi bertahap.
Distribusi Mengikuti Kondisi Lapangan
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyatakan bantuan pemenuhan air bersih terus didistribusikan ke wilayah terdampak. Menurut dia, langkah itu dilakukan agar kebutuhan dasar warga tetap terjaga selama kekeringan.
“Distribusi air akan terus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan warga. Kami juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan petugas di lapangan untuk melihat titik-titik yang perlu segera ditangani,” ujar Gus Ipul.
Verifikasi dan validasi warga terdampak serta kebutuhan mendesak terus dilakukan pada setiap wilayah. Beritasatu melaporkan proses itu melibatkan Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Kemensos, Dinas Sosial PMD Kabupaten Pangandaran, dan Taruna Siaga Bencana.
Penanganan kekeringan Pangandaran juga dikerjakan bersama BPBD, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, masyarakat, dan relawan. Hingga 12 Agustus 2026, truk tangki Kemensos masih menyalurkan air bersih, termasuk ke Kecamatan Cimerak.






