Dari Keju Berlarva sampai Hiu Fermentasi, 7 Kuliner Ini Tak Biasa

Keju dengan larva lalat hidup dan daging hiu yang difermentasi menunjukkan bahwa batas selera sangat berbeda di tiap negara. Casu marzu dari Sardinia serta hakarl dari Islandia menjadi dua contoh makanan tradisional dengan karakter yang dapat mengejutkan orang yang baru mengenalnya.

Daftar tujuh hidangan ini juga mencakup ikan buntal beracun, ikan haring fermentasi, dan olahan darah hewan. Meski tampak tidak lazim bagi sebagian orang, masing-masing memiliki cara pengolahan serta konteks budaya di tempat asalnya.

Ragam kuliner dengan karakter paling menonjol

KulinerAsalKarakter
Blood puddingInggris dan SwediaDarah hewan, lemak, gandum atau oat
Kaki kodokPrancisLembut dengan rasa relatif ringan
Daging ular derikAmerika SerikatDigoreng setelah dilapisi tepung
HakarlIslandiaHiu Greenland yang difermentasi dan dikeringkan
Casu marzuItaliaKeju matang dengan larva hidup
SurstrommingSwediaHaring Laut Baltik fermentasi dalam kaleng
FuguJepangIkan buntal yang membutuhkan penanganan khusus

1. Blood pudding dari Inggris dan Swedia

Blood pudding atau black pudding merupakan olahan darah hewan yang bentuknya menyerupai sosis. Bahan dasarnya dicampur dengan lemak, gandum atau oat, dan rempah-rempah sebelum dimasak.

Di Swedia, sajian ini disebut blodpudding dan dikenal lewat warna gelap serta rasa umaminya. Bacon dan selai lingonberry manis-asam dapat menjadi pelengkapnya.

2. Kaki kodok dari Prancis

Kaki kodok kerap diolah dengan mentega, bawang putih, dan rempah-rempah dalam masakan Prancis. Teksturnya lembut dengan aroma yang harum setelah dimasak.

Rasanya sering dianggap mendekati ayam dan ikan berdaging putih. Di Indonesia, bahan serupa dikenal lewat swikee, terutama pada tradisi kuliner Tionghoa di sejumlah daerah Jawa.

3. Daging ular derik dari Amerika Serikat

Daging ular derik ditemukan sebagai pilihan makanan di wilayah selatan dan barat daya Amerika Serikat. Bagian dagingnya dibersihkan, dipotong, kemudian dibalut tepung sebelum digoreng.

Lapisan luar yang renyah dapat berpadu dengan bagian dalam yang tetap lembut bila dimasak secara tepat. Cita rasanya disebut tidak dominan dan sering dibandingkan dengan ayam atau ikan putih.

4. Hakarl dari Islandia

Hakarl dibuat dari daging hiu Greenland melalui tahapan pengolahan dan fermentasi. Tahapan itu berfungsi menghilangkan senyawa berbahaya yang terdapat secara alami pada daging hiu tersebut.

Setelah proses fermentasi, daging dikeringkan dan menimbulkan aroma yang amat kuat. Masyarakat Islandia memandangnya sebagai warisan makanan yang telah dijaga selama berabad-abad.

5. Casu marzu dari Italia

Casu marzu adalah keju tradisional dari Sardinia yang terkenal karena keberadaan larva lalat hidup di dalamnya. Larva berperan pada pematangan keju dan menghasilkan tekstur sangat lembut serta rasa yang kuat dan pedas.

Hidangan ini juga menjadi perhatian dalam isu regulasi pangan. Uni Eropa melarang produksi dan pemasarannya sejak 2002 karena produk tersebut dinilai tidak memenuhi ketentuan kesehatan.

6. Surstromming dari Swedia

Surstromming merupakan ikan haring Laut Baltik yang difermentasi di dalam kaleng. Bau tajam yang keluar saat kaleng dibuka menjadi ciri paling dikenal dari makanan ini.

Di Swedia, surstromming lazim dimakan bersama roti tipis, kentang, dan bawang. Rasa hasil fermentasi ikan itu justru dicari oleh para penggemarnya.

7. Fugu dari Jepang

Fugu berbahan ikan buntal yang dapat mengandung tetrodotoksin. Racun tersebut dapat berakibat fatal jika tidak dipisahkan secara benar saat proses pengolahan.

Ikan ini dapat hadir sebagai sashimi atau masakan berkuah dengan rasa ringan. Pengolahannya diatur ketat dan membutuhkan keahlian khusus, sehingga ketelitian menjadi bagian penting dari daya tariknya.

Baca Juga