Jangan Potong Antrean ke Puncak Lewat Lawan Arah, Risiko Besarnya Tak Sebanding

Mengambil jalur lawan arah untuk memotong antrean menuju Puncak dapat menciptakan risiko besar di tengah arus padat. Keinginan memangkas waktu tempuh tidak sebanding dengan bahaya yang dapat muncul bagi pengendara maupun pengguna jalan lain.

Jalur yang dipakai kendaraan dari arah berlawanan tetap harus dijaga agar arus lalu lintas berjalan aman. Saat kendaraan menumpuk, satu manuver keluar jalur dapat memperumit situasi bagi banyak pihak.

Pengendara motor juga perlu menghindari kebiasaan memaksa kendaraan masuk ke celah sempit. Ruang gerak yang terbatas membuat pengendara sulit memperkirakan perubahan posisi mobil atau motor di sekitarnya.

Perpindahan jalur secara mendadak pun bukan solusi untuk keluar dari kemacetan. Tindakan itu dapat mengganggu kendaraan lain yang sedang bergerak perlahan dalam antrean.

Risiko di Tengah Antrean Padat

Kondisi Lalu LintasManuver yang Perlu DihindariDampak
Kendaraan berderet rapatMasuk ke celah sempitRuang antisipasi menjadi terbatas
Arus berjalan perlahanPindah jalur tiba-tibaMengganggu kendaraan di sekitar
Antrean panjangMenggunakan jalur lawan arahBerisiko bagi semua pengguna jalan

Head of Safety Riding Promotion Wahana, Agus Sani, menilai sikap terburu-buru sering menjadi awal keputusan berisiko di jalan. Pengendara sebaiknya mengikuti arus yang berlaku meski kendaraan hanya bergerak perlahan.

Menurut Agus, kesiapan menghadapi macet perlu dibangun sebelum perjalanan dimulai. Pengendara tidak perlu memaksakan diri untuk segera tiba ketika kondisi jalan memang sedang padat.

“Kalau long weekend, terutama ke daerah seperti Puncak, dari awal kita harus siap dengan kondisi macet, jadi jangan terburu-buru dan tetap sabar mengikuti arus lalu lintas,” ujar Agus. Pesan itu relevan bagi pengendara sepeda motor yang kerap melihat celah sebagai jalan pintas.

Jaga Jarak dan Kendalikan Emosi

Jarak aman dengan kendaraan di depan tetap perlu dipertahankan walaupun kecepatan kendaraan rendah. Ruang tersebut membantu pengendara merespons apabila kendaraan di depan berhenti atau bergerak secara mendadak.

Emosi juga perlu dijaga ketika waktu perjalanan terasa jauh lebih lama dari perkiraan. Kekesalan akibat kemacetan tidak boleh menjadi alasan untuk melanggar arus atau melakukan manuver berbahaya.

Pengendara perlu berhenti apabila tubuh mulai lelah atau perhatian tidak lagi penuh. Agus menyarankan waktu berkendara motor maksimal sekitar dua hingga 2,5 jam sebelum mengambil waktu istirahat.

Jeda tersebut dapat dimanfaatkan untuk meregangkan otot dan memulihkan pikiran. Beristirahat lebih awal lebih baik daripada menunggu kondisi fisik benar-benar menurun.

Kepadatan Diperkirakan Terjadi di Sejumlah Titik

Kawasan Jalur Puncak di Bogor menjadi salah satu tujuan wisata favorit warga Jabodetabek saat Long Weekend. Kepadatan dapat terasa di titik rawan seperti kawasan pasar dan pertigaan menuju lokasi wisata.

Libur Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada Senin, 17 Agustus 2026, berpotensi meningkatkan jumlah kendaraan roda dua dan roda empat menuju kawasan tersebut. Pengendara perlu menyesuaikan rencana perjalanan dengan kemungkinan waktu tempuh yang lebih panjang.

Agus menegaskan tujuan berkendara bukanlah menjadi yang paling cepat sampai. Menjaga Keselamatan Berkendara sejak berangkat hingga tiba merupakan hal yang harus ditempatkan sebagai prioritas utama.

Baca Juga