Jambore Nasional ke-XII menjadi ruang pertemuan bagi ribuan Pramuka dari berbagai provinsi, termasuk 1.488 anggota kontingen Jawa Tengah. Bagi kontingen tersebut, kegiatan di Bumi Perkemahan Cibubur tidak hanya dimaknai sebagai agenda perkemahan, melainkan pembinaan karakter dan kemampuan menghadapi kehidupan.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta para peserta menggunakan pengalaman selama jambore sebagai modal saat kembali ke daerah masing-masing. Ia menekankan bahwa Pramuka Penggalang perlu tumbuh menjadi pribadi mandiri, terampil, kreatif, dan siap memimpin.
“Adik-adik datang ke sini, dicetak untuk menjadi pemimpin saat pulang ke Jawa Tengah dan kabupaten/kota masing-masing,” ujar Luthfi. Menurut dia, kepemimpinan harus dimulai dari kemampuan mengatur diri sendiri dan mengambil tanggung jawab di lingkungan sekitar.
Dua Bekal dalam Pembinaan Pramuka
Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Tengah Slamet Budi Prayitno mengatakan pembinaan peserta tidak hanya bertumpu pada keterampilan teknis. Program tersebut menempatkan scouting skill dan life skill sebagai dua unsur penting pembentukan generasi muda.
Scouting skill ditujukan untuk memperkuat kemampuan sosial, keterampilan, daya tahan, dan karakter peserta. Sementara life skill diarahkan untuk membangun cara berpikir yang cerdas, kreatif, serta inovatif.
Budi menyebut pendidikan kepramukaan di Jawa Tengah juga memuat kecintaan pada tanah air dan wawasan kebangsaan. Ia menilai peserta Pramuka Penggalang saat ini akan memiliki peran penting pada masa depan.
“Pemimpin itu tidak harus jadi pejabat publik atau negara, tapi bisa memimpin diri sendiri, keluarga, dan masyarakat di sekitarnya,” kata Budi. Penekanan itu memperluas makna kepemimpinan sebagai tanggung jawab yang dapat dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Persiapan Kontingen Jawa Tengah
Menurut Budi, kontingen Jawa Tengah telah menjalani persiapan serta pelatihan selama tiga bulan sebelum berangkat. Rombongan tersebut berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah dengan komposisi peserta dan pendamping yang beragam.
| Unsur Kontingen | Jumlah |
|---|---|
| Pramuka Penggalang tingkat SMP | 1.208 orang |
| Pramuka Berkebutuhan Khusus | 24 orang |
| Pimpinan Kontingen Cabang | 68 orang |
| Pembina Pendamping | 175 orang |
| Pimpinan Kontingen Daerah | 12 orang |
| Dokter kontingen | 1 orang |
Kehadiran peserta Pramuka Berkebutuhan Khusus menjadi bagian dari kontingen Jawa Tengah dalam kegiatan nasional tersebut. Luthfi juga menyapa perwakilan mereka ketika mengunjungi area kontingen.
Jambore Nasional ke-XII berlangsung pada 13-20 Agustus 2026 di Cibubur, Jakarta Timur. Luthfi mendatangi kontingen pada Jumat malam, 14 Agustus 2026, sebagai Gubernur Jawa Tengah dan Ketua Majelis Pembimbing Daerah Gerakan Pramuka Jawa Tengah.
Peran sebagai Duta Daerah
Selain membawa pulang kemampuan baru, peserta diminta mengambil peran sebagai duta daerah selama berada di jambore. Luthfi mengarahkan mereka untuk mengenalkan Jawa Tengah beserta potensi kabupaten dan kota asal kepada kontingen lain.
“Anda Pramuka Penggalang yang merupakan wakil atau duta-duta Provinsi Jawa Tengah. Ceritakan tentang Jawa Tengah, ceritakan kabupaten/kota, ceritakan daerah asal,” tegas Luthfi.
Ia juga meminta peserta memperlihatkan nilai kepramukaan melalui perilaku, tindakan, dan tutur kata. Sikap tersebut dipandang sebagai bagian dari latihan menghadapi persoalan, baik secara mandiri maupun melalui kerja kelompok.
Dalam kesempatan itu, Luthfi berdialog dengan sejumlah peserta tentang daerah asal dan potensi unggulan wilayah mereka. Ia melayani foto bersama serta memberikan tanda tangan kepada peserta yang hadir.
Alifah dan Ravi, perwakilan Pramuka Penggalang Jawa Tengah, mengaku bangga mewakili daerah dalam jambore lima tahunan itu. Mereka menyatakan pesan yang disampaikan Luthfi memberi dorongan untuk mempersiapkan diri sebagai calon pemimpin masa depan.






