Dari QRIS sampai CN235, 4 Inovasi Indonesia yang Sudah Menjangkau Negara Lain

Wisatawan Indonesia kini dapat memakai aplikasi pembayaran domestik di enam negara mitra melalui QRIS Antarnegara. Konektivitas pembayaran ini menjadi salah satu contoh inovasi Indonesia yang telah digunakan dalam aktivitas lintas batas.

Namun, jangkauan teknologi Indonesia tidak hanya terlihat dalam transaksi digital. Ada pula sistem peringatan tsunami untuk 28 negara, pesawat yang beroperasi di sejumlah kawasan, serta teknik konstruksi yang dipakai di Asia Tenggara.

InovasiFungsi utamaPenggunaan di luar Indonesia
QRISPembayaran melalui kode QRThailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, China
InaTEWSPeringatan dini tsunamiInformasi bagi 28 negara
CN235Transportasi dan patroli maritimSejumlah negara di Asia, Timur Tengah, Afrika
SosrobahuPembangunan jalan layangFilipina, Thailand, Malaysia, Singapura

1. QRIS

Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS dikembangkan oleh Bank Indonesia bersama industri sistem pembayaran. Sistem ini dirancang untuk memudahkan sekaligus menstandardisasi transaksi dengan kode QR di Indonesia.

Dalam skema QRIS Antarnegara, pengguna dari Indonesia dapat membayar di negara mitra melalui aplikasi pembayaran domestik. Pengguna dari negara mitra juga dapat bertransaksi di Indonesia menggunakan sistem yang telah terhubung.

Bank Indonesia mencatat enam negara yang telah masuk konektivitas QRIS Antarnegara, yakni Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan China. Interoperabilitas tersebut membuat transaksi QR dapat dilakukan tanpa ketergantungan pada satu jaringan pembayaran yang sama.

2. InaTEWS

Dalam urusan keselamatan, Indonesia Tsunami Early Warning System atau InaTEWS menjadi bagian penting dari mitigasi tsunami nasional. Sistem ini dioperasikan BMKG untuk menyediakan informasi cepat setelah terjadinya gempa.

BMKG menyebut parameter gempa dapat dirilis dalam sekitar 30 hingga 60 detik. Peringatan dini tsunami kemudian dapat dikeluarkan dalam waktu kurang dari tiga menit.

BMKG berperan sebagai penyedia layanan tsunami untuk kawasan Samudra Hindia bersama Australia dan India. Melalui kerja sama regional, informasi peringatan dini dari sistem ini disediakan bagi 28 negara.

3. CN235

CN235 memperlihatkan kiprah Indonesia di sektor penerbangan melalui pesawat multiguna untuk transportasi militer hingga patroli maritim. Pesawat tersebut dikembangkan bersama oleh IPTN, yang kini menjadi PT Dirgantara Indonesia, dan CASA dari Spanyol.

Untuk pengembangannya, kedua perusahaan membentuk Aircraft Technology atau Airtech pada 17 Oktober 1979. Proses pengembangan bersama dimulai pada 1980.

Dua prototipe CN235 terbang perdana pada 1983. Prototipe CASA, Elena, terbang pada 11 November, sedangkan Tetuko milik IPTN terbang pada Desember di tahun yang sama.

Produksi serial dimulai pada 1986, dengan PTDI mengembangkan varian 110 dan 220 serta CASA mengembangkan versi 200 dan 300. PTDI kini menjadi satu-satunya produsen CN235 dan mencatat pengoperasian varian 220 di sembilan negara.

Negara tersebut meliputi Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, Burkina Faso, Pakistan, Senegal, dan Nepal. Sebaran ini mencakup pasar di Asia, Timur Tengah, serta Afrika.

4. Sosrobahu

Sosrobahu adalah sebutan populer untuk Landasan Putar Bebas Hambatan atau LPBH, temuan insinyur Indonesia Tjokorda Raka Sukawati. Metode ini memungkinkan pier head jalan layang dikerjakan tanpa terlalu mengganggu arus lalu lintas di bawahnya.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mencatat teknologi tersebut juga diterapkan di Filipina, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Di Filipina, Sosrobahu digunakan dalam pembangunan salah satu jalan layang panjang di negara itu.

Penggunaan keempat inovasi ini menunjukkan perbedaan kebutuhan yang dapat dijawab oleh teknologi Indonesia. Mulai dari pembayaran wisatawan hingga penyampaian informasi tsunami, pemanfaatannya telah menjangkau publik dan institusi di berbagai negara.

Baca Juga