Harga melon Jepang yang dilaporkan dapat melampaui 30.000 yen menjadi salah satu alasan mengapa komentar mengenai hadiah itu memicu reaksi keras. Bagi sebagian publik Jepang, buah tersebut bukan sekadar hadiah biasa, melainkan bagian dari budaya yang perlu diperlakukan dengan hormat.
Kritik kemudian mengarah kepada Perdana Menteri Australia Anthony Albanese setelah ia membahas hadiah beberapa melon dari Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. Pemerintah Jepang akhirnya menyampaikan respons resmi dengan menegaskan hubungan kedua pemimpin tetap baik.
Tokyo menyatakan pada Rabu, 12 Agustus 2026, bahwa pihaknya telah mengetahui pemberitaan mengenai komentar tersebut. Pemerintah Jepang mengatakan Australia telah memberi penjelasan bahwa Albanese tidak menyampaikan komentar seperti yang dilaporkan.
Dalam pernyataan yang dikutip France24, pemerintah Jepang menyebut, “Kami telah diinformasikan oleh pihak Australia bahwa Perdana Menteri Albanese tidak menyampaikan komentar seperti yang telah dilaporkan.” Tokyo tidak memperpanjang perdebatan tersebut dan justru menekankan hubungan diplomatik yang positif.
Buah Mahal dan Reaksi di Ruang Digital
Sejumlah pengguna media sosial Jepang memandang pembicaraan soal melon itu sebagai tindakan yang tidak menghormati Takaichi. Kekecewaan mereka juga tertuju pada kesan meremehkan hadiah khas Jepang yang bernilai tinggi.
Seorang pengguna X menulis bahwa dirinya bukan pendukung Partai Liberal Demokrat ataupun pembela pemerintah saat ini, tetapi tetap menilai percakapan itu mengerikan dan tidak menghormati perdana menteri Jepang. Pengguna lain menilai perlakuan kasar terhadap Takaichi seolah dianggap wajar.
Komentar lain menegaskan keberatan terhadap penyamaan buah dari Australia dengan buah dari Jepang. “Jangan berani-beraninya mengira buah-buahan Australia dan buah-buahan kita sama. Ketidaktahuan itu menyedihkan,” tulis salah satu pengguna.
Nilai ekonomi buah tersebut memperkuat kepekaan publik atas perbincangan yang awalnya berlangsung santai. Melon yang dibicarakan dilaporkan merupakan varietas yang dapat dihargai lebih dari 30.000 yen.
Berawal dari Pertanyaan tentang Hadiah Terburuk
Albanese membicarakan hadiah itu saat ditanya mengenai hadiah diplomatik “terburuk” yang pernah ia terima. Hadiah tersebut diterimanya ketika Takaichi melakukan kunjungan ke Australia pada Mei.
Dalam percakapan itu, Albanese menjelaskan bahwa ia menerima beberapa melon dan mengangkat kedua tangan di samping dadanya. Pembawa acara juga menanyakan apakah buah mahal itu dibawa melalui bea cukai Australia.
Nikki Osborne, pembawa acara siniar yang dikenal sering melontarkan pernyataan provokatif, lalu membuat komentar yang merujuk pada Pamela Anderson. Rujukan kepada aktris Amerika Serikat dan bintang Baywatch itu ikut memperbesar perhatian terhadap percakapan tersebut.
Kompas.com melaporkan Albanese kemudian mengklarifikasi bahwa buah itu ternyata cukup enak. Klarifikasi tersebut belum mampu meredakan kritik mengenai cara hadiah dari Jepang dibicarakan.
Oposisi Australia Menuntut Permintaan Maaf
Perdebatan tidak hanya berlangsung di Jepang karena kubu oposisi Australia juga menyoroti persoalan itu. Pemimpin oposisi menyerukan agar Albanese menyampaikan permintaan maaf.
Ketika ditanya di parlemen apakah ia akan meminta maaf, Albanese menolak pernyataan yang terdapat dalam pertanyaan tersebut. Respons itu membuat isu hadiah melon tetap menjadi bahan perdebatan politik di Australia.
Di tengah kritik tersebut, Jepang menonjolkan jamuan makan malam yang digelar Albanese saat kunjungan Takaichi pada Mei. Tokyo menyebut pertemuan santai itu telah membantu membangun kepercayaan pribadi antara kedua pemimpin.
Pernyataan resmi Jepang memperlihatkan upaya memisahkan reaksi publik dari hubungan antarnegara. Namun, polemik ini juga menunjukkan bahwa benda sederhana dalam diplomasi dapat menjadi isu sensitif ketika bersinggungan dengan penghormatan budaya.






