Di Tengah Banjir Tren Kecantikan, Gen Alpha Memeriksa Klaim sebelum Membeli

Derasnya promosi produk kecantikan di media sosial tidak selalu membuat Gen Alpha langsung membeli produk yang ramai dibicarakan. Konsumen muda ini mulai memeriksa kandungan, membaca ulasan, dan membandingkan klaim sebelum mengambil keputusan.

Sikap tersebut menjadi semakin relevan di Indonesia setelah BPOM menemukan lebih dari 2,1 juta kosmetik tidak memenuhi ketentuan dalam intensifikasi pengawasan 2026. Nilai keekonomian dari temuan itu mencapai sekitar Rp35,8 miliar.

Promosi Cepat, Pemeriksaan Tetap Diperlukan

Produk kecantikan kini dapat muncul dalam hitungan detik melalui video pendek, unggahan pengguna, dan konten kreator. Visual produk yang unik atau kemasan yang menarik dapat memicu perbincangan, tetapi perhatian awal tidak selalu berujung pada pembelian.

Di China, proses mengenal produk sering terjadi ketika anak-anak dan remaja menggulir layar, bukan saat melakukan pencarian khusus. Pendiri perusahaan konsultan China Chozan, Ashley Dudarenok, menggambarkan kebiasaan itu dengan pernyataan, “Mereka tidak mencari, mereka menggulir.”

Setelah menemukan produk, konsumen muda cenderung mencari pembanding dari sejumlah arah. Mereka memperhatikan komentar, pengalaman pembeli, kandungan, rekomendasi kreator, hingga saran dari AI.

Konten yang menunjukkan kegagalan suatu produk juga dapat memiliki nilai tersendiri bagi calon pembeli. Pendiri firma konsultasi butik C Cultural, Lisa Zheng, menilai ulasan pengguna biasa semakin berpengaruh, termasuk ketika isinya tidak selalu positif.

Pengalaman Pengguna Dinilai Lebih Autentik

Tampilan promosi yang terlalu sempurna tidak selalu cukup untuk membangun kepercayaan Gen Alpha. Pengalaman nyata dari sesama pengguna dapat menjadi alat untuk menilai apakah klaim suatu produk sesuai dengan kondisi penggunaan sehari-hari.

Kecenderungan ini membuat kreator bukan lagi satu-satunya penentu keyakinan terhadap produk kecantikan. Ulasan negatif atau pengalaman yang tidak sesuai harapan dapat terasa lebih kredibel karena menunjukkan sisi yang tidak selalu muncul dalam materi promosi.

Teknologi AI juga ikut dipakai dalam tahap pemeriksaan tersebut, terutama untuk membandingkan pilihan yang tersedia. Survei terhadap 1.200 konsumen kecantikan China generasi pasca-2000 mencatat lebih dari 76 persen responden pernah menggunakan AI untuk kebutuhan kecantikan atau perawatan kulit.

Pemanfaatan AIPersentase Responden
Menilai kecocokan kandungan42,79 persen
Membandingkan produk atau merek39,88 persen
Mempertimbangkan pembelian37,23 persen

AI Bukan Pengganti Penilaian Manusia

Meski banyak digunakan, AI belum diperlakukan sebagai sumber kebenaran tunggal. Sebanyak 35,07 persen responden masih mempertanyakan ketepatan rekomendasi AI, sementara 29,44 persen lebih mempercayai autentisitas ulasan manusia.

Ketika saran teknologi tidak sejalan dengan pendapat kreator, pengguna muda biasanya menggabungkan beberapa sumber informasi. AI kemudian berfungsi sebagai alat verifikasi tambahan, bukan pengganti pengalaman manusia.

Direktur konsultasi pola pikir WGSN China, Cece Zhu, mengatakan paparan media sosial mempercepat pengenalan anak terhadap dunia kecantikan. Namun, anak-anak dan remaja tetap membutuhkan produk serta pengalaman yang sesuai dengan usia mereka.

“Para Alpha adalah konsumen yang sangat reaktif dan berorientasi pada status yang ‘berburu tren’ terbaru,” kata Zhu. Dalam situasi itu, kemampuan menilai klaim dan memeriksa keamanan produk menjadi perlindungan penting sebelum mencoba kosmetik yang sedang ramai.

Baca Juga