Menjelang langit gelap total, pengamat gerhana kadang melihat garis samar menyerupai bayangan ular bergerak cepat di tanah. Pola terang dan gelap itu dikenal sebagai shadow bands atau pita bayangan, fenomena yang masih menyisakan pertanyaan ilmiah.
Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 dapat menghadirkan peluang baru untuk mencari pola tersebut. Peristiwa ini penting karena pengamatan sebelumnya menghasilkan data yang berbeda, termasuk soal sinyal sekitar 4,5 Hz.
Fenomena yang Hanya Hadir pada Waktu Singkat
Pita bayangan biasanya muncul sesaat sebelum totalitas dan segera setelah totalitas berakhir. Pada fase ini, piringan Matahari hampir tertutup Bulan dan hanya memancarkan cahaya berbentuk sabit yang sangat sempit.
Garis-garis bergelombang itu lebih mudah terlihat di atas permukaan rata, halus, dan terang. Tanah berwarna pucat atau dinding dapat membantu pengamat membedakan pola yang sering kali terlalu samar bagi kamera.
NASA menggambarkan pita bayangan sebagai garis tipis bergelombang yang melintas di permukaan polos sebelum dan sesudah totalitas. Cahaya yang kian terbatas pada fase sabit membuat variasi kecil dalam lintasannya menjadi lebih tampak.
Teori Turbulensi Masih Menjadi Dasar
Penjelasan umum menyatakan bahwa turbulensi atmosfer membelokkan cahaya Matahari secara tidak teratur. Pembelokan ini dapat menciptakan perubahan terang-gelap yang terlihat di tanah ketika sumber cahaya menyempit.
Gejalanya memiliki kemiripan dengan kelap-kelip bintang dari permukaan Bumi. Ketika Matahari masih tampak sebagai piringan besar dan sangat terang, gangguan kecil pada cahayanya umumnya sulit diamati.
Namun, tidak setiap hasil pengamatan cocok sepenuhnya dengan penjelasan yang hanya berpusat pada turbulensi dekat permukaan. Perbedaan data 2017 dan 2024 menjadi alasan para peneliti terus menguji fenomena ini.
Data dari Dua Gerhana Total
David Turnshek, profesor fisika dan astronomi University of Pittsburgh, telah menaruh perhatian pada pita bayangan sejak menyaksikannya pada Gerhana Matahari Total 1970. Pada gerhana 21 Agustus 2017, timnya menguji teori turbulensi dengan menempatkan alat di dua ketinggian berbeda.
Photodiode dipasang di tanah dan pada balon di ketinggian sekitar 25 kilometer. Hasil yang dipublikasikan dalam Journal of Atmospheric and Solar-Terrestrial Physics menunjukkan sinyal sekitar 4,5 Hz pada kedua lokasi.
| Tanggal Gerhana | Lokasi atau Alat | Temuan |
|---|---|---|
| 21 Agustus 2017 | Sensor darat dan balon sekitar 25 km | Sinyal sekitar 4,5 Hz tercatat di keduanya |
| 8 April 2024 | Texas dan pengukuran pesawat di Vermont | Sinyal 4,5 Hz tidak terdeteksi |
Dalam pengamatan 2024 di Concan, Texas, tim menggunakan dua balon ketinggian tinggi, 31 balon cuaca, serta sensor pesawat. Awan mengganggu pengamatan dari darat di Texas, sedangkan instrumen pesawat di Vermont juga tidak merekam sinyal serupa.
Perbedaan tersebut menunjukkan pita bayangan mungkin tidak selalu muncul saat gerhana total. Bila terlihat, kondisi turbulensi atmosfer bisa menjadi faktor yang lebih menentukan daripada perkiraan sebelumnya.
Kemungkinan Peran Tepi Bulan
Temuan pada 2017 turut memunculkan kemungkinan adanya peran difraksi dan interferensi cahaya. Dalam skenario ini, tepi Bulan bertindak sebagai penghalang tajam yang mengubah perilaku gelombang cahaya Matahari.
Gelombang cahaya yang membelok di sekitar tepi penghalang dapat saling berinteraksi dan membentuk pola terang-gelap. Turnshek menyebut tepi Bulan yang melengkung dapat berperan seperti “semacam tepi pisau”.
Jalur totalitas 2026 akan melintasi Islandia, Greenland, Rusia bagian utara, Spanyol, dan Portugal. Turnshek berencana berada di León, Spanyol, sambil membawa sensor elektronik untuk kembali mencari jejak pita bayangan.
Pengamatan langsung terhadap Matahari sebelum serta sesudah totalitas harus memakai pelindung mata khusus. Langit cerah dan pandangan terbuka juga diperlukan karena pola ini muncul singkat serta sangat halus.






