Ekspansi Robotaxi China-AS Makin Lebar, 2.000 Armada Menekan Masa Depan Driver

Rencana Uber dan Pony.ai mengoperasikan 2.000 robotaxi di Eropa serta Timur Tengah menandai babak baru dalam persaingan transportasi tanpa pengemudi. Skala armada tersebut dapat mempercepat adopsi layanan otomatis dan menempatkan profesi pengemudi ride-hailing pada tekanan yang lebih besar.

Robotaxi menawarkan potensi efisiensi dan produktivitas bagi industri transportasi. Namun, layanan ini juga memicu kekhawatiran karena kendaraan otonom dapat mengambil sebagian peran yang selama ini dijalankan pengemudi manusia.

Langkah Uber dan Pony.ai menarik perhatian karena mempertemukan perusahaan asal Amerika Serikat dan China dalam kemitraan lintas negara. Kerja sama itu berlangsung ketika kedua negara tetap terlibat persaingan geopolitik di berbagai sektor teknologi.

Uber berperan sebagai platform komersialisasi layanan, sedangkan Pony.ai membawa teknologi kendaraan otonomnya. Kombinasi tersebut memungkinkan kedua perusahaan mengejar pasar internasional tanpa membatasi ambisi mereka pada wilayah asal masing-masing.

Data Operasional Diburu Lewat Armada Besar

Armada dalam jumlah besar memberi perusahaan lebih banyak data mengenai kinerja kendaraan dan kondisi operasional. Data itu penting untuk mendukung pembuktian standar keselamatan kepada regulator di pasar yang berbeda.

Pengumpulan data juga dapat membantu operator mengurangi biaya layanan dalam jangka panjang. Karena itu, jumlah kendaraan kini menjadi salah satu pembeda utama antara pengembang teknologi otonom dan platform transportasi digital.

Uber dan Pony.ai telah mengoperasikan layanan robotaxi komersial pertama mereka di Eropa, tepatnya di Zagreb, Kroasia, pada akhir Maret. Pada Jumat (14/8), keduanya mengumumkan rencana penambahan layanan ke empat kota besar lain di Eropa.

Kedua perusahaan belum mengungkap kota yang akan dipilih maupun waktu peluncuran layanan. Rencana tersebut juga mencakup perluasan ke Timur Tengah, meski rincian lokasi operasional belum diumumkan.

PerusahaanPosisi Saat IniKawasan yang Disebut
Uber dan Pony.aiMenyiapkan 2.000 robotaxiEropa dan Timur Tengah
WaymoMemiliki sekitar 5.000 kendaraanAS, London, Uni Eropa, Tokyo
Uber dan WeRideMenjalankan uji coba dan layananMadrid, Abu Dhabi, Dubai

Persaingan Tidak Lagi Terpusat di Dua Negara

Waymo, anak usaha Alphabet, masih menjadi pemimpin robotaxi global dengan sekitar 5.000 kendaraan yang sebagian besar berada di Amerika Serikat. Perusahaan itu juga mulai menguji layanan di London dan dilaporkan membentuk entitas baru di empat negara anggota Uni Eropa.

Tokyo menjadi salah satu tujuan ekspansi Waymo di luar Amerika Serikat. Langkah ini menunjukkan pasar robotaxi berkembang menjadi kompetisi lintas kawasan, bukan lagi pertarungan lokal antara perusahaan Amerika Serikat dan China.

Sejumlah perusahaan China turut menguji layanan otonom di Eropa, termasuk Baidu Apollo Go dan WeRide. Uber sendiri telah bermitra dengan WeRide untuk proyek uji coba robotaxi di Madrid dan layanan terkait di Abu Dhabi serta Dubai.

Anak usaha Uber di Jepang juga baru mencapai kesepakatan dengan operator taksi lokal untuk menguji robotaxi di Tokyo pada akhir tahun ini. Pola kemitraan tersebut memperluas jangkauan Uber di beberapa pasar tanpa pengembangan teknologi otonom sepenuhnya dilakukan sendiri.

Arah Bisnis Uber dan Pony.ai

CEO Uber Dara Khosrowshahi mengatakan perusahaan ingin menjadi platform komersialisasi kendaraan otonom terdepan di dunia. Dalam laporan kinerja keuangan, ia menyebut Uber berupaya membangun “a super set of data” dari operasi armada global.

CNBC Indonesia melaporkan data berskala besar itu direncanakan untuk dibagikan kepada mitra teknologi Uber. Pengalaman operasional dari berbagai negara diharapkan mempercepat pengembangan kendaraan otonom.

Pasar kini menanti laporan keuangan kuartalan Pony.ai yang dijadwalkan terbit pada Selasa mendatang. Laporan tersebut dapat menunjukkan dampak finansial dari strategi ekspansi robotaxi yang sedang dijalankan perusahaan.

Baca Juga