Belanja modal AI global kini menjadi pendorong penting bagi pertumbuhan Singapura, sekaligus sumber risiko yang diawasi ketat oleh pemerintah. Jika investasi teknologi melambat, arus perdagangan dan manufaktur yang sedang menguat dapat ikut tertekan.
Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura atau MTI menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi 4,5 hingga 5,5 persen. Perkiraan itu jauh berada di atas proyeksi sebelumnya sebesar 2 hingga 4 persen.
Lonjakan Ekspor Menjadi Sinyal Terkuat
Kenaikan Ekspor Non-Minyak menjadi salah satu bukti paling nyata dari derasnya permintaan AI. Pertumbuhan ekspor domestik non-minyak mencapai 27,4 persen secara tahunan pada kuartal II 2026, setelah tumbuh 9,6 persen pada kuartal I.
Permintaan tersebut terutama datang dari kebutuhan terhadap sirkuit terintegrasi, perangkat penyimpanan data, serta perangkat keras lain untuk menjalankan sistem AI. Aktivitas perdagangan grosir ikut memperoleh dorongan dari penjualan mesin, peralatan, dan perlengkapan terkait.
Manufaktur menjadi salah satu sektor utama yang menopang pertumbuhan pada kuartal kedua. Sektor perdagangan grosir, jasa keuangan, dan asuransi juga memberi kontribusi besar terhadap penguatan ekonomi.
| Indikator | Kuartal I 2026 | Kuartal II 2026 |
|---|---|---|
| Pertumbuhan PDB tahunan | 6,3 persen | 5,9 persen |
| Pertumbuhan ekspor domestik non-minyak | 9,6 persen | 27,4 persen |
PDB Singapura tumbuh 5,9 persen secara tahunan pada kuartal II 2026. Hasil itu lebih rendah daripada pertumbuhan 6,3 persen pada kuartal sebelumnya, tetapi lebih tinggi dari estimasi awal pemerintah sebesar 5,7 persen.
Angka pertumbuhan kuartal kedua juga melampaui median perkiraan survei Bloomberg yang sebesar 5,8 persen. Dalam enam bulan pertama 2026, ekonomi Singapura tumbuh 6,1 persen secara tahunan.
Optimisme Meningkat Dua Kali
MTI mengumumkan revisi proyeksi terbaru pada Selasa, 11 Agustus 2026. Ini menjadi kenaikan kedua pada tahun yang sama, setelah proyeksi awal 1 hingga 3 persen direvisi menjadi 2 hingga 4 persen pada Februari.
Menurut MTI, ledakan AI global sejak proyeksi terakhir pada Mei berlangsung lebih kuat daripada perkiraan. Permintaan itu memberikan dorongan signifikan bagi produksi dan ekspor produk yang berkaitan dengan AI di sejumlah negara.
Modal juga mengalir ke berbagai bagian rantai pasok teknologi tersebut. SK Hynix disebut berencana memperluas pabrik memori senilai 38 miliar dollar AS, sementara DayOne yang berbasis di Singapura menghimpun pendanaan 2 miliar dollar AS.
Ketergantungan pada AI Perlu Diwaspadai
MAS memasukkan keberlanjutan Belanja Modal AI sebagai salah satu risiko utama bagi ekonomi. Perubahan pandangan investor terhadap pengeluaran teknologi dapat mengurangi permintaan global secara cepat.
MTI juga menyoroti konflik Timur Tengah dan tambahan tarif Amerika Serikat sebagai faktor yang dapat membebani ekonomi dunia. Dampak konflik sejauh ini lebih ringan dari perkiraan awal karena pelepasan cadangan minyak dan pemanfaatan sumber energi alternatif.
Meski begitu, ketegangan berkepanjangan masih dapat mempertahankan tingginya harga energi serta bahan baku utama pada semester kedua. Risiko tersebut menjadi penting bagi negara yang sangat terhubung dengan perdagangan internasional seperti Singapura.
MAS memperketat kebijakan moneter pada akhir Juli setelah menaikkan proyeksi inflasi inti dan inflasi 2026 menjadi 1,5 hingga 2,5 persen pada April. Inflasi tahunan Singapura tercatat 1,6 persen pada Juni.
Pemerintah telah menyiapkan paket bantuan 900 juta dollar Singapura bagi rumah tangga dan pelaku usaha untuk mengurangi tekanan biaya energi. Paket itu menyusul bantuan hampir 1 miliar dollar Singapura yang diumumkan pada April.
Manfaat ledakan AI juga belum merata ke seluruh sektor. Jasa makanan dan minuman mengalami kontraksi yang dikaitkan dengan berkurangnya kedatangan wisatawan serta meningkatnya perjalanan warga Singapura ke luar negeri.
AMRO memperkirakan sekitar separuh perdagangan AI global melewati ASEAN+3. Lembaga itu memperingatkan pertumbuhan kawasan dapat turun menjadi 2,5 persen pada 2027 apabila investasi AI global melambat kembali ke laju 2024.






