Semangat kemerdekaan diminta tidak berhenti sebagai simbol peringatan tahunan di Kota Bandung. Ketua DPRD Kota Bandung Asep Mulyadi menilai nilai tersebut harus menjadi dorongan warga dan pemerintah untuk menghadapi kemacetan, kesenjangan ekonomi, lingkungan hidup, serta layanan publik.
Ia menekankan bahwa persoalan kota yang terus berkembang membutuhkan kerja bersama. Bandung, menurut Asep, memerlukan warga yang berdisiplin, saling menghargai, dan mau bergotong royong dalam pembangunan.
Ajakan itu disampaikan ketika DPRD Kota Bandung menggelar rapat paripurna untuk mendengarkan pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia. Agenda tersebut masuk dalam rangkaian Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Warga Didorong Ambil Peran
Asep meminta masyarakat tidak memandang tantangan pembangunan dengan sikap pesimis. Momentum kemerdekaan dinilainya dapat digunakan untuk memperkuat kontribusi setiap unsur masyarakat sesuai perannya.
Ia menargetkan pembangunan yang mengarah pada Bandung yang nyaman, sejahtera, dan berkelas dunia. Untuk mencapai arah tersebut, perbaikan kota perlu dilakukan melalui tindakan sehari-hari, bukan hanya melalui kebijakan di tingkat pemerintahan.
“Jadikan momen kemerdekaan ini untuk berbuat lebih baik, berdisiplin, saling menghargai dan bergotong royong di dalam membangun Kota Bandung yang nyaman, sejahtera, dan berkelas dunia,” ujar Asep. Pernyataan itu menempatkan keterlibatan warga sebagai bagian penting dalam menjawab persoalan perkotaan.
Kemacetan menjadi salah satu isu yang disebut secara langsung dalam rapat paripurna. Pengelolaan lingkungan hidup juga membutuhkan perhatian karena kebutuhan pembangunan dan pelayanan masyarakat terus meningkat.
Di bidang ekonomi, kesenjangan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus ditangani. Kondisi tersebut beriringan dengan tuntutan peningkatan pelayanan publik agar semakin sesuai dengan kebutuhan warga.
Makna Kemerdekaan yang Lebih Luas
Bagi Asep, kemerdekaan tidak cukup dipahami sebagai bebas dari penjajahan bangsa asing. Kemerdekaan juga menyangkut kemampuan masyarakat untuk mandiri dan melepaskan diri dari kebodohan, kemiskinan, ketertinggalan, serta perpecahan.
Pemaknaan itu dianggap relevan bagi Bandung yang menghadapi persoalan pembangunan dari berbagai sisi. Nilai kemerdekaan dipandang dapat menjadi landasan untuk mempercepat kerja, memperkuat persatuan, dan menggerakkan kolaborasi.
“Semangat kemerdekaan harus menjadi energi untuk bergerak lebih cepat, bekerja lebih keras dan bersatu lebih erat,” kata Asep. Pesan itu menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan kota tidak bisa dibebankan kepada satu lembaga atau kelompok masyarakat.
Generasi muda juga didorong untuk mengambil peran melalui pembelajaran, inovasi, dan kontribusi terbaik bagi bangsa. Asep menyampaikan bahwa kemajuan telah dicapai pada sektor infrastruktur, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.
Meski demikian, capaian tersebut tidak meniadakan tantangan yang masih ada. Seluruh elemen diminta melanjutkan perjuangan para pahlawan melalui karya nyata untuk Indonesia yang maju, berdaulat, adil, dan makmur.
Rapat Paripurna dan Arah Daerah
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Wakil Wali Kota Bandung Erwin, dan Sekretaris Daerah Kota Bandung Iskandar Zulkarnain hadir dalam rapat tersebut. Agenda itu juga diikuti pimpinan perangkat daerah, unsur kewilayahan, serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kota Bandung.
Peserta kemudian menyaksikan pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia melalui layar yang disediakan di Ruang Paripurna DPRD Kota Bandung. Forum itu mempertemukan unsur pemerintah daerah dan DPRD dalam upaya menyelaraskan arah pembangunan nasional dengan kebutuhan Bandung.
Seperti diberitakan Media Indonesia, rapat tersebut menegaskan kembali pentingnya kolaborasi dalam menghadapi persoalan kota. Semangat kemerdekaan diharapkan menjadi landasan kerja bersama ketika Bandung menghadapi tuntutan pembangunan yang semakin kompleks.






