Asal-Usul Basa-Basi Ternyata Bukan Obrolan Kosong, Ada Arti Bahas Sana Bahas Sini

Kata basa-basi yang kerap dipakai untuk menyebut obrolan pembuka ternyata disebut berasal dari singkatan “bahas sana, bahas sini”. Ungkapan tersebut menggambarkan percakapan ringan yang dapat bergerak ke berbagai arah sebelum sampai pada bahasan utama.

Penggunaannya tidak selalu berarti pembicaraan tanpa tujuan. Basa-basi justru dapat menjadi cara sopan untuk membuka ruang komunikasi ketika dua orang bertemu atau baru berkenalan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, basa-basi berarti adat sopan santun atau tata krama pergaulan. Kata ini juga digunakan untuk menyebut ungkapan kesantunan yang tidak terutama ditujukan untuk menyampaikan informasi.

Sapaan seperti “apa kabar?” menjadi contoh yang paling mudah ditemui. Pertanyaan tersebut dapat berfungsi sebagai pembuka, meski percakapan setelahnya bisa berkembang ke banyak topik lain.

Lebih dari Pengisi Keheningan

Obrolan ringan membantu membangun suasana nyaman sebelum seseorang membicarakan hal yang lebih penting. Peran ini membuat basa-basi relevan dalam pergaulan sehari-hari maupun lingkungan kerja.

Namun, percakapan pembuka tidak harus berakhir dengan jawaban singkat. Lawan bicara dapat diberi ruang untuk menceritakan hal yang sedang dipikirkan, direncanakan, atau disukai.

Pertanyaan “Bagaimana keadaan pikiran kamu saat ini?” dapat menjadi pilihan yang lebih terbuka. Pilihan lain adalah menanyakan hal yang sedang dinantikan seseorang pada minggu tersebut.

Pertanyaan mengenai figur publik atau artis yang sedang disukai juga dapat dipakai dalam situasi yang sesuai. Yang penting, pembuka itu disampaikan dengan wajar dan tidak mengabaikan batas kenyamanan lawan bicara.

Perhatian pada Jawaban Membuat Obrolan Berbeda

Peneliti di Harvard menganalisis lebih dari 300 percakapan daring dalam serangkaian eksperimen. Orang yang menerima lebih banyak pertanyaan lanjutan yang bermakna cenderung menilai lawan bicaranya lebih disukai.

Pertanyaan lanjutan berbeda dengan pertanyaan pembuka yang sangat umum. Jenis pertanyaan ini menanggapi informasi yang sudah diberikan, sehingga menunjukkan adanya perhatian pada cerita lawan bicara.

Misalnya, seseorang tidak hanya menanyakan aktivitas lawan bicara, tetapi juga dapat menanggapi bagian tertentu dari jawabannya. Cara ini membantu percakapan bergerak dari formalitas menuju komunikasi dua arah.

Setelah mendengarkan, kedua pihak juga dapat saling berbagi cerita. Kabar gembira atau pengalaman menarik dari salah satu pihak dapat membuat pembicaraan lebih seimbang.

Tiga Unsur untuk Menjaga Percakapan

Pendekatan A.C.T menawarkan tiga unsur yang dapat dipakai untuk membangun percakapan, yaitu authenticity, connection, dan topic. Pendekatan ini menekankan bahwa obrolan perlu terasa tulus, saling terkait, serta memiliki arah pembahasan.

FokusMaknaPenerapan
AuthenticityAda keaslianMengobrol secara tulus
ConnectionAda koneksiMencari keterhubungan dengan lawan bicara
TopicAda topikMembuka bahasan tentang diri seseorang

Keaslian mencegah obrolan berubah menjadi deretan pertanyaan yang terasa dibuat-buat. Koneksi membuat respons tetap berkaitan dengan minat atau cerita yang sudah disampaikan.

Sementara itu, topik memberi jalur agar percakapan tidak terhenti pada sapaan awal. Dengan perhatian yang tepat, basa-basi dapat menjadi awal hubungan komunikasi yang lebih hangat.

Baca Juga