Sehelai kain dari Minahasa mendapat ruang besar dalam peringatan kemerdekaan di Istana Merdeka, Jakarta. Angel Pieters mengenakan tenun bentenan saat membawakan Zamrud Khatulistiwa pada Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Senin (17/8/2026).
Pemakaian kain tersebut menarik perhatian karena tenun bentenan pernah mengalami masa ketika keberadaannya nyaris punah. Kini, wastra itu hadir dalam busana formal yang dipadukan dengan karya mode dan aksesori lokal.
Catatan buku Sejarah dan Kebudayaan Minahasa karya Jessy Wenan, yang dikutip TribunManado.co.id, menyebut tenun bentenan pernah mencapai kejayaan pada abad ke-19. Perubahan zaman kemudian membuat keberadaan kain warisan itu sempat terancam.
Tenun bentenan berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara, dan telah dikenal sejak ratusan tahun silam. Motifnya bukan hanya unsur dekoratif, melainkan juga berkaitan dengan simbol kehidupan masyarakat setempat.
Situs Kemenpar menjelaskan bahwa kain ini lazim dikenali melalui perpaduan merah, biru, dan kuning. Kombinasi warna cerah tersebut dipercaya melambangkan keberanian dan harapan.
“Tenun ini dikenal lewat kombinasi warna yang cerah seperti merah, biru, dan kuning, yang dipercaya melambangkan keberanian dan harapan. Motifnya tidak hanya indah, tetapi juga sarat dengan simbolisme kehidupan masyarakat lokal,” demikian keterangan di situs Kemenpar.
Busana modern mengangkat motif tradisional
Dalam penampilan itu, Angel Pieters menempatkan tenun bentenan sebagai bawahan. Warna dan motif kain yang kuat menjadi pusat perhatian di tengah dominasi warna lembut pada bagian atas busana.
Atasan yang dipilih berupa blus putih krem transparan dengan bahan menyerupai brokat dari BIYAN. Rancangan Biyan Wanaatmadja tersebut memiliki bordir dan ornamen rumit yang membangun kesan klasik serta mewah.
Siluet blus yang longgar membuat busana terlihat jatuh anggun di tubuh. Perpaduan brokat, warna lembut, serta motif tenun menunjukkan pendekatan kontemporer dalam mengenakan kain tradisional pada acara resmi.
| Bagian Penampilan | Pilihan Angel Pieters | Kesan Utama |
|---|---|---|
| Atasan | Blus putih krem transparan BIYAN | Lembut dan mewah |
| Bawahan | Tenun bentenan Minahasa | Tegas dan berkarakter |
| Aksesori | Anting Tulola serta mawar merah | Elegan dan selaras dengan kemerdekaan |
| Alas kaki | Sepatu hak tinggi Rajnik | Formal |
Perhiasan dan mawar merah
Rambut Angel ditata dalam sanggul rapi dengan mawar merah berukuran besar sebagai penghias. Detail tersebut memberi aksen kuat yang berkaitan dengan nuansa merah putih peringatan kemerdekaan.
Ia mengenakan anting Tulola model Canang Gebogan Subeng Gold Dip. Tulola merupakan jenama aksesori yang didirikan Sri Luce-Rusna, Happy Salma, dan Franka Franklin-Makarim.
Merujuk situs resmi Tulola, perhiasan itu dibuat secara eksklusif dengan tangan di studio mereka. Produk tersebut dilapisi emas 18 karat serta memakai lapisan perak sterling dan emas 18 karat pada bagian yang bersentuhan langsung dengan kulit.
Sepatu hak tinggi Rajnik menjadi pelengkap akhir untuk tampilan formal tersebut. Kehadiran Tenun Bentenan di panggung Istana menunjukkan bahwa kain daerah dapat menyatu dengan ekspresi mode Indonesia masa kini.






