Keterbatasan amunisi jarak jauh disebut dapat menjadi salah satu alasan Amerika Serikat mengubah tekanannya terhadap Iran dari operasi militer menjadi sanksi ekonomi. Perubahan itu muncul ketika kampanye militer selama setengah tahun dinilai belum mencapai sasaran strategis yang diinginkan Washington.
Namun, penggunaan sanksi sebagai pengganti tekanan militer dipandang tidak menjamin krisis Selat Hormuz akan mereda. Iran dinilai memiliki pengalaman panjang bertahan di tengah isolasi dan pembatasan ekonomi dari Barat.
Perhitungan Persediaan Militer AS
Dan Grazier, Direktur Program Reformasi Keamanan Nasional Stimson Center, mengatakan bukti yang ada menunjukkan kemungkinan kekurangan jenis amunisi yang diperlukan untuk bertempur dari jarak jauh. Grazier pernah menjadi perwira Korps Marinir AS dan menilai kesiapan persediaan harus dijaga untuk kebutuhan di luar satu konflik.
“Ada pernyataan yang bertentangan keluar dari pemerintah. Namun dari bukti yang ada, tampaknya militer Amerika Serikat kekurangan jenis amunisi jarak jauh yang Anda butuhkan untuk bertempur dari jarak jauh,” ujar Grazier.
Menurut dia, Pentagon memiliki kewajiban keamanan di berbagai kawasan dunia sehingga tidak dapat mengerahkan persediaan secara berlebihan pada satu titik. Risiko kehabisan amunisi, katanya, dapat memaksa perubahan kalkulasi strategi AS.
| Aspek Strategi | Kondisi yang Disorot | Dampak dalam Perhitungan |
|---|---|---|
| Operasi militer jarak jauh | Kampanye berlangsung setengah tahun | Sasaran strategis belum tercapai |
| Persediaan amunisi | Kebutuhan menjaga kesiapan global | Tekanan militer tidak dapat dipusatkan di satu wilayah |
| Sanksi ekonomi | Iran berpengalaman menghadapi embargo | Perubahan sikap Teheran belum terjamin |
Keraguan atas Efektivitas Sanksi
Grazier mempertanyakan keyakinan pemerintah AS bahwa perang ekonomi dapat menghasilkan capaian yang tidak diraih melalui serangan militer. “Sangat menarik untuk berpikir bahwa pemerintah percaya bahwa bentuk perang ekonomi sekarang akan menghasilkan jenis hasil yang tidak dapat dicapai oleh serangan militer selama enam bulan,” tuturnya.
Penilaian itu berangkat dari pengalaman Iran yang telah lama menjadi sasaran pembatasan ekonomi. Sanksi baru dapat memperbesar beban ekonomi, tetapi tidak dengan sendirinya mengubah keputusan politik dan strategis Teheran.
Kepada Al Jazeera, Grazier mengatakan masyarakat Iran kemungkinan dapat bertahan dalam tekanan tersebut. Ia menyinggung status Iran sebagai negara yang diperlakukan seperti paria oleh AS sejak 1979 serta sejarah panjang sanksi yang telah diterimanya.
Ancaman bagi Jalur Minyak
Selat Hormuz menjadi titik krusial karena merupakan jalur pelayaran minyak internasional. Ketegangan militer di sekitarnya telah memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran lalu lintas maritim.
Jika sanksi tidak menghasilkan perubahan yang diharapkan, tekanan baru itu berisiko memperpanjang eskalasi di kawasan. Situasi tersebut dapat berlangsung tanpa kepastian terbukanya kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.
“Militer AS memiliki kewajiban lain, kewajiban keamanan di seluruh dunia, jadi penting agar kita tidak benar-benar kehabisan amunisi,” ujar Grazier. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa pilihan tekanan ekonomi juga berkaitan dengan batas kemampuan militer dalam konflik yang berkepanjangan.






