Dari Canberra ke Auckland, Vietnam Memburu Kerja Sama Baru di Sektor Kunci

Vietnam menempatkan Australia dan Selandia Baru sebagai pintu penting untuk memperluas kerja sama ekonomi dan strategis di kawasan. Presiden Vietnam To Lam membawa agenda yang menjangkau perdagangan, pertahanan, pendidikan, energi, dan transformasi digital.

Rangkaian kunjungan ini memperlihatkan upaya Hanoi membangun kemitraan yang lebih luas daripada sekadar transaksi ekonomi. Pertemuan di Canberra dan Auckland juga diarahkan pada sektor-sektor yang dinilai relevan bagi pertumbuhan jangka panjang.

Selandia Baru Bidik Kemitraan yang Lebih Beragam

To Lam dijadwalkan tiba di Auckland pada Rabu setelah menjalani agenda di Australia. Di kota itu, ia akan bertemu Perdana Menteri Selandia Baru Christopher Luxon untuk membahas peluang kerja sama bilateral.

Luxon menyatakan Vietnam semakin penting bagi Selandia Baru sebagai mitra di Asia. Ia menyoroti laju pertumbuhan ekonomi Vietnam yang termasuk cepat di kawasan tersebut.

“Vietnam adalah salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di Asia dan mitra yang semakin signifikan bagi Selandia Baru,” kata Luxon. Pernyataan itu menjadi latar bagi dorongan kerja sama yang mencakup sejumlah bidang ekonomi.

Kedua negara menargetkan pengembangan kolaborasi pada pangan dan serat, pendidikan, pariwisata, teknologi, penerbangan, serta investasi. Luxon mengatakan pertumbuhan hubungan tersebut ingin dibangun di seluruh sektor itu.

Mitra VietnamLokasi PertemuanBidang yang Disorot
AustraliaCanberraPerdagangan, pertahanan, pendidikan, energi, transformasi digital
Selandia BaruAucklandPangan dan serat, pendidikan, pariwisata, teknologi, penerbangan, investasi

Canberra Jadi Tujuan Pertama

Australia menjadi negara pertama yang dikunjungi To Lam dalam lawatan resmi tersebut. Agenda di negara itu berlangsung selama empat hari mulai Minggu, dengan pembicaraan perdagangan resmi dijadwalkan setelah ia tiba di Canberra pada Selasa.

Hubungan Vietnam dan Australia telah memiliki Kemitraan Strategis Komprehensif sejak ditandatangani pada Maret 2024. Kesepakatan ini memperluas cakupan kerja sama bilateral pada berbagai sektor penting.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyebut kunjungan To Lam sebagai kesempatan untuk memperdalam kemitraan kedua negara. Ia menekankan bahwa hubungan itu dibangun melalui kepercayaan strategis dan kepentingan bersama.

“Hubungan Vietnam-Australia didasari oleh kepercayaan strategis yang mendalam, kepentingan bersama, dan ambisi bersama untuk masa depan kawasan kita,” kata Albanese. Pernyataan tersebut menempatkan kemitraan kedua negara dalam konteks stabilitas dan masa depan kawasan.

Jembatan Sosial Vietnam-Australia

Selain agenda pemerintahan, hubungan Vietnam-Australia ditopang oleh ikatan sosial yang kuat. Data sensus sebelumnya mencatat sekitar 350.000 warga Australia memiliki keturunan Vietnam.

Albanese menyebut warisan budaya Vietnam sebagai salah satu unsur kedekatan kedua bangsa. Kedatangan To Lam bahkan bertepatan dengan malam sensus nasional Australia, ketika pengunjung internasional juga diwajibkan ikut berpartisipasi sesuai ketentuan setempat.

To Lam resmi menjabat di Hanoi dua bulan setelah penandatanganan kemitraan strategis komprehensif dengan Australia. Ia kemudian terus mendorong perluasan perdagangan internasional, termasuk melalui pertemuan dengan Donald Trump di Washington DC pada Februari lalu.

Lawatan ke dua negara Pasifik ini menempatkan perdagangan dan investasi berdampingan dengan kerja sama pendidikan, teknologi, serta pertahanan. Susunan agenda tersebut menunjukkan ruang kemitraan Vietnam yang sedang diperluas pada lebih banyak sektor.

Baca Juga