Takut Berat Badan Naik Saat Sudah Kurus, Ini Beda Anoreksia dan Diet Sehat

Ketakutan terhadap kenaikan berat badan dapat tetap sangat kuat pada seseorang yang tubuhnya sudah sangat kurus. Keadaan inilah yang membedakan anoreksia dari upaya mengatur pola makan untuk menjaga kesehatan.

Pada kondisi ini, penderita dapat merasa gemuk atau belum cukup langsing meski berat badannya telah rendah. Pembatasan makan yang ekstrem kemudian berisiko membuat tubuh kekurangan nutrisi dan mengalami komplikasi serius.

Bukan Sekadar Mengurangi Porsi Makan

Gangguan makan ini dapat mendorong seseorang melewatkan makan, memangkas kalori secara berlebihan, atau berolahraga secara berlebihan. Tujuannya bukan lagi menjaga pola hidup seimbang, melainkan mencegah berat badan bertambah karena rasa takut yang dominan.

Diet sehat tetap berfokus pada pemenuhan nutrisi, kondisi tubuh secara keseluruhan, dan target berat badan yang realistis. Sebaliknya, anoreksia dapat mengubah cara seseorang memandang tubuh, berpikir tentang makanan, dan menjalani hubungan sosial.

Menurut Mayo Clinic, anoreksia termasuk masalah kesehatan mental yang membutuhkan bantuan profesional. Kondisi ini dapat dialami oleh laki-laki maupun perempuan pada berbagai kelompok usia.

Tanda Tidak Selalu Berawal dari Timbangan

Perubahan kebiasaan sehari-hari dapat menjadi petunjuk penting, terutama bila seseorang terus menghitung kalori atau menghindari makan bersama. Ada pula yang mengaku sudah makan padahal belum, karena ingin menutupi pembatasan makanan yang dilakukan.

Kecemasan terhadap berat badan juga dapat terlihat dari kebiasaan sering menimbang badan dan bercermin. Penderita dapat terus merasa gemuk walaupun orang lain melihat tubuhnya telah sangat kurus.

Area yang terdampakTanda yang perlu diwaspadai
Kondisi fisikBerat badan turun drastis, mudah lelah, pusing, sering kedinginan, kulit kering, rambut menipis, dan detak jantung melambat.
Pola makanMenghindari makan bersama, menghitung kalori berlebihan, serta mengaku sudah makan meski belum.
Persepsi tubuhSangat takut berat badan naik, sering menimbang atau bercermin, dan merasa gemuk saat tubuh sudah kurus.
ReproduksiMenstruasi pada perempuan dapat menjadi tidak teratur atau berhenti.

Tekanan dan Kerentanan Setiap Orang Berbeda

Penyebab anoreksia nervosa tidak diketahui secara pasti karena diduga muncul dari kombinasi berbagai faktor. Faktor genetik, sifat perfeksionis, kecemasan, serta kecenderungan obsesif dapat meningkatkan risikonya.

Perubahan cara kerja otak yang berkaitan dengan serotonin dan dopamin juga diduga memengaruhi nafsu makan, suasana hati, dan pengendalian impuls. Tekanan lingkungan serta standar kecantikan yang mengagungkan tubuh kurus dapat menjadi pemicu bagi sebagian orang.

Remaja perlu mendapat perhatian karena sedang mengalami perubahan fisik dan emosional. Orang yang memiliki riwayat gangguan makan dalam keluarga, pernah mengalami perundungan terkait tubuh, atau sering berdiet ketat juga dapat lebih rentan.

Risiko dapat meningkat pada mereka yang berada di bidang dengan tuntutan tubuh langsing, seperti model, atlet, dan penari. Kondisi kecemasan yang dialami seseorang dapat menjadi faktor tambahan yang perlu diperhatikan.

Kekurangan Nutrisi Mengancam Fungsi Organ

Kekurangan nutrisi yang berlangsung lama tidak hanya membuat berat badan turun. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko anemia, penurunan massa otot, osteoporosis, gangguan ginjal, gangguan irama jantung, hingga gagal jantung.

Masalah tersebut juga dapat memengaruhi sistem reproduksi dan kondisi psikologis. Anoreksia berkaitan dengan risiko depresi, kecemasan, perilaku menyakiti diri sendiri, hingga bunuh diri, dan dapat berakibat fatal pada kasus berat.

Bantuan Profesional Perlu Diberikan Lebih Dini

Diagnosis dilakukan dengan menilai pola makan, perubahan berat badan, riwayat kesehatan, dan keadaan psikologis, bukan hanya angka berat badan. Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik, tes laboratorium, atau pemeriksaan penunjang untuk mendeteksi komplikasi.

Perawatan dapat melibatkan dokter, psikolog atau psikiater, dan ahli gizi melalui psikoterapi, konseling gizi, serta pemulihan berat badan secara bertahap. Rawat inap dapat diperlukan apabila kondisi pasien berat atau mengancam keselamatan.

Keluarga berperan penting dalam mendampingi proses pemulihan tanpa memberikan tekanan. Bantuan perlu segera dicari ketika tampak penolakan makan, penurunan berat badan drastis, atau ketakutan berlebihan terhadap kenaikan berat badan.

Baca Juga