Tolak Angin memperluas cara berkomunikasi dengan konsumen muda melalui festival musik, komunitas, kreator, dan kolaborasi produk. Langkah ini menempatkan produk herbal di ruang aktivitas yang dekat dengan gaya hidup generasi baru.
Pendekatan tersebut mencakup kegiatan olahraga dan perjalanan, selain acara budaya. Strategi ini berjalan ketika kepraktisan semakin menjadi pertimbangan konsumen dalam memilih produk herbal untuk aktivitas harian.
Dari Festival ke Kolaborasi Produk
Tolak Angin terlibat dalam sejumlah acara, seperti Synchronize Fest, Bigu Fest, Semesta Berpesta, Lengger Bicara, serta Scream or Dance. Kehadiran di berbagai acara itu menjadi bagian dari upaya merek membangun kedekatan dengan audiens yang lebih muda.
Kerja sama juga dilakukan dengan Brodo dan Tahilalats. Pada 2025, kampanye “Kolaborasi Pintar” menghadirkan sepatu yang memadukan kualitas, kearifan lokal, dan ekspresi kreatif.
Di bidang konten, Tolak Angin membuat mini series “Angin Angan” dengan latar keindahan Wakatobi. Merek ini juga bekerja sama dengan Chatime untuk menghadirkan Coco Angin dengan kombinasi rasa chocolate mint.
| Bentuk kegiatan | Mitra atau acara | Keterangan |
|---|---|---|
| Kolaborasi produk | Brodo dan Tahilalats | Sepatu dalam kampanye “Kolaborasi Pintar” pada 2025 |
| Kolaborasi minuman | Chatime | Coco Angin rasa chocolate mint |
| Acara musik dan budaya | Synchronize Fest dan lainnya | Ruang pendekatan kepada audiens muda |
Perluasan komunikasi itu tidak mengubah asal-usul produk yang berangkat dari tradisi jamu. Tolak Angin mulanya diperkenalkan dalam bentuk godogan, sebelum berkembang menjadi produk yang lebih praktis dikonsumsi.
Rakhmat Sulistio atau Go Djing Nio membuka usaha jamu dan rempah-rempah di Yogyakarta pada 1935. Lima tahun setelahnya, racikan Tolak Angin diperkenalkan sebagai jamu godogan.
Warisan Jamu yang Meluas
Pabrik pertama Sido Muncul berdiri di Semarang pada 1951. Perkembangan industri tersebut membawa Tolak Angin dari warisan usaha keluarga menjadi produk yang digunakan oleh berbagai kalangan.
Direktur Marketing Sido Muncul Maria Reviani Hidayat mengatakan penerimaan produk itu mencakup banyak kelompok usia dan demografi. “Tolak Angin itu salah satu brand kita yang dikonsumsi oleh lintas generasi, dikonsumsi oleh berbagai segmen demografis,” ujar Maria.
Jangkauan produk kini mencapai 34 negara, termasuk Malaysia, Filipina, dan Jepang. Menurut CNN Indonesia, konsumen yang disasar tidak hanya warga Indonesia di luar negeri, tetapi juga masyarakat lokal di sejumlah negara.
Peran media sosial dan meningkatnya mobilitas wisatawan menjadi faktor yang membantu pengenalan produk lokal di pasar luar negeri. Produk tersebut juga kerap direkomendasikan kepada wisatawan asing saat berada di Indonesia.
Kanal Digital dan Pengujian Produk
Penjualan online Tolak Angin tumbuh hingga 99 persen sepanjang 2020-2025. Sementara itu, pertumbuhan penjualan melalui kanal yang sama mencapai 73 persen dalam periode 2022-2025.
| Data | Periode | Hasil |
|---|---|---|
| Penjualan online | 2020-2025 | Tumbuh hingga 99 persen |
| Penjualan online | 2022-2025 | Tumbuh 73 persen |
| Persebaran pasar | Saat ini | 34 negara |
Sido Muncul menyatakan pengembangan produk dilakukan melalui riset serta uji khasiat dan uji toksisitas. Materi penelitian yang dikutip perusahaan menyebut Tolak Angin cair pada dosis yang diuji aman tanpa gangguan pada sejumlah fungsi organ yang diamati.
Pada 2025, Tolak Angin memperoleh Indonesia Original Brand kategori Herbal Supplement, Solo Best Brand and Innovation Award, dan Indonesia Brand Expansion Award. Penghargaan tersebut menjadi bagian dari rekam jejak pengembangan produk lokal yang tetap berupaya menyesuaikan diri dengan perubahan konsumen.






