MotoGP menangani lebih dari 1.000 kecelakaan dalam satu musim, meski hanya sekitar delapan atau sembilan yang tergolong serius. Angka itu membuat kesiapan layanan darurat tidak dapat bergantung sepenuhnya pada ambulans atau pusat medis sirkuit.
Sistem yang digunakan kini menempatkan unit perawatan intensif langsung di lintasan. Langkah tersebut memungkinkan dokter melakukan tindakan penting di dekat lokasi kecelakaan sebelum pebalap dievakuasi.
Penanganan Awal Tidak Bisa Ditunda
Kondisi serius dapat menuntut intubasi maupun prosedur medis tertentu di area balap. Dr. Angel Charte, Kepala Petugas Medis MotoGP, menekankan bahwa tindakan seperti itu tidak selalu bisa menunggu sampai pasien mencapai fasilitas medis yang lebih jauh.
Ia mencontohkan cedera kepala sebagai keadaan yang membutuhkan respons sangat cepat. Pendarahan otak yang tidak dihentikan dalam dua menit, menurut Charte, dapat berakibat fatal.
Penempatan tim perawatan intensif MotoGP di lintasan dimaksudkan untuk memperpendek waktu menuju tindakan pertama. Sistem ini juga membantu memastikan respons terhadap kecelakaan berat berjalan lebih terkoordinasi.
| Komponen | Peran dalam Penanganan |
|---|---|
| Tim perawatan intensif | Berada langsung di lintasan dekat insiden |
| Intubasi | Dilakukan bila kondisi pebalap memerlukan |
| Kecelakaan per musim | Lebih dari 1.000 kasus |
| Insiden berat | Sekitar delapan atau sembilan kasus |
Pelajaran dari Kecelakaan Simoncelli
Perombakan sistem medis ini berawal dari kecelakaan tragis Marco Simoncelli pada 2011. Peristiwa tersebut membuka evaluasi terhadap proses evakuasi serta kesiapan sarana medis yang digunakan MotoGP saat itu.
Charte menyebut ada kelemahan pada sejumlah unsur penanganan, mulai dari tandu hingga ambulans dan fasilitas medis. Dari sudut pandang medis, struktur penanganan ketika itu dinilai belum cukup kompeten untuk menghadapi keadaan paling gawat.
Menurut Charte, situasi tersebut kemudian berkembang menjadi bencana. MotoGP lantas membentuk unit medis yang dapat membawa kemampuan perawatan intensif lebih dekat ke titik kecelakaan.
“Unit tersebut dibentuk setelah kecelakaan tragis Marco Simoncelli pada 2011,” kata Charte, seperti dikutip Kompas.com dari Speedweek. Ia menyatakan tujuan sistem baru itu adalah memberi pebalap peluang terbaik untuk bertahan hidup.
Dokter Harus Memiliki Kualifikasi Khusus
Personel medis MotoGP tidak dipilih hanya berdasarkan pengalaman umum sebagai dokter. Mereka harus memiliki lebih dari lima tahun pelatihan spesialis di bidang perawatan intensif, anestesi, atau kedokteran darurat.
Setiap dokter juga diwajibkan bekerja di rumah sakit universitas di negaranya serta mengikuti pendidikan lanjutan. Ketentuan itu ditujukan untuk memastikan kemampuan klinis tetap terjaga di tengah tuntutan penanganan cepat di arena balap.
Susunan tim dapat berubah pada tiap seri sehingga proses verifikasi tidak berhenti setelah perekrutan awal. Charte memeriksa kualifikasi dokter pada setiap balapan, terutama saat terdapat personel baru.
Pebalap Tetap Menghadapi Batas Fisik yang Sama
Charte menolak anggapan bahwa pebalap MotoGP mempunyai tubuh yang berbeda dari manusia pada umumnya. Mereka dinilai mampu kembali menghadapi lintasan karena latihan panjang, pengalaman jatuh, dan adaptasi fisik sejak usia muda.
Pebalap masa kini disebut makin sadar terhadap risiko cedera serius dan kemungkinan perawatan di rumah sakit. Meski persaingan tetap mendorong mereka mengambil risiko, sistem keselamatan MotoGP kini dirancang agar bantuan medis dapat hadir lebih cepat saat diperlukan.






