Keterbatasan air bersih dapat membawa dampak yang jauh melampaui kesulitan memenuhi kebutuhan minum dan mandi. Saat sanitasi memburuk, anak-anak menghadapi risiko gangguan pencernaan yang dapat menghambat penyerapan nutrisi.
Kementerian Kesehatan RI menyebut krisis air pipanisasi dapat meningkatkan konsentrasi polutan serta bakteri E. coli. Paparan bakteri tersebut berisiko memicu diare kronis dan, bila terjadi berulang, dapat berkaitan dengan stunting pada anak.
Air Aman dan Sanitasi Tidak Terpisahkan
Ketersediaan air yang cukup menentukan kemampuan keluarga menjaga kebersihan dalam aktivitas sehari-hari. Air dibutuhkan untuk minum, mandi, wudhu, mencuci, hingga menjaga kebersihan lingkungan rumah.
Ketika pasokan air tidak aman atau jumlahnya terbatas, kebutuhan higienis menjadi lebih sulit dipenuhi. Kondisi ini membuat persoalan air bersih tidak dapat dipisahkan dari perlindungan kesehatan masyarakat.
Presiden Prabowo Subianto menyoroti persoalan tersebut dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPD-DPR RI 2026. Pidato itu disampaikan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Prabowo menggambarkan warga yang harus berjalan berkilo-kilometer untuk memperoleh satu hingga dua jeriken air bersih. Air yang dibawa pulang kemudian digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, ibadah, peternakan, dan tanaman.
Jutaan Warga Belum Terjangkau
Data BPS, BNPB, dan Kementerian PU per Maret 2025 mencatat sekitar 28 juta warga mengalami kesulitan mengakses air minum layak setiap hari. Ketimpangan paling jelas terlihat pada perbedaan cakupan antara kota, desa, dan sejumlah wilayah dengan kondisi geografis menantang.
| Wilayah | Akses Air Minum Layak |
|---|---|
| Perkotaan | 96,56% |
| Perdesaan | 87,06% |
| DKI Jakarta | 99,96% |
| Papua Pegunungan | 30,64% |
Akses di perkotaan tercatat 96,56%, sedangkan di perdesaan mencapai 87,06%. DKI Jakarta berada pada angka 99,96%, sementara Papua Pegunungan hanya mencatat 30,64%.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan layanan belum terdistribusi secara merata. Warga di daerah yang kekurangan sarana pasokan harus mencurahkan waktu dan tenaga lebih besar hanya untuk memperoleh air dalam jumlah terbatas.
Pembangunan Titik Air Dipercepat
Pemerintah menyatakan pembangunan sumber pasokan di desa menjadi salah satu respons terhadap keterbatasan akses tersebut. Dalam delapan bulan pertama 2026, sebanyak 3.000 titik air desa telah dibangun oleh TNI.
“Tahun ini, di delapan bulan pertama 2026, kita sudah membangun 3.000 titik air desa yang dibangun oleh TNI, terima kasih TNI,” kata Prabowo. Program ini ditujukan untuk memperluas jangkauan sumber air bagi desa yang masih kekurangan infrastruktur pendukung.
Tambahan titik air menjadi penting karena kebutuhan warga tidak berhenti pada konsumsi rumah tangga. Peternakan dan tanaman juga bergantung pada ketersediaan air, sehingga gangguan pasokan dapat memengaruhi kegiatan ekonomi perdesaan.
El Nino Menjadi Tekanan Tambahan
Ancaman El Nino Pasifik diperkirakan berlangsung sejak pertengahan 2026 hingga kuartal pertama 2027. Menurut Water Indonesia 2026 dan BMKG, fenomena itu dapat menyebabkan kemarau lebih panjang serta keterlambatan musim hujan.
Kondisi tersebut berisiko mengganggu produktivitas tanaman padi pada Desember 2026 sampai Februari 2027. Selain mengancam kebutuhan air warga dan pertanian, kemarau panjang juga meningkatkan potensi kebakaran hutan.
Upaya memperluas pasokan air perlu berjalan bersamaan dengan perbaikan sanitasi. Langkah itu penting untuk mengurangi risiko penyakit sekaligus menjaga kebutuhan dasar warga ketika tekanan cuaca kering meningkat.






