Samsung SDI mengambil alih sepenuhnya kompleks baterai di New Carlisle, Indiana, setelah General Motors melepas 49,99 persen sahamnya di Synergy Cells. Fasilitas hasil investasi USD 3,5 miliar atau sekitar Rp63 triliun itu kini akan disiapkan pula untuk produksi sistem penyimpanan energi.
Pengambilalihan ini memperlihatkan perubahan fungsi penting pada salah satu proyek baterai besar di Amerika Serikat. Ketika permintaan kendaraan listrik melambat, Samsung SDI melihat peluang baru pada kebutuhan penyimpanan listrik untuk jaringan energi dan pusat data.
Rencana Samsung SDI mencakup penambahan lini produksi Energy Storage System atau ESS. Sistem tersebut dibutuhkan untuk menyimpan daya, termasuk bagi pusat data yang memerlukan pasokan listrik besar untuk menjalankan teknologi AI.
Fasilitas EV Mendapat Pasar Alternatif
Pabrik Indiana pada awalnya diproyeksikan untuk mendukung produksi baterai kendaraan listrik GM. Kapasitasnya dirancang untuk memasok baterai bagi ratusan ribu kendaraan listrik berukuran besar dan menciptakan ribuan lapangan kerja.
Samsung SDI kini memperoleh fleksibilitas lebih luas atas lini produksi tersebut. Perusahaan dapat mengarahkan sebagian kapasitas ke pasar ESS saat penjualan EV tidak bergerak secepat perkiraan sebelumnya.
| Komponen | Informasi |
|---|---|
| Perusahaan patungan | Synergy Cells |
| Lokasi pabrik | New Carlisle, Indiana |
| Luas lahan | 275 hektar |
| Nilai investasi | USD 3,5 miliar atau sekitar Rp63 triliun |
| Saham GM yang dialihkan | 49,99 persen |
Strategi GM Berubah di Tengah Perlambatan
Bagi General Motors, pelepasan saham di Synergy Cells bukan berarti kerja sama dengan Samsung SDI berhenti. GM tetap akan mengandalkan kesepakatan pasokan dan pengembangan baterai bersama perusahaan asal Korea Selatan tersebut.
Skema itu membuat GM dapat mempertahankan akses terhadap teknologi baterai tanpa memegang penuh aset manufaktur. Pendekatan tersebut menjadi penting ketika investasi pabrik dan kapasitas produksi harus disesuaikan dengan kondisi pasar.
Pasar kendaraan listrik Amerika Utara mengalami tekanan setelah insentif pajak federal berakhir pada 30 September 2025. Minat konsumen terhadap kendaraan listrik dilaporkan menurun setelah subsidi tersebut dihentikan.
GM kemudian mengurangi produksi kendaraan listrik dan menghentikan sementara sejumlah fasilitas yang terkait dengan kerja sama Ultium Cells bersama LG Energy Solution. Penyesuaian tersebut menunjukkan dampak langsung perlambatan permintaan terhadap rencana produksi produsen otomotif.
Beban Investasi Baterai Meningkat
Liputan6.com, yang mengutip ArenaEV, melaporkan GM melakukan penghapusan nilai aset lebih dari USD 6 miliar atau sekitar Rp108 triliun. Nilai itu muncul dalam rangkaian penyesuaian yang dilakukan perusahaan terhadap bisnis kendaraan listriknya.
GM juga menjual kepemilikan pada pabrik Ultium ketiga senilai USD 2,14 miliar atau sekitar Rp38,52 triliun. Langkah-langkah tersebut mencerminkan besarnya risiko ketika kapasitas produksi baterai dibangun untuk permintaan yang belum terwujud.
Pengembangan Baterai Generasi Berikutnya
GM dan Samsung SDI masih berencana mengembangkan baterai prismatic generasi berikutnya yang kaya nikel. Baterai ini akan menggunakan teknologi PRiMX milik Samsung.
Rancangan baterai prismatic tersebut ditujukan untuk menghadirkan kepadatan energi tinggi dan kemampuan pengisian daya yang baik. Sementara GM menjaga jalur pengembangan teknologi, Samsung SDI dapat memanfaatkan pabrik Indiana untuk melayani kebutuhan EV maupun ESS.






