Rencana Investasi Gagal, Selandia Baru Berbalik Menekan FIFA Jelang Kongres

Kegagalan rencana penjualan saham hak komersial FIFA kepada investor swasta memicu tekanan baru terhadap organisasi sepak bola dunia itu. Federasi Sepak Bola Selandia Baru kemudian mencabut dukungan bagi Gianni Infantino dan meminta audit independen.

Permintaan tersebut tidak hanya berfokus pada pembatalan rencana investasi. Selandia Baru ingin proses pengambilan keputusan serta sistem pengawasan FIFA diperiksa secara terbuka dan disepakati oleh seluruh konfederasi.

FIFA Forward Enterprise Menjadi Sorotan

Program FIFA Forward Enterprise menjadi pusat perhatian setelah usulan investasi swasta akhirnya dibatalkan. Andrew Pragnell, Kepala Eksekutif Federasi Sepak Bola Selandia Baru, menilai audit perlu mengurai cara keputusan terkait program itu dibuat.

Pemeriksaan juga diharapkan mengungkap pihak yang terlibat dalam rencana kerja sama dengan Thrive Capital. Perusahaan itu disebut memiliki keterikatan keluarga dekat dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Pragnell menegaskan bahwa audit tidak boleh berubah menjadi pemeriksaan singkat yang hanya dilakukan di lingkungan internal FIFA. Ia memandang proses independen sebagai jalan untuk membangun kembali kepercayaan yang melemah.

“Saya pikir cakupannya perlu dipertimbangkan dengan sangat hati-hati, tetapi yang terpenting adalah semua konfederasi harus menyetujui cakupannya, dan hal itu perlu segera dimulai,” tegas Pragnell. Pernyataan itu memperlihatkan tuntutan Selandia Baru mencakup perubahan dalam pengawasan, bukan sekadar penghentian satu proyek investasi.

Peta Sikap Konfederasi

KelompokPosisi atas Situasi FIFAFokus Sikap
Selandia BaruMenarik dukunganAudit independen
UEFA, AFC, CONCACAFMendesak evaluasiPeninjauan menyeluruh
CAF dan Amerika SelatanMendukung InfantinoKomitmen dukungan tetap ada
OFCBerhati-hatiPerubahan bila diperlukan

Perpecahan sikap itu muncul ketika Infantino tetap berencana mempertahankan jabatan Presiden FIFA untuk periode keempat. Kongres FIFA tahun depan akan menjadi panggung penting untuk mengukur kembali kekuatan politik di antara konfederasi.

UEFA, AFC, dan CONCACAF telah meminta evaluasi menyeluruh secara terbuka. Di sisi lain, konfederasi Afrika dan Amerika Selatan masih tercatat memberikan dukungan kepada Infantino.

Australia ikut berada dalam dorongan audit bersama blok AFC. Meski demikian, negara tersebut belum menyatakan penolakan secara terbuka terhadap kepemimpinan Infantino.

Pragnell menyatakan Selandia Baru sepaham dengan posisi Australia yang terikat pada pernyataan AFC. “Berdasarkan apa yang telah kami lihat, termasuk komitmen (Australia) terhadap pernyataan AFC, kami sangat sependapat,” katanya.

Oseania Tidak Satu Suara

Selandia Baru memiliki posisi yang menonjol di Oseania karena menjadi satu-satunya wakil OFC yang menembus putaran utama turnamen akbar tahun ini, menurut laporan Reuters yang dikutip bola.kompas.com. Karena itu, pencabutan dukungannya memperoleh perhatian dalam perdebatan tata kelola FIFA.

Namun, OFC tidak mengambil garis sekeras Selandia Baru. Konfederasi tersebut menyambut pembatalan investasi swasta sambil tetap menilai FIFA telah membantu kemajuan pengembangan sepak bola Oseania dalam satu dekade terakhir.

OFC meminta FIFA menjadikan peninjauan sebagai kesempatan untuk mengenali perubahan yang perlu diterapkan. Sikap ini memperlihatkan kawasan Oseania belum memiliki pandangan tunggal mengenai cara merespons persoalan tersebut.

Tuntutan audit independen kini menjadi salah satu isu utama menjelang Kongres FIFA. Hasil proses itu akan menentukan apakah organisasi tersebut mampu menjawab pertanyaan mengenai transparansi dan pengawasan atas keputusan komersialnya.

Baca Juga