Sekitar 1.000 ton sampah per hari ditargetkan diolah menjadi energi listrik melalui fasilitas baru di Sitimulyo, Piyungan, Bantul. Fasilitas itu diproyeksikan menghasilkan listrik sebesar 18-20 megawatt atau setara kebutuhan sekitar 15 ribu rumah di DIY.
Rencana ini menempatkan pengolahan sampah sebagai bagian dari pasokan energi, bukan hanya penanganan limbah. Namun, keberlangsungan fasilitas sangat bergantung pada konsistensi pasokan sampah dari wilayah Kartamantul.
Pasokan dari Tiga Wilayah Utama
Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul telah menyepakati penyediaan sampah untuk fasilitas tersebut. Total pasokan dari ketiganya diproyeksikan mencapai sekitar 1.099 ton per hari.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY Kusno Wibowo menyatakan timbulan sampah di DIY mendekati 2.000 ton per hari. Sampah yang telah ditangani melalui TPS, bank sampah, dan pengolahan daerah tidak seluruhnya akan masuk ke fasilitas energi.
“Setelah dikelola melalui TPS, bank sampah, dan lainnya, masih ada (sisa) kurang lebih seribu ton per hari yang kemudian dikelola melalui PSEL,” ujar Kusno, seperti dilaporkan CNN Indonesia. Skema ini membuat PSEL berfungsi sebagai salah satu jalur penanganan sisa sampah, bukan satu-satunya sistem di DIY.
Gunungkidul dan Kulon Progo dapat dilibatkan jika kebutuhan pengelolaan sampah di wilayah tersebut berubah. Sri Sultan Hamengku Buwono X menilai kedua kabupaten itu masih mampu menangani sampah secara mandiri dalam skala terbatas.
Investasi Besar di Dekat TPA Lama
Fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik akan dibangun dekat TPA Piyungan yang sudah dihentikan operasionalnya. Nilai investasinya diperkirakan berkisar Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun.
Danantara Investment Management melalui PT Daya Energi Bersih Nusantara atau Denera bekerja sama dengan pemerintah daerah DIY dalam pelaksanaan proyek ini. Fadli Rahman selaku Direktur Investasi Danantara Investment Management dan CEO Denera mengatakan nilai akhir investasi akan bergantung pada hasil desain proyek.
“Nilai investasi diperkirakan sekitar Rp2,5 triliun sampai Rp3 triliun, yang tentunya nanti tergantung dari hasil desain itu sendiri pada tahun ini,” kata Fadli. Proyek tersebut kini berada dalam tahap persiapan sebelum konstruksi fisik dimulai.
| Rencana | Target | Keterangan |
|---|---|---|
| Peletakan batu pertama | Desember 2026 | Penanda awal proyek |
| Konstruksi fisik | Januari 2027 | Pembangunan fasilitas PSEL |
| Mulai operasional | Kuartal III atau IV 2028 | Pengolahan sampah dan produksi listrik |
| Kapasitas pengolahan | 1.000 ton per hari | Pasokan utama dari Kartamantul |
Nota kesepahaman proyek ditandatangani di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta, pada Selasa (11/8). Penandatanganannya dihadiri Sri Sultan, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Bupati Sleman Harda Kiswaya, dan Bupati Bantul Abdul Halim Muslih.
Pertemuan tersebut membahas kesiapan lahan, pasokan sampah, dan tahapan pembangunan fasilitas. Pembangunan fisik ditargetkan rampung pada pengujung 2028.
Proses Pengolahan dan Pengendalian Emisi
Sampah yang masuk akan ditempatkan dalam bunker tertutup dan kedap udara untuk menjalani pengeringan sekitar lima hari. Air lindi dari proses tersebut akan diolah kembali sebelum sampah kering digunakan sebagai bahan bakar.
Pembakaran sampah kering digunakan untuk memanaskan air hingga menghasilkan uap penggerak turbin listrik. Denera menyiapkan kerja sama jual beli listrik dengan PLN seperti yang diterapkan pada lokasi PSEL lain.
Sisa pembakaran berupa abu atas dan abu bawah akan diolah dengan standar tinggi yang ditargetkan memenuhi standar Eropa. Emisi hasil pembakaran juga direncanakan melewati penyaringan ketat sebelum dilepas ke udara.
Proyek ini diperkirakan menyerap sekitar 500-1.000 pekerja pada masa konstruksi dengan prioritas tenaga kerja lokal. Ketika beroperasi, fasilitas diproyeksikan membutuhkan sekitar 100-150 pekerja.






