Posisi Pemula Kian Langka, Lulusan Baru Terjepit Pengalaman 3 hingga 5 Tahun

Lowongan tingkat pemula semakin sulit dijangkau ketika perusahaan meminta pengalaman profesional tiga hingga lima tahun. Bagi lulusan baru, syarat tersebut menciptakan persoalan mendasar karena pengalaman kerja pertama belum dapat diperoleh tanpa kesempatan direkrut.

Hambatan itu muncul saat jumlah posisi baru tidak bertambah secepat jumlah pencari kerja. Banyak pekerja yang telah memperoleh gaji tinggi pada 2021 dan 2022 memilih tetap bertahan di perusahaan mereka.

Ekonom senior AS Nich Tremper menilai pilihan pekerja lama untuk tidak berpindah mengurangi perputaran tenaga kerja. Akibatnya, perusahaan lebih jarang membuka jabatan yang dapat menjadi pintu awal bagi pekerja pemula.

“Tanpa adanya lowongan pekerjaan baru, sulit bagi karyawan tingkat pemula untuk mendapatkan kesempatan dan memulai karier mereka,” kata Tremper, dikutip dari CNBC. Situasi ini membuat kandidat muda harus berebut posisi yang jumlahnya lebih terbatas.

AI Mengubah Jalur Masuk Dunia Kerja

Penggunaan kecerdasan buatan atau AI ikut mengubah bentuk pekerjaan awal di sejumlah perusahaan. Tugas-tugas yang sebelumnya dapat dikerjakan pekerja pemula kini sebagian dapat ditangani dengan bantuan teknologi.

Perusahaan juga semakin selektif dalam menentukan keterampilan dan rekam pengalaman yang dianggap sesuai. Tantangan transisi dari kampus ke pekerjaan tetap pun tidak hanya berkaitan dengan banyaknya jumlah lulusan.

Di Amerika Serikat, survei Cengage Group pada Juni dan Juli 2026 menemukan hanya 30 persen lulusan sarjana musim semi 2025 yang memperoleh pekerjaan tetap. Departemen Tenaga Kerja AS mencatat tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi berusia 20 hingga 24 tahun rata-rata 6,6 persen selama 12 bulan hingga Mei 2025.

Tekanan Serupa Terlihat di Indonesia

Di Indonesia, Sakernas Badan Pusat Statistik per Mei 2026 mencatat total penganggur mencapai 7,22 juta orang. Lulusan D4-S1 menyumbang 14,31 persen atau sekitar 1,033 juta orang dari jumlah tersebut.

Kelompok PendidikanJumlah PenganggurProporsi atau Keterangan
D4-S1Sekitar 1,033 juta14,31% dari total penganggur
SMASekitar 2,02 juta28% dari total penganggur
SMKSekitar 1,61 jutaKelompok dengan pengangguran tinggi

Lulusan SMA merupakan penyumbang pengangguran terbesar, kemudian diikuti lulusan SMK. Persaingan meningkat karena sebagian sarjana juga melamar pekerjaan yang mensyaratkan pendidikan menengah.

Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Agus Sartono, memperkirakan pencari kerja dari lulusan SMA, diploma, dan sarjana dapat mencapai 10,67 juta orang setiap tahun. Kondisi tersebut memperlebar kompetisi di berbagai lapisan pasar kerja.

Jalur Karier Tidak Lagi Tunggal

Sebagian lulusan baru dan pekerja muda mulai mempertimbangkan pekerjaan teknisi, usaha mandiri, atau bidang konstruksi sesuai keahlian yang diminati. Pilihan itu muncul di tengah ketatnya perekrutan untuk pekerjaan kantoran.

Chris Henderson, lulusan manajemen bisnis di AS yang bekerja sebagai teknisi listrik, menilai pendidikan tinggi tetap memiliki manfaat. Menurutnya, perguruan tinggi dapat membantu seseorang membangun manajemen waktu sekaligus mengenali minat utama untuk menentukan arah karier.

Baca Juga