Sektor ganda putra Indonesia belum meraih emas Kejuaraan Dunia sejak Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan menang di Basel, Swiss, pada 2019. Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri kini datang ke edisi 2026 dengan peluang untuk mengakhiri penantian tersebut.
Tantangan mereka tidak ringan karena Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2026 mempertemukan para pemain terbaik dalam persaingan yang lebih ketat. Fajar/Fikri juga harus menghadapi turnamen itu sebagai penampilan perdana mereka sejak dipasangkan.
Penantian Emas Sejak 2019
Setelah gelar Hendra/Ahsan di Basel, Indonesia belum kembali menjadi juara ganda putra pada edisi 2021, 2022, 2023, dan 2025. Situasi itu memberi bobot tambahan pada langkah pasangan peringkat dua dunia tersebut di New Delhi.
Fajar/Fikri dijadwalkan bermain di Indira Gandhi Stadium, India, pada 17-23 Agustus 2026. Hari pertama turnamen bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia.
Momentum itu membuat target juara mereka memiliki arti lebih dari sekadar pencapaian pribadi. Fikri berharap hasil terbaik di India dapat menjadi persembahan untuk Indonesia.
“Ya, pasti ingin (beri kado buat Indonesia). Kalau bisa ya dapat hasil terbaik juara, ya mungkin itu bisa jadi hadiah buat Indonesia ya,” ujar Fikri.
Datang dengan Performa Meyakinkan
Pasangan Fajar/Fikri memasuki ajang dunia dengan catatan positif dari rangkaian turnamen Asia. Mereka baru saja merebut gelar Japan Open dan China Open 2026 secara beruntun.
Dalam perjalanan menuju dua gelar itu, mereka mengalahkan ganda Korea Selatan Kim Won Ho/Seo Seung Jae. Catatan tersebut membuat kekuatan mereka patut diperhitungkan, meski tidak mengubah tingkat kesulitan Kejuaraan Dunia.
Fikri mengingatkan bahwa semua peserta memiliki kesempatan untuk merebut gelar. Menurutnya, kesiapan tiap pemain akan menjadi faktor penentu selama turnamen berlangsung.
“Peluang pasti ada ya, untuk siapa pun peluang itu pasti terbuka lebar. Cuma balik lagi ke masing-masing individu ya, karena World Championships itu ya pertandingan yang cukup sangat ingin diraih,” kata Fikri.
Tidak Terpancing Euforia
Menurut laporan Detik Sport, Fikri memilih menjaga fokus dengan menjalani pertandingan secara bertahap. Ia tidak ingin ambisi besar untuk memenangi Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2026 berubah menjadi tekanan yang mengganggu permainan.
“Jadi kadang kalau kita terlalu menggebu-gebu juga itu tidak baik. Jadi ya kita harus lebih fokus saja, step by step saja sih,” kata Fikri.
Ia menilai atmosfer Kejuaraan Dunia berbeda karena statusnya sebagai major event. Setiap pasangan akan datang dengan motivasi tinggi, sehingga kelengahan terhadap siapa pun dapat berakibat fatal.
“Ya, yang pasti berbeda. World Championships karena itu salah satu major event, jadi pasti berbeda ya. Karena persaingannya jadi lebih ketat lagi, dan kita enggak boleh lengah mau lawan siapa pun,” tutur Fikri.
Perhatian Fajar/Fikri tidak terbatas pada pasangan unggulan. Pemain di luar daftar teratas pun dinilai berpotensi menjadi kuda hitam yang berbahaya bagi perjalanan Ganda Putra Indonesia.
Dengan modal dua gelar beruntun dan posisi sebagai pasangan nomor dua dunia, kesempatan untuk memutus penantian terbuka lebar. Namun, target itu baru dapat tercapai apabila Fajar/Fikri mampu menjaga fokus dari laga ke laga di New Delhi.






