Iran menyatakan pertukaran pesan dengan Amerika Serikat belum berarti perundingan resmi dimulai kembali. Di saat jalur diplomasi masih tertutup, Teheran justru memusatkan perhatian pada rancangan rute pelayaran baru di Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan belum ada keputusan untuk kembali duduk berunding dengan Washington. Qatar dan Pakistan tetap berperan sebagai fasilitator komunikasi, tetapi statusnya hanya pertukaran pesan.
Fasilitasi Qatar dan Pakistan
“Qatar dan Pakistan memang masih terus memfasilitasi pertukaran pesan dan berkomunikasi dengan kami. Namun, itu tidak bisa disamakan dengan negosiasi,” ujar Araghchi. Pernyataan itu membedakan saluran komunikasi tidak langsung dari proses perundingan politik yang resmi.
Menurut Araghchi, Iran belum mengambil keputusan apa pun untuk membuka kembali jalur negosiasi dengan Amerika Serikat. Investor Daily melaporkan penegasan tersebut pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Sikap Iran muncul ketika pembicaraan mengenai keamanan pelayaran di Selat Hormuz juga menjadi perhatian. Jalur tersebut dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, sehingga perubahan aksesnya memiliki arti penting bagi rute energi global.
Rute Lama Dinilai Kurang Aman
Iran berdiskusi secara teknis dengan Oman untuk menyiapkan jalur pelayaran baru di selat itu. Rute sementara tersebut dirancang agar pada akhirnya dapat digunakan sebagai jalur permanen.
Para ahli dan Angkatan Bersenjata Iran dilibatkan dalam perancangan tersebut. Araghchi menyebut penurunan keamanan pada rute lama menjadi alasan utama pembentukan jalur alternatif.
“Saat ini kami bersama para ahli dan Angkatan Bersenjata Iran sedang merancang rute sementara yang nantinya ditargetkan menjadi rute permanen,” kata Araghchi. Pembahasan itu masih berada pada tahap perancangan jalur pelayaran.
Penentuan rute baru tidak serta-merta berarti Selat Hormuz akan langsung dibuka penuh. Iran menyatakan keputusan tersebut juga bergantung pada pemenuhan berbagai syarat utama oleh Amerika Serikat.
Araghchi mengatakan akses penuh akan dipertimbangkan setelah jalur baru berhasil ditentukan. Ia tidak menjelaskan rincian persyaratan yang harus dipatuhi Washington.
Perbedaan Tafsir soal Dokumen Islamabad
Iran turut membantah informasi mengenai perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Araghchi menilai istilah itu tidak sesuai dengan tujuan Memorandum Islamabad yang dimediasi Pakistan pada Juni 2026.
Menurut posisi Iran, memorandum itu dimaksudkan untuk mengakhiri perang secara permanen. Teheran tidak memandangnya sebagai kesepakatan penghentian pertempuran dalam batas waktu tertentu.
“Yang tercantum dalam Memorandum Islamabad adalah berakhirnya perang, bukan gencatan senjata. Amerika Serikat melanggar memorandum tersebut sehingga pertempuran kembali pecah,” tegas Araghchi.
Ia menjelaskan bahwa periode 60 hari dalam dokumen awal memiliki fungsi diplomatik. Waktu tersebut diperuntukkan bagi diplomasi intensif guna merumuskan kesepakatan akhir, bukan sebagai durasi gencatan senjata.
Dengan demikian, komunikasi yang masih difasilitasi Qatar dan Pakistan belum menandai pemulihan negosiasi Iran dan Amerika Serikat. Sementara pembukaan penuh Selat Hormuz tetap terkait pada rute baru serta respons Washington terhadap syarat Iran.






