Dari Ban Kapten ke Pinggir Lapangan, Momen Baru Cesc Fabregas di Emirates

Stadion Emirates akan kembali menyambut Cesc Fabregas, tetapi bukan dalam seragam Arsenal dan bukan pula sebagai kapten tim. Fabregas dijadwalkan hadir sebagai pelatih Como pada laga pramusim terakhir sebelum Community Shield.

Perubahan peran itu menjadi inti dari reuni yang mempertemukan masa lalu dan masa kini mantan gelandang Spanyol tersebut. Pada usia 39 tahun, ia membawa Como yang tengah melanjutkan perjalanan menuju Liga Champions.

Emirates dan Identitas Baru Fabregas

Fabregas pernah menjadi salah satu figur penting Arsenal saat masih aktif bermain. Kunjungannya kali ini menempatkan dirinya dalam posisi berbeda, yakni sebagai pengambil keputusan dari pinggir lapangan.

Pertandingan tersebut juga berlangsung ketika Arsenal sedang menghadapi dinamika komposisi pemain. Christian Norgaard telah meninggalkan klub untuk bergabung dengan Everton setelah membela The Gunners pada musim lalu.

Norgaard mengatakan kesempatan bermain dan berlatih bersama skuad Arsenal merupakan sebuah kehormatan besar baginya. Ia menilai para pemain di klub itu tidak hanya berbakat, tetapi juga memiliki karakter dan kepribadian yang kuat di luar lapangan.

“TERIMA KASIH, ARSENAL. Merupakan sebuah kehormatan besar bagi saya untuk mendapatkan kesempatan berlatih dan bermain bersama para pemain yang sangat berbakat seperti yang saya lakukan di Arsenal pada musim lalu,” ujar Norgaard. Ia juga menyebut budaya menang di dalam tim sebagai hal yang membuatnya bangga pernah menjadi bagian dari skuad.

Dari Pemain Como ke Pelatih Kepala

Perjalanan Fabregas di Como dimulai ketika ia bergabung sebagai pemain pada 1 Agustus 2022. Setelah itu, ia beralih ke staf pelatih dan terlibat dalam perubahan besar yang dialami klub Italia tersebut.

Como meraih promosi ke Serie A pada hari terakhir musim 2023-2024. Hasil imbang 1-1 melawan Cosenza memastikan langkah klub itu menuju kasta tertinggi sepak bola Italia.

Saat promosi itu tercapai, Fabregas bekerja sebagai asisten pelatih Osian Roberts. Klub tersebut juga mendapat dukungan investasi dari Dennis Wise dan Thierry Henry.

Fabregas kemudian ditunjuk sebagai pelatih kepala permanen pada Juli berikutnya. Dalam periode yang relatif singkat, Como disebut berkembang dari divisi keempat Liga Italia hingga menembus kompetisi tertinggi Eropa.

Karena itu, kunjungan ke Emirates bukan hanya nostalgia atas masa lalu Fabregas di Arsenal. Laga tersebut juga memperlihatkan perubahan kariernya dari seorang pemimpin di lapangan menjadi pelatih yang membawa proyek Como.

Harapan untuk Christos Tzolis

Arsenal turut memiliki cerita lain melalui kedatangan Christos Tzolis. Mantan Direktur Olahraga Norwich, Stuart Webber, menilai periode sulit yang dialami Tzolis di Norwich tidak dapat dijadikan ukuran tunggal atas kualitasnya.

Webber mengingatkan bahwa Viktor Gyokeres pernah berada lebih lama di Brighton dan menjalani beberapa masa peminjaman. “Gyokeres berada di Brighton lebih lama daripada Christos di Norwich dan dia memiliki banyak masa peminjaman. Itu tidak berjalan lancar, Gyokeres pergi dan kembali lebih kuat,” kata Webber.

Tzolis pernah berada di bawah arahan Daniel Farke, Dean Smith, dan Dave Wagner selama di Norwich. Menurut Webber, ketiganya bukan pelatih yang buruk, namun situasi saat itu membuat Tzolis menjadi pemain yang tepat pada waktu yang salah bagi klub dan tim.

Webber menyatakan Tzolis juga kecewa ketika kariernya tidak berjalan seperti harapan semua pihak. Ia berharap perkembangan sang pemain dapat berlanjut dan membantunya menunjukkan kemampuan di Liga Premier.

Baca Juga