Pada malam menjelang kemerdekaan Indonesia, sebuah mesin tik harus didatangkan dari kantor militer Jerman di Jakarta. Alat itu kemudian dipakai Sayuti Melik untuk menghasilkan naskah ketikan yang disetujui dan ditandatangani Soekarno serta Mohammad Hatta.
Mesin tik tersebut dipinjam dari Mayor Kandelar, perwira Angkatan Laut Nazi Jerman. Tanpa mesin berhuruf Latin itu, perumusan teks Proklamasi menghadapi kendala karena rumah Laksamana Tadashi Maeda hanya menyediakan mesin tik berhuruf kanji Jepang.
Peran mesin tik itu tidak berhenti pada proses penyalinan konsep tulisan tangan Soekarno. Sayuti Melik membuat penyesuaian penting pada ejaan, frasa, dan bagian penandatanganan yang membedakan hasil ketik dari draf awal.
Ia mengubah kata “tempoh” menjadi “tempo”. Frasa “wakil-wakil bangsa Indonesia” juga diganti menjadi “Atas nama Bangsa Indonesia”.
Ketikan Terburu-buru dengan Perubahan Penting
Sayuti Melik menambahkan “Soekarno-Hatta” pada bagian tanda tangan. Ia juga mengubah penulisan tanggal dari “Djakarta,17-8-05” menjadi “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05”.
Angka 05 dalam naskah itu merujuk pada tahun 2605 berdasarkan penanggalan Showa Jepang. Tahun tersebut bertepatan dengan 1945 Masehi.
Pengetikan dilakukan pada dini hari dalam situasi yang mendesak menjelang pagi. Hasilnya dilaporkan tampak sedikit miring dan tidak sepenuhnya rapi, tetapi isi naskah kemudian diterima sebagai bentuk otentik.
Sayuti Melik pernah menyampaikan alasan perubahan ejaan yang dilakukannya. “Saya berani mengubah ejaan itu adalah karena saya dulu pernah sekolah guru, jadi kalau soal ejaan bahasa Indonesia saya merasa lebih mengetahui daripada Bung Karno,” katanya.
| Dokumen | Bentuk Naskah | Keberadaan |
|---|---|---|
| Naskah Proklamasi Klad | Konsep tulisan tangan Soekarno | Disimpan di Arsip Nasional RI |
| Naskah Proklamasi Otentik | Ketikan Sayuti Melik | Disetujui dan ditandatangani Soekarno-Hatta |
Upaya Mendapatkan Mesin Berhuruf Latin
Kebutuhan akan mesin tik muncul ketika perumusan teks berlangsung di rumah Maeda, yang kini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Satsuki Mishima, sekretaris urusan rumah tangga Maeda, lalu berinisiatif mencari mesin tik lain.
Mishima pergi menggunakan Jeep menuju Gedung KPM di kawasan Koningsplein, yang sekarang dikenal sebagai Medan Merdeka Timur. Di kantor militer Jerman itu, ia bertemu Mayor Kandelar yang bersedia meminjamkan mesin tiknya.
Mesin tersebut segera dibawa kembali agar naskah dapat diketik sebelum pagi. BM Diah turut mendampingi Sayuti Melik dalam proses itu dan kemudian menyatakan bahwa ia berdiri di belakang Sayuti saat pengetikan berlangsung.
Draf Awal yang Diselamatkan BM Diah
Setelah naskah ketikan selesai, konsep tulisan tangan Soekarno ditinggalkan di dekat mesin tik. Hasil ketikan dibawa ke ruang rapat untuk dibahas oleh tokoh-tokoh yang hadir di rumah Maeda.
Konsep awal itu sempat masuk ke tempat sampah. Sayuti Melik mengira naskah tersebut hilang atau musnah setelah tidak menemukannya kembali.
BM Diah ternyata memungut draf itu dan menyimpannya untuk keperluan dokumentasi. Berkat langkah tersebut, Naskah Proklamasi Klad tetap terselamatkan dan kini berada di Arsip Nasional Republik Indonesia.
Rumah Maeda menjadi lokasi perundingan bagi Soekarno, Mohammad Hatta, Ahmad Soebardjo, Sukarni, dan BM Diah. Beberapa jam setelah proses pengetikan, Soekarno membacakan Proklamasi dengan didampingi Hatta di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta Pusat, pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB.
Mesin tik yang digunakan Sayuti Melik kini dapat dilihat di Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Menteng, Jakarta Pusat. Museum itu menempati bekas rumah Maeda, yang saat itu menjabat Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang.






