Gangguan listrik dan jaringan transmisi menjadi faktor utama yang menghambat layanan seluler setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores. Sebanyak 200 site base transceiver station atau BTS di Nusa Tenggara Timur tercatat terdampak.
Gangguan itu melibatkan jaringan Telkomsel, XLSmart, dan Indosat Ooredoo Hutchison. Data pemantauan hingga pukul 07.00 WIB menunjukkan jumlah site bermasalah setara 16,35 persen dari BTS di wilayah yang teridentifikasi.
Jaringan Seluler Terdampak di 10 Daerah
Dampak gangguan tidak hanya dirasakan di sekitar pusat gempa, tetapi tersebar di 10 kabupaten dan kota. Wilayah yang masuk dalam catatan meliputi sejumlah daerah di Pulau Flores sampai Timor Tengah Utara.
Sikka mencatat jumlah BTS terdampak paling banyak, yaitu 51 site dari total 192 BTS. Ende berada di urutan berikutnya dengan 31 site terganggu dari 118 BTS yang tersedia.
| Wilayah | Site Terganggu | Total Site | Rasio Gangguan |
|---|---|---|---|
| Sikka | 51 | 192 | 26,56% |
| Ende | 31 | 118 | 26,27% |
| Flores Timur | 26 | 161 | 16,15% |
| Manggarai | 22 | 150 | 14,67% |
| Manggarai Barat | 17 | 141 | 12,06% |
| Manggarai Timur | 16 | 80 | 20,00% |
| Ngada | 13 | 101 | 12,87% |
| Nagekeo | 11 | 73 | 15,07% |
| Lembata | 10 | 73 | 13,70% |
| Timor Tengah Utara | 3 | 134 | 2,24% |
Persentase gangguan tertinggi terdapat di Sikka dan Ende karena keduanya melampaui seperempat BTS eksisting. Manggarai Timur juga mencatat rasio cukup besar, dengan 16 BTS terganggu atau 20 persen dari 80 site.
Flores Timur mengalami gangguan pada 26 BTS, disusul Manggarai dengan 22 site dan Manggarai Barat dengan 17 site. Di Ngada terdapat 13 BTS terdampak, sedangkan Lembata mencatat 10 site bermasalah.
Nagekeo Dekat Pusat Gempa
Gempa terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 05.58 WITA. Pusat gempa berada di timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.
Nagekeo mencatat 11 BTS terdampak dari total 73 site yang ada. Timor Tengah Utara memiliki jumlah gangguan paling kecil dalam daftar, yaitu tiga BTS dari 134 site.
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Wayan Toni Supriyanto, mengatakan, “Sebanyak 16,35 % BTS di wilayah yang teridentifikasi, terdampak mengalami gangguan.” Pembaruan angka masih dimungkinkan karena operator terus menyampaikan laporan kondisi jaringan.
Penanganan Menunggu Kondisi Lapangan
Komdigi melakukan koordinasi bersama operator seluler, Tim Pemantauan Telekomunikasi, Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio, serta pemerintah daerah. Pemeriksaan lapangan dilakukan untuk mengetahui kondisi teknis pada site yang mengalami gangguan.
Pemulihan layanan bergantung pada ketersediaan listrik, kondisi transmisi, dan keamanan akses menuju setiap lokasi BTS. Penanganan teknis baru dapat dilakukan setelah situasi dinilai memungkinkan bagi petugas.
Wayan menyebut kondisi jaringan pascabencana dapat berubah dengan cepat. Masyarakat diminta memprioritaskan keselamatan dan tetap mengikuti arahan resmi dari lembaga yang berwenang.






