Lapangan Kerja Jadi Ukuran, Hilirisasi Diminta Tak Berhenti di Barang Antara

Pemerintah menempatkan penciptaan lapangan kerja sebagai salah satu ukuran utama manfaat investasi. Karena itu, hilirisasi diminta tidak berhenti pada produksi barang antara yang memiliki nilai tambah terbatas.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mendorong pengolahan sumber daya alam dilanjutkan sampai menjadi produk industri bernilai tambah tinggi. Langkah tersebut diharapkan memperluas penyerapan tenaga kerja dan memperkuat fondasi industri nasional.

Industri pengolahan sendiri menyumbang 13,53% terhadap penyerapan tenaga kerja nasional berdasarkan data Mei 2026. Catatan Kementerian Perindustrian itu menegaskan posisi manufaktur sebagai salah satu sektor penting bagi ketersediaan pekerjaan.

Manfaat Industri Menjangkau Pemasok dan Usaha Kecil

Dampak penguatan industri tidak hanya dinikmati perusahaan besar yang mengoperasikan pabrik. Kenaikan kegiatan produksi dapat membuka ruang pertumbuhan bagi pemasok bahan baku, pembuat komponen, dan industri kecil serta menengah.

Kebutuhan pengiriman bahan dan produk juga dapat mendorong aktivitas logistik. Dalam waktu yang sama, pemerintah mengharapkan industri yang lebih kuat mampu mempercepat perkembangan teknologi serta meningkatkan kapasitas ekspor.

“Industrialisasi harus menghasilkan multiplier effect yang luas,” kata Agus, sebagaimana dikutip Liputan6.com. Ia menyebut penyerapan tenaga kerja, perkembangan pemasok, kemajuan teknologi, dan ekspor yang lebih kuat harus menjadi hasil dari pertumbuhan industri.

Nilai Tambah Diupayakan Tetap Berada di Dalam Negeri

Agus menilai Indonesia perlu membangun rantai industri yang lebih dalam dan saling terintegrasi, dari hulu sampai hilir. Tujuannya adalah agar sumber daya yang tersedia tidak hanya diolah menjadi bahan antara, melainkan menjadi produk akhir dengan nilai ekonomi lebih besar.

Struktur tersebut juga dipandang dapat mengurangi ketergantungan terhadap negara lain dalam memenuhi kebutuhan strategis nasional. Isu ini menjadi semakin penting ketika kondisi global masih diwarnai ketidakpastian.

“Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, kita tidak boleh terlalu bergantung kepada negara lain untuk memenuhi kebutuhan strategis nasional,” ujar Agus. Ia menekankan penguatan industri dalam negeri harus dilakukan melalui pendalaman rantai nilai.

Realisasi Investasi dan Penyerapan Pekerja

Data yang disampaikan Presiden dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI Tahun 2026 menunjukkan investasi tetap menjadi penggerak penciptaan pekerjaan. Realisasi investasi tercatat besar pada 2025 dan berlanjut selama enam bulan pertama 2026.

PeriodeRealisasi InvestasiLapangan Kerja Tercipta
Sepanjang 2025Rp 1.931 triliunLebih dari 2,7 juta
Semester I-2026Rp 1.010 triliunLebih dari 1,4 juta

Agus menyatakan modal yang masuk tidak cukup hanya digunakan untuk membangun fasilitas produksi. Investasi juga diharapkan membawa teknologi, menggunakan produk dalam negeri, menguatkan rantai pasok, dan meningkatkan kemampuan sumber daya manusia.

Dalam keterangan tertulis pada 15 Agustus 2026, Agus menyampaikan pesan Presiden Prabowo Subianto mengenai arah investasi. “Bapak Presiden menegaskan bahwa pertumbuhan dan investasi bukanlah tujuan akhir, tetapi instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat,” kata Agus.

Menurut dia, setiap kebijakan industri perlu menghasilkan perbaikan nyata bagi masyarakat. Hilirisasi yang semakin dalam dinilai menjadi jalan untuk menahan lebih banyak nilai tambah di Indonesia sekaligus memperluas kesempatan kerja.

Baca Juga