Memilih motor 150 CC untuk touring perlu dimulai dari jenis rute yang paling sering dilalui. Motor yang lincah di jalan kota belum tentu menawarkan rasa berkendara yang sama saat menghadapi jalan bergelombang atau perjalanan antarkota.
Honda CB150X, Yamaha Vixion, dan Suzuki GSX-S150 memperlihatkan perbedaan itu melalui pendekatan masing-masing. Satu model lebih berorientasi pada jalan beragam, satu menggabungkan mobilitas harian dengan perjalanan jauh, sedangkan lainnya mengutamakan kelincahan.
Data Utama untuk Membandingkan Karakter
| Model | Mesin | Pembeda Utama |
|---|---|---|
| Honda CB150X | 149,16 cc DOHC 4 katup | Ground clearance 181 mm dan transmisi 6-percepatan |
| Yamaha Vixion | 149,8 cc | Jok 795 mm dan Assist & Slipper Clutch |
| Suzuki GSX-S150 | 147,3 cc DOHC | Karakter ringan untuk pengendalian |
1. Honda CB150X untuk Pengendara yang Sering Bertemu Jalan Tidak Rata
Honda CB150X menjadi pilihan yang paling dekat dengan konsep adventure-touring. Motor ini ditujukan bagi pengendara yang membutuhkan kendaraan untuk menghadapi rute pegunungan, jalan bergelombang, dan kondisi lintas kota yang tidak seragam.
Faktor pendukungnya terdapat pada suspensi depan Showa inverted telescopic 37 mm dengan travel 150 mm. Suspensi belakang menggunakan Pro-Link, sedangkan ground clearance mencapai 181 mm.
Mesin 149,16 cc DOHC 4 katup dengan PGM-FI dan pendingin cairan menghasilkan tenaga maksimum 15,6 PS pada 9.000 rpm. Torsi maksimumnya mencapai 13,8 Nm pada 7.000 rpm.
CB150X juga memakai transmisi 6-percepatan, tangki 12 liter, dan ban tubeless. Rasio gigi yang lebih banyak dapat membantu pengendara menyesuaikan laju saat kondisi kecepatan berubah.
Tinggi jok 817 mm perlu diperhitungkan sebelum menentukan pilihan. Angka tersebut dapat menjadi pertimbangan khusus bagi pengendara dengan postur lebih pendek.
2. Yamaha Vixion sebagai Motor Sport yang Lebih Mudah Dipakai Sehari-hari
Yamaha Vixion mengusung karakter naked sport serbaguna untuk pengguna yang tidak hanya melakukan perjalanan luar kota. Tinggi jok 795 mm membuatnya memiliki posisi duduk lebih rendah daripada CB150X.
Motor ini menggunakan mesin 149,8 cc berpendingin cairan dengan fuel injection. Tenaga maksimumnya 12,2 kW pada 8.500 rpm, dengan torsi 14,5 Nm pada 7.500 rpm.
Tangki bahan bakar berkapasitas 12 liter menjadi salah satu penunjang perjalanan. Vixion juga memiliki ban tubeless, Monocross suspension, lampu LED, hazard lamp, panel instrumen digital, serta rem cakram depan dan belakang.
Assist & Slipper Clutch menjadi fitur yang relevan dalam penggunaan touring. Yamaha menjelaskan sistem tersebut dirancang untuk membuat pengoperasian kopling lebih ringan dan perpindahan gigi lebih halus.
Karakter ini berguna saat motor harus menghadapi tikungan atau perubahan arus lalu lintas. Vixion cocok untuk pengguna yang membutuhkan motor sport sebagai kendaraan rutin tanpa menutup kebutuhan perjalanan jarak menengah.
3. Suzuki GSX-S150 untuk Manuver yang Lebih Ringan
Suzuki GSX-S150 menempatkan kelincahan sebagai karakter utama. Motor naked sport ini dapat memberi keuntungan ketika pengendara melintasi ruas sempit, kawasan padat, atau area parkir yang membutuhkan manuver lebih sering.
GSX-S150 menggunakan mesin DOHC berkapasitas 147,3 cc. Suzuki menyebut motor ini dilengkapi hazard lamp dan sistem starter praktis.
Ergonominya dirancang untuk membantu pengendalian sekaligus kenyamanan berkendara. Konsep tersebut berbeda dengan CB150X yang membawa perangkat khas adventure, seperti ground clearance tinggi dan suspensi depan dengan travel panjang.
Untuk kebutuhan membawa perlengkapan, pemilik dapat mempertimbangkan soft luggage atau tank bag. Windshield aftermarket juga dapat menjadi tambahan, selama tidak mengurangi keleluasaan pengendara mengendalikan motor.
Kenyamanan Tidak Cukup Dinilai dari Data Mesin
Mesin yang nyaman pada putaran menengah penting untuk menghadapi tanjakan dan beban barang. Di sisi lain, kemampuan suspensi meredam jalan serta posisi setang dan footstep sering menjadi faktor yang lebih terasa dalam perjalanan panjang.
Test ride diperlukan untuk menilai rasa motor sesuai postur dan kebiasaan berkendara. Pengendara juga perlu mempertimbangkan jaringan servis, suku cadang, biaya perawatan, serta aksesori yang dibutuhkan.






