Padatnya kalender MotoGP 2026 menjadi perhatian Luca Marini karena dinilai hampir tidak menyisakan waktu jeda bagi pembalap. Ia berharap susunan balapan dapat dibuat lebih berdekatan agar masa istirahat musim dingin menjadi lebih panjang.
Bagi Marini, jeda tersebut penting untuk menangani cedera lama serta menjalani fisioterapi dan latihan fisik secara lebih terencana. “Dengan kalender saat ini, praktis tidak ada jeda. Saya berlatih sepanjang tahun,” kata pembalap Honda itu.
Tekanan Musim Berjalan Bersamaan dengan Tuntutan Teknis
Keluhan mengenai kalender datang ketika Honda masih berupaya mengejar performa para rival melalui pengembangan RC213V. Marini menilai pekerjaan utama tim berada pada peningkatan aerodinamika, cengkeraman belakang, dan kecepatan satu putaran.
Hingga seri ke-12, Marini berada di urutan ke-10 klasemen MotoGP 2026 dengan koleksi 86 poin. Posisi tersebut membuatnya menjadi pembalap Honda dengan peringkat terbaik sementara pada musim ini.
Catatan klasemen itu tidak menghapus penilaian Marini bahwa Honda masih tertinggal cukup jauh. Ia menggunakan performa Aprilia di Silverstone sebagai gambaran besarnya selisih yang perlu dikejar.
Aprilia Menjadi Ukuran Jarak Honda
Menurut Marini, Aprilia mengalami kemajuan besar dibandingkan musim sebelumnya dan tampil sangat kuat di Sirkuit Silverstone. Keunggulan lebih dari satu detik per putaran di lintasan tersebut menunjukkan pekerjaan besar yang masih dihadapi Honda.
Marini menyelesaikan Grand Prix Inggris pada pertengahan Agustus 2026 dari posisi start ke-15 dan finis kesembilan. Ia sempat kehilangan sejumlah posisi pada dua tikungan awal, lalu kembali menyalip beberapa pembalap sepanjang balapan.
Pembalap Italia itu juga melebar di tikungan ke-16, tetapi tetap menjaga finis di sembilan besar. Ia tidak menemukan masalah berarti pada keausan ban, sehingga kendala utama justru kembali mengarah pada hasil kualifikasi.
Kecepatan Satu Putaran Belum Memadai
Marini menilai potensi Honda pada balapan Minggu sebenarnya cukup baik. Ia beberapa kali merasa mampu menjadi pembalap tercepat di antara pengguna motor Jepang saat kondisi lomba berlangsung.
Masalah muncul ketika posisi start berada di urutan ke-15 atau ke-16. Dari barisan belakang, pembalap harus menghabiskan banyak waktu untuk menyalip sebelum dapat mengejar kelompok di depan.
Joan Mir, rekan setim Marini, disebut mampu membuat perbedaan lewat pengereman yang sangat agresif dan dalam ketika kualifikasi. Gaya itu membantu mengurangi sebagian kekurangan teknis Honda saat pembalap menjalani putaran cepat seorang diri.
Grip dan Aero Perlu Titik Temu
Marini menyebut peningkatan grip belakang tidak bisa dilakukan tanpa risiko. Saat cengkeraman ditambah, motor dapat bergetar ketika diangkat dari kemiringan dan kehilangan waktu akibat guncangan serta respons kontrol traksi.
Cengkeraman pada sisi luar ban juga belum cukup untuk menghasilkan putaran cepat. Honda karena itu perlu menemukan keseimbangan, bukan sekadar mengejar tambahan grip.
Pada bidang aerodinamika, Marini mendorong pengembangan yang lebih cepat karena regulasi masih memberi ruang cukup besar. Ia menilai insinyur perlu merasakan langsung perbedaan motor saat memakai winglet dan saat komponen itu dilepas agar memahami dampaknya secara menyeluruh.
Honda telah mencoba banyak perubahan sepanjang paruh pertama musim, tetapi karakter dasar motor masih dirasakan serupa oleh Marini. Fondasi yang ada perlu dipertahankan sambil dicari tambahan performa, terutama untuk mengangkat hasil kualifikasi.






