Memaksakan berkendara saat tubuh lelah dapat menurunkan kemampuan pengemudi membaca situasi jalan dan mengambil keputusan. Risiko itu kembali terlihat dalam kecelakaan yang melibatkan vokalis Yukie PAS Band di Bandung.
Yukie Tendo mengalami luka serius pada kepala hingga mendapat 10 jahitan setelah mobilnya ditabrak kendaraan lain. Pengemudi kendaraan tersebut dilaporkan tertidur sejenak atau mengalami microsleep saat berada di balik kemudi.
Lelah Menurunkan Respons Pengemudi
Founder dan Lead Instructor Jakarta Defensive Driving Consulting, Jusri Pulubuhu, menilai mengemudi dalam kondisi lelah sangat berbahaya. Kelelahan membuat konsentrasi dan respons pengemudi terhadap situasi di jalan menurun.
“Mengemudi dalam keadaan lelah sangat berbahaya karena dapat mengurangi konsentrasi dan respons terhadap situasi di jalan,” kata Jusri. Pengemudi yang tetap melanjutkan perjalanan ketika tubuh tidak fit berisiko lebih mudah melakukan kesalahan.
Kesalahan tersebut dapat berupa keliru menghitung jarak maupun kecepatan kendaraan. Refleks yang berkurang juga menyulitkan pengemudi merespons perubahan situasi secara mendadak.
Karena itu, waktu istirahat perlu direncanakan sebagai bagian dari perjalanan, bukan ditunda sampai kondisi tubuh sangat lemah. Jusri menyarankan jeda setiap dua hingga tiga jam bagi pengemudi yang melakukan perjalanan panjang.
Waktu jeda itu dapat digunakan untuk tidur sekitar 15 hingga 30 menit sebelum perjalanan diteruskan. Peregangan ringan pada leher, bahu, tangan, dan kaki juga dapat membantu tubuh menjadi lebih rileks.
| Kondisi Perjalanan | Langkah yang Dianjurkan | Manfaat |
|---|---|---|
| Sebelum berangkat | Tidur cukup | Mengurangi kelelahan |
| Muncul kantuk dan pegal | Berhenti untuk beristirahat | Mengembalikan fokus |
| Perjalanan jauh | Jeda tiap 2-3 jam | Waktu tidur 15-30 menit dan peregangan |
Microsleep Membuat Otak Tidak Siaga
Praktisi keselamatan berkendara Sony Susmana menjelaskan microsleep sebagai kondisi ketika otak pengemudi blank akibat kelelahan. Kondisi ini dapat terjadi bila tubuh tidak memperoleh kesempatan untuk beristirahat dan menyegarkan diri secara berkala.
Dalam keadaan tersebut, pengemudi dapat kehilangan perhatian terhadap jalan dalam hitungan singkat. Padahal, jeda singkat saat kendaraan terus bergerak sudah cukup untuk menimbulkan bahaya bagi pengguna jalan lain.
Gejala seperti menguap, pegal, dan rasa kantuk perlu diperlakukan sebagai peringatan. Sony menyarankan pengemudi berhenti, mengambil waktu istirahat, lalu melakukan peregangan ringan ketika tanda itu muncul.
Upaya melawan kantuk dengan tetap mengemudi tidak menghilangkan sumber masalah, yakni kelelahan tubuh. Tidur yang cukup sebelum perjalanan menjadi langkah awal untuk mengurangi peluang microsleep.
Kecelakaan Terjadi di Jalan AH Nasution
Insiden yang melibatkan Yukie terjadi pada Sabtu (15/8) siang di Jalan AH Nasution, Sukamiskin Arcamanik, Bandung. Kendaraan yang dikendarainya ditabrak mobil lain setelah pengemudinya disebut kehilangan kendali.
Drummer PAS Band, Sandy, mengatakan keluarga pengemudi penabrak telah bersikap kooperatif setelah kejadian. Ia juga menyebut pengemudi tersebut mengalami microsleep karena kondisi fisiknya lelah.
“Keluarga penabrak sudah kooperatif, ternyata microsleep,” ujar Sandy. Keterangan itu memperlihatkan bahwa kecelakaan tidak selalu berawal dari tindakan yang terlihat agresif, tetapi juga dapat dipicu oleh tubuh yang dipaksa terus bekerja.
Peristiwa tersebut menjadi peringatan bagi pengemudi untuk tidak menjadikan target tiba di tujuan sebagai alasan mengabaikan kondisi fisik. Saat kantuk muncul, berhenti dan beristirahat merupakan keputusan yang lebih aman bagi semua pihak di jalan.






