Getaran Gempa NTT Menembus Bali dan Sulsel, Struktur Tanah Jadi Faktor

Getaran gempa kuat dari laut di timur laut Nagekeo dirasakan melampaui wilayah Nusa Tenggara Timur. Bali dan Sulawesi Selatan turut merasakan guncangan, sementara sejumlah daerah di NTT dan NTB mencatat intensitas yang cukup kuat.

BMKG mencatat intensitas V MMI di Kota Bima dan Kabupaten Dompu. Ruteng, Ende, Labuan Bajo, Maumere, serta Sumba Timur mengalami intensitas IV–V MMI.

Getaran Tidak Selalu Sama di Setiap Daerah

Perbedaan kekuatan getaran yang dirasakan warga tidak hanya berkaitan dengan lokasi episentrum. Struktur batuan dan kondisi sedimen di permukaan juga dapat memengaruhi respons tanah terhadap gelombang gempa.

Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat daerah sekitar sumber gempa tersusun oleh batuan gunung api berumur Tersier serta batuan sedimen berumur Kuarter. Morfologi wilayahnya pun beragam, mulai dari dataran hingga pegunungan.

Data tapak lokal Vs30 menempatkan kawasan sekitar episentrum pada Kelas Tanah C, D, dan E. Kelas tersebut mencakup tanah sangat padat atau batuan lunak, tanah sedang, dan tanah lunak.

Menurut Kepala Badan Geologi Lana Saria, batuan yang melapuk dan sedimen permukaan dapat memperbesar getaran yang diterima di permukaan. Penjelasan ini penting untuk memahami dampak gempa yang tidak terbatas pada area paling dekat dengan pusat guncangan.

Gempa Terjadi Menjelang Pagi

Gempa terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58.23 WIB. Episentrumnya berada di laut, di sebelah timur laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

Parameter gempa yang dicatat lembaga pemantau mengalami pembaruan. Berikut rincian data yang tersedia dari BMKG dan GeoForschungsZentrum atau GFZ.

PencatatMagnitudoKedalamanKoordinat atau Lokasi
BMKG, parameter awalM7,010 km8,33 LS–121,32 BT
Pembaruan parameterM7,715 kmTimur Laut Nagekeo
GFZM6,2510 km8,375 LS–121,545 BT

Besarnya jangkauan getaran menjadi pengingat bahwa dampak Gempa NTT perlu dilihat bersama kondisi lokal tiap wilayah. Warga yang merasakan guncangan diminta tetap tenang dan mencermati lingkungan sekitar.

Kawasan Memiliki Kerawanan Menengah hingga Tinggi

Berdasarkan parameter sumber, gempa berkaitan dengan mekanisme sesar naik. Badan Geologi menyebut mekanisme itu berasosiasi dengan Flores Back Arc Thrust, atau Zona Sesar Naik Busur Belakang Flores.

Kawasan tersebut berada dalam kategori kerawanan gempa bumi menengah sampai tinggi. Karena itu, arahan kesiapsiagaan setelah gempa utama tidak boleh diabaikan.

Masyarakat diminta mengikuti petunjuk BPBD setempat dan memeriksa kondisi bangunan sebelum kembali menjalankan aktivitas. Jika ada instruksi evakuasi, warga perlu mematuhi rambu serta jalur yang telah ditetapkan.

Kewaspadaan terhadap gempa susulan juga tetap perlu dijaga. Area tebing yang berpotensi mengalami pergerakan tanah, khususnya saat hujan, sebaiknya dihindari.

Informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan mengenai gempa dan tsunami tidak perlu disebarkan. Rujukan utama bagi warga adalah informasi resmi dari lembaga terkait dan pemerintah daerah.

Baca Juga