Gempa M7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8) menegaskan bahwa kawasan tersebut dikelilingi lebih dari satu sumber aktivitas tektonik. Ancaman tidak hanya berasal dari zona subduksi di selatan, tetapi juga dari patahan aktif di dasar laut sebelah utara Flores.
Patahan utara itu dikenal sebagai Flores Back Arc Thrust atau Sesar Naik Flores. Sistem tersebut memiliki potensi gempa hingga M7,8 dan membentang sampai ke Laut Utara Lombok.
Dua Jalur Tektonik di Sekitar Flores
Posisi Flores berada di antara dua sistem tektonik yang berbeda. Di utara terdapat sesar naik busur belakang, sedangkan di selatan terdapat zona pertemuan Lempeng Indo-Australia dengan wilayah Sunda-Banda.
| Sistem | Letak | Peran dalam Aktivitas Gempa |
|---|---|---|
| Flores Back Arc Thrust | Utara Flores hingga Laut Utara Lombok | Sesar naik aktif di dasar laut |
| Zona subduksi | Selatan Flores | Sumber aktivitas dari pertemuan lempeng |
Selain dua jalur utama tersebut, kawasan Nusa Tenggara memiliki sesar-sesar lokal yang terbentuk oleh aktivitas tektonik. Beragam sumber ini saling berperan dalam tingginya aktivitas kegempaan di Flores dan sekitarnya.
Dosen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Amien Widodo, menjelaskan Lempeng Indo-Australia bergerak ke arah utara. Arah gerak itu mencakup kawasan Jawa, Bali, dan Lombok serta memberi tekanan pada wilayah Nusa Tenggara.
Aktivitas Patahan Tidak Terpusat di Satu Titik
Flores Back Arc Thrust merupakan sesar naik yang terbentuk di belakang busur vulkanik Flores. Sesar jenis ini terjadi ketika tekanan pada kerak bumi mendorong satu bagian kerak naik terhadap bagian lainnya.
Amien Widodo menyatakan bagian sesar yang aktif dapat berubah pada waktu yang berbeda. Kondisi tersebut membuka kemungkinan munculnya gempa susulan berulang di sekitar jalur patahan bawah laut.
Tekanan tektonik juga tidak selalu dilepaskan dalam pola yang mudah diperkirakan. Karena itu, sesar naik, subduksi, dan patahan lokal perlu dibaca sebagai sistem yang memengaruhi aktivitas gempa secara regional.
BMKG Soroti Potensi M7,8
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menyebut gempa M7 itu berkaitan dengan aktivitas sesar naik busur belakang Flores. Dalam konferensi pers peringatan dini tsunami, ia mengatakan, “Gempa ini adalah aktivitas akibat sesar naik busur belakang atau biasa kita sebut back arc thrust Flores. Potensinya 7,8 di sana.”
Potensi kekuatan tersebut menjadi alasan pemantauan kondisi setelah gempa besar perlu dilakukan secara berkelanjutan. BMKG memantau aktivitas kegempaan dan kondisi muka air laut melalui stasiun-stasiun pemantauan yang dimiliki.
Peristiwa terbaru juga mengingatkan pada gempa besar Flores pada 1992. Wijayanto menyebut gempa saat itu berkekuatan sekitar M7,5 dan menimbulkan dampak besar.
Keberadaan Sesar Naik Flores menunjukkan bahwa pemahaman risiko gempa di Nusa Tenggara tidak boleh hanya terpusat pada sisi selatan pulau. Dasar laut di utara Flores juga menyimpan struktur aktif yang penting dalam pemantauan kebencanaan.






