Ketegangan Jose Mourinho dengan Iker Casillas di Real Madrid menjadi salah satu kisah paling tajam dalam dokumenter Mourinho. Kapten tim tersebut sempat dicadangkan sebelum Mourinho pada akhirnya meninggalkan klub.
Bab di Real Madrid memperlihatkan bahwa perjalanan Mourinho tidak hanya ditentukan oleh hasil pertandingan. Persaingannya dengan Pep Guardiola dan konflik internal turut membentuk periode kepelatihannya di Spanyol.
Dokumenter itu juga menyoroti pernyataan Mourinho mengenai anggapan bahwa performanya selalu menurun pada musim ketiga di sebuah klub. Ia menolak mitos tersebut dengan jawaban singkat, “Saya nggak percaya.”
Pemimpin yang Menuntut Tanpa Kompromi
Gaya Mourinho di ruang ganti digambarkan keras, tetapi beberapa mantan anak asuhnya melihat tuntutan itu sebagai cara membangun kekuatan tim. Ia menempatkan standar permainan di atas penghargaan individu maupun status pemain.
Zlatan Ibrahimovic mengalami langsung pendekatan tersebut saat membela Inter Milan. Ketika menerima penghargaan pemain terbaik Serie A pada jeda pertandingan, ia tetap mendapat kritik dari Mourinho atas penampilannya di babak pertama.
“Itu karena di babak pertama saya main buruk,” ujar Ibrahimovic mengenai respons sang pelatih. Bagi Mourinho, pengakuan personal tidak menutupi penampilan yang dinilai belum memenuhi tuntutan pertandingan.
Javier Zanetti memberikan gambaran berbeda mengenai pengaruh Mourinho di Inter. Menurut mantan kapten itu, Mourinho menyatukan para pemain seperti keluarga dan membuat mereka siap melakukan segala cara untuknya.
| Mantan Pemain | Periode Klub | Pengalaman dengan Mourinho |
|---|---|---|
| Zlatan Ibrahimovic | Inter Milan | Tetap dikritik meski menerima penghargaan individu. |
| Javier Zanetti | Inter Milan | Melihat skuad disatukan layaknya keluarga. |
| Eden Hazard | Chelsea | Mengingat sambutan positif atas kedatangannya. |
Eden Hazard mengingat atmosfer Chelsea ketika Mourinho datang sebagai pelatih. Ia mengutip Frank Lampard yang berkata, “lihatlah pelatih terbaik datang”.
Perpecahan dengan Petinggi Chelsea
Di balik keberhasilan awalnya, Mourinho juga menghadapi benturan kepentingan dengan pemilik Chelsea, Roman Abramovich. Hubungan itu memburuk setelah dua musim pertama yang menghasilkan gelar Liga Inggris.
Perbedaan pandangan mengenai transfer menjadi salah satu titik konflik yang diungkap dalam dokumenter. Mourinho mengatakan bahwa ia menginginkan Samuel Eto’o, tetapi klub memilih mendatangkan Andriy Shevchenko.
“Saya maunya klub beli Samuel Eto’o tapi malah beli Shevchenko. Ya dia memang dekat dengan petinggi-petinggi Chelsea,” kata Mourinho. Ia menilai ada terlalu banyak campur tangan klub dalam periode tersebut.
Konflik itu berujung pada pemecatan Mourinho pada musim ketiganya di Chelsea. Kisah tersebut menjadi kontras dengan citranya sebagai pelatih yang sebelumnya langsung membawa klub meraih dua gelar liga secara beruntun.
Jalan Panjang dari Barcelona
Sebelum dikenal sebagai pelatih dengan karakter kuat, Mourinho bekerja sebagai asisten Sir Bobby Robson di Barcelona selama empat tahun. Ia menegaskan bahwa pekerjaannya bukan sekadar menjadi penerjemah.
Perannya mencakup mengamati pertandingan, membantu pelatih, melakukan pencarian pemain, serta mempelajari lawan. Mourinho kemudian memulai karier sebagai pelatih kepala pada 2000.
Namanya melambung setelah membawa Porto menjuarai Liga Champions pada periode 2002-2004. Kesuksesan itu membuka jalan bagi Mourinho untuk menangani Chelsea, Inter Milan, Real Madrid, Manchester United, Tottenham Hotspur, AS Roma, Fenerbahce, dan Benfica.






