Indonesia hadir dalam karya Stephanie Poetri bukan melalui pernyataan besar, melainkan lewat batik, cerita angkot, dan lirik berbahasa Indonesia. Musisi yang berkarier di Amerika Serikat itu memilih detail personal sebagai cara menjaga identitasnya di panggung global.
Pilihan tersebut juga menjadi jawabannya atas tuntutan tak tertulis untuk menjadi wajah Indonesia. Stephanie ingin membawa asal-usulnya secara jujur, tanpa menganggap dirinya mampu mewakili seluruh pengalaman masyarakat Indonesia.
Dalam salah satu penampilan festival, Stephanie pernah membeli kain batik dan menjadikannya tali pinggang. Bagi penonton Indonesia yang melihatnya, elemen itu menjadi penanda kecil yang langsung akrab.
Ia memandang simbol semacam itu sebagai kejutan kecil bagi orang yang berhasil menangkapnya. Kebiasaan tersebut berkaitan dengan kegemarannya sejak kecil ketika menemukan nama Indonesia atau Jakarta disebut dalam film.
Pengalaman Tangerang dalam lagu
Stephanie lahir dan bersekolah di Tangerang, sehingga ia mengatakan tetap merasa sangat Indonesia walaupun memegang paspor Amerika Serikat. Pengalaman hidup itu tidak berhenti sebagai latar belakang, tetapi ikut membentuk bahan penulisan musiknya.
Ia menyebut cerita masa kecilnya di Indonesia menjadi salah satu sumber gagasan untuk lagu “Nona” milik grup no na. Kisah mengenai panasnya berjalan menuju tempat kerja dan keinginan naik angkot berkembang menjadi bahan pembicaraan di ruang penulisan.
Lirik berbahasa Indonesia dalam karya no na umumnya berasal dari Stephanie. Para penulis lain dalam proses tersebut berasal dari latar negara yang berbeda, sehingga ia mengambil peran untuk membawa unsur bahasa Indonesia.
Menurut Stephanie, pendengar di Amerika Serikat dapat menangkap keunikan cara pengucapan bahasa Indonesia dalam lagu. Respons itu membuat penggunaan bahasa Indonesia terasa sebagai kekuatan yang menarik, bukan hambatan.
Tidak mengklaim semua pengalaman
Meski ingin memperlihatkan identitas Indonesia, Stephanie menyadari bahwa satu orang tidak dapat menjadi gambaran tunggal bagi hampir 300 juta penduduk. Setiap orang Indonesia, menurutnya, memiliki latar dan pengalaman yang tidak sama.
Kepada Medcom.id, ia mengatakan ucapan dan tindakannya dapat menjadi perkenalan pertama tentang orang Indonesia bagi sebagian orang di luar negeri. Kesadaran itu membuatnya ingin bersikap representatif tanpa kehilangan karakter asli.
Saat tampil di berbagai kota di luar Indonesia, Stephanie kerap bertanya apakah ada penonton Indonesia di antara kerumunan. Sejauh ini, ia selalu menemukan setidaknya satu orang yang menjadi pengingat akan rumah.
Di Los Angeles, ia berusaha mempertahankan kedekatan dengan komunitas Indonesia. Ia juga bekerja sama dengan sejumlah musisi dari tanah air sebagai bagian dari hubungan yang terus dijaga.
Mendorong akses yang lebih terbuka
Stephanie menilai media sosial telah memperluas kesempatan musisi Indonesia untuk menjangkau pendengar global. Namun, ia menegaskan akses tersebut masih dipengaruhi privilege, terutama kemampuan ekonomi untuk bepergian dan bekerja di luar negeri.
Karena itu, ia berharap orang yang memiliki peluang lebih besar turut membuka jalan bagi yang lain. Ketika pulang ke Indonesia, Stephanie mengaku sering berbincang dengan artis lokal dan mengenalkan karya mereka kepada kenalannya di Amerika Serikat.
Ia secara khusus tertarik merekomendasikan penyanyi yang tetap bernyanyi dalam bahasa Indonesia. Baginya, musik Indonesia lebih menarik ketika hadir dengan identitas bahasa sendiri dibandingkan karya yang sepenuhnya menyesuaikan pasar berbahasa Inggris.
Stephanie juga meminta musisi muda tidak menggunakan AI dalam bermusik. Ia menilai usaha menemukan genre dan suara sendiri merupakan bagian penting dari proses berkarya yang tidak harus langsung sempurna.
Selain menulis lagu, Stephanie kini mempelajari instrumen dan mengeksplorasi peran sebagai produser. Ia juga mempertimbangkan kemungkinan memasukkan bunyi gamelan dan angklung ke proyek musiknya kelak.






