Ruang digital, hutan adat, perbatasan negara, dan negeri asing menjadi latar enam film yang membicarakan perjuangan dari sudut berbeda. Cerita-cerita ini tidak mengandalkan gambaran perang, melainkan tekanan sosial yang dapat menguji harga diri, hak, dan hubungan dengan Indonesia.
Yang paling dekat dengan situasi masa kini hadir dalam Budi Pekerti, ketika satu video memicu ancaman terhadap pekerjaan dan ketenangan sebuah keluarga. Sementara itu, Eksil menghadirkan pengalaman mahasiswa Indonesia yang terpisah dari tanah air akibat peristiwa politik 1965.
Berikut enam pilihan film perjuangan Indonesia dengan tema pendidikan, kesetaraan, diskriminasi, dan identitas. Klasifikasinya juga beragam, dari SU hingga 17+.
| Film | Tahun | Tema Utama | Tayangan |
|---|---|---|---|
| Tanah Surga… Katanya | 2012 | Perbatasan dan kebangsaan | Vidio |
| Sokola Rimba | 2013 | Pendidikan Orang Rimba | Netflix, Prime Video |
| Kartini | 2017 | Hak perempuan | Vidio |
| Bumi Manusia | 2019 | Diskriminasi kolonial | Netflix |
| Budi Pekerti | 2023 | Martabat di era digital | Netflix |
| Eksil | 2024 | Identitas di pengasingan | Pemutaran terbatas |
1. Tanah Surga… Katanya (2012)
Film garapan Herwin Novianto ini mengikuti kehidupan Hasyim di perbatasan Indonesia-Malaysia, Kalimantan. Mantan sukarelawan Konfrontasi Indonesia-Malaysia 1965 itu memilih menetap di Indonesia di tengah kondisi ekonomi dan pembangunan yang terbatas.
Haris, anak Hasyim, justru ingin tinggal di Malaysia karena menilai kehidupannya lebih menjanjikan. Konflik pilihan itu berjalan bersama upaya Astuti mengajar di sekolah yang serba kekurangan dan dokter Anwar melayani kesehatan warga.
Tanah Surga… Katanya memperlihatkan bahwa rasa kebangsaan dapat berbenturan dengan kebutuhan sehari-hari. Film SU ini tersedia untuk ditonton di Vidio.
2. Sokola Rimba (2013)
Sokola Rimba menempatkan pendidikan sebagai alat untuk mengenali dan mempertahankan hak. Film arahan Riri Riza ini terinspirasi pengalaman Butet Manurung ketika mengajar baca, tulis, dan berhitung bagi masyarakat adat Orang Rimba di Hutan Bukit Duabelas, Jambi.
Prisia Nasution memerankan Butet yang bertemu Bungo, anak yang ingin dapat membaca surat perjanjian mengenai tanah adat. Upaya tersebut mendapat penolakan dari lingkungan kerja dan sebagian masyarakat yang melihat pendidikan sebagai ancaman.
Keinginan Bungo membaca dokumen tanah menegaskan pentingnya pengetahuan bagi masyarakat adat. Film berklasifikasi SU ini tersedia di Netflix dan Prime Video.
3. Kartini (2017)
Kesempatan belajar yang tidak setara menjadi latar utama Kartini. Film Hanung Bramantyo ini menggambarkan awal 1900-an ketika perempuan pribumi sangat terbatas dalam mengakses pendidikan.
Kartini, yang diperankan Dian Sastrowardoyo, menyaksikan ibunya, Ngasirah, diperlakukan rendah karena tidak berdarah ningrat. Pengalaman itu, bersama kegemarannya membaca dan berdiskusi, menguatkan pandangannya mengenai kesetaraan dan hak perempuan.
Bersama Roekmini dan Kardinah, Kartini mendirikan sekolah bagi masyarakat miskin serta membuka lapangan pekerjaan di Jepara. Film R13 ini dapat ditonton di Vidio.
4. Bumi Manusia (2019)
Melalui Minke, Bumi Manusia menunjukkan wajah diskriminasi di Hindia Belanda awal abad ke-20. Pemuda pribumi itu bersekolah di HBS dan menjalin kedekatan dengan Annelies, putri Nyai Ontosoroh.
Ketika hukum kolonial berusaha memisahkan Annelies dari keluarganya, Minke dan Nyai Ontosoroh menentang ketidakadilan tersebut. Pendidikan, tulisan, dan suara yang berani menjadi jalan perlawanan mereka.
Film Hanung Bramantyo ini berkategori 17+ dan tersedia di Netflix. Ceritanya menekankan bahwa kekuatan fisik bukan satu-satunya cara menghadapi penindasan.
5. Budi Pekerti (2023)
Prani adalah guru BK yang menghadapi konsekuensi berat setelah video perselisihannya dengan pengunjung pasar beredar di media sosial. Dalam Budi Pekerti, ancaman kehilangan pekerjaan berkembang menjadi tekanan yang mengguncang keluarganya.
Tita dan Muklas berusaha mendampingi Prani pada saat Didit, ayah mereka, sedang mengalami depresi. Film karya Wregas Bhanuteja ini menggambarkan rapuhnya martabat seseorang saat penghakiman publik menyebar dengan cepat.
Budi Pekerti memiliki klasifikasi 13+ dan tersedia di Netflix. Konfliknya menempatkan keluarga sebagai ruang bertahan ketika tekanan datang dari luar.
6. Eksil (2024)
Dokumenter Eksil karya Lola Amaria mengikuti mahasiswa penerima beasiswa pemerintah Presiden Soekarno yang berada di luar negeri pada 1965. Peristiwa politik saat itu membuat mereka tidak dapat kembali ke Indonesia.
Mereka kemudian tersebar di China, Uni Soviet, Belanda, Cekoslowakia, Jerman, dan Swedia. Sebagian kehilangan kewarganegaraan serta hidup puluhan tahun jauh dari keluarga dan tanah air.
Film ini menggambarkan upaya para tokohnya menjaga identitas sekaligus membangun hidup di tempat baru. Eksil berklasifikasi 13+ dan sebelumnya diputar terbatas di sejumlah bioskop Indonesia.






