Pemerintah mengaitkan target produksi satu juta motor listrik dengan upaya mengurangi penggunaan bahan bakar minyak impor. Kebijakan ini sekaligus ditujukan untuk menurunkan biaya kendaraan bagi masyarakat dan memperluas industri kendaraan listrik dalam negeri.
Presiden Prabowo Subianto menyatakan insentif akan diberikan kepada pihak yang mampu membangun motor listrik produksi dalam negeri melalui perusahaan Indonesia. Dukungan itu diumumkan saat ia menyampaikan Pengantar Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya di Jakarta.
Sasaran pemerintah tidak berhenti pada bertambahnya kendaraan listrik di jalan. Program tersebut juga diarahkan untuk membangun ekosistem produksi yang mencakup komponen penting hingga layanan purnajual.
Rantai pasok yang ingin diperbesar mencakup perakitan, baterai, komponen, perangkat lunak, dan layanan setelah penjualan. Pemerintah menilai Indonesia sudah memiliki hampir seluruh unsur yang dibutuhkan dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik.
Tiga Arah Kebijakan yang Didorong
| Bidang | Tujuan Program |
|---|---|
| Kendaraan | Menurunkan biaya kendaraan bagi masyarakat |
| Energi | Mengurangi konsumsi bahan bakar impor |
| Industri | Memperbesar produksi motor listrik dan rantai pasok nasional |
Penguatan Industri Kendaraan Listrik menjadi salah satu tujuan utama kebijakan tersebut. Pemerintah ingin produksi lokal berkembang bersamaan dengan kemampuan memasok komponen yang diperlukan kendaraan listrik.
Skema insentif sendiri masih belum dirinci secara terbuka. Pemerintah belum menjelaskan bentuk bantuan, kriteria penerima, maupun mekanisme penyalurannya kepada perusahaan yang memenuhi target.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut anggaran untuk program itu sebenarnya sudah ada. Ia menyampaikan pernyataan tersebut seusai konferensi pers Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2027 di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Jumat (14/8).
“Skemanya sedang dimatangkan, tapi kan tadi Pak Presiden sudah menyetujui. Anggarannya sebetulnya sudah ada,” ujar Airlangga. Pernyataan itu menegaskan bahwa tahap berikutnya adalah mematangkan desain kebijakan sebelum insentif disalurkan.
Baterai Menjadi Unsur Awal
Airlangga mengatakan kebijakan akan diselaraskan dengan ekosistem motor listrik yang telah disiapkan pemerintah. Baterai menjadi salah satu unsur pertama yang akan diperhatikan dalam penyusunan skema.
Penekanan pada baterai menunjukkan pemerintah memandang Motor Listrik Nasional sebagai bagian dari industri yang lebih luas. Ketersediaan komponen utama dinilai penting agar peningkatan produksi kendaraan tidak berdiri sendiri.
Airlangga menyebut Alva dan Gesits sebagai contoh produk motor listrik yang dimaksud dalam kebijakan tersebut. “Untuk produknya, salah satunya Alva, salah duanya Gesits,” katanya.
Sehari sebelum pengumuman insentif, Prabowo meresmikan motor listrik nasional buatan dalam negeri dan ekosistem pendukungnya di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group atau ALVA di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Dalam acara itu, Prabowo memuji pelaku usaha swasta yang berani mengambil risiko membangun kendaraan listrik nasional.
Program Insentif Motor Listrik dijalankan ketika produsen lokal menghadapi persaingan dengan motor listrik dari China, Jepang, dan Korea Selatan. CNN Indonesia melaporkan pemerintah melihat dukungan produksi sebagai cara untuk membantu perusahaan Indonesia memperbesar kapasitas dan ekosistem domestik.
Besaran insentif belum diumumkan, demikian pula tahapan realisasi programnya. Pemerintah masih mematangkan skema dengan fokus pada target produksi, kesiapan baterai, dan penguatan industri di dalam negeri.






