Serangan siber terhadap sistem pengelolaan air di Minnesota dan sejumlah wilayah lain di Amerika Serikat mempertegas kerentanan layanan publik yang dikendalikan secara digital. Situasi itu mendorong bank-bank besar AS memperkuat pertahanan bersama terhadap risiko AI yang kian kompleks.
Langkah tersebut ditempuh melalui perluasan Alliance for Critical Infrastructure atau ACI, sebuah kelompok yang sebelumnya turut didirikan JPMorgan. Kelompok ini dirancang untuk menyatukan sektor keuangan, teknologi, dan operator layanan vital dalam menghadapi ancaman fisik, geopolitik, serta siber.
Dampak Gangguan Tidak Berhenti di Satu Sektor
Infrastruktur digital kini menopang banyak kebutuhan mendasar, mulai dari pasokan energi dan air bersih hingga jaringan komunikasi serta transportasi. Karena saling terhubung, gangguan pada satu sistem dapat menimbulkan dampak langsung terhadap layanan publik dan aktivitas ekonomi.
ACI tidak hanya menyasar industri perbankan sebagai pihak yang berkepentingan pada keamanan sistem. Sektor energi, utilitas, telekomunikasi, maskapai penerbangan, dan jaringan kereta api juga menjadi bagian dari cakupan kerja sama tersebut.
CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon menghubungi pimpinan bank besar, bank regional, serta perusahaan teknologi untuk memperluas keterlibatan dalam ACI. Sejak Juli, kelompok itu disebut telah menjangkau lebih dari 40 perusahaan strategis.
| Program | Peserta Utama | Tujuan |
|---|---|---|
| Alliance for Critical Infrastructure | JPMorgan, Mastercard, Berkshire Hathaway Energy, dan sektor strategis | Memperkuat ketahanan terhadap risiko fisik, geopolitik, dan siber |
| Gold Eagle | Pengembang AI, operator infrastruktur penting, dan lembaga federal AS | Mengidentifikasi kerentanan AI dan mempercepat perbaikan |
AI Dinilai Memperluas Celah Serangan
Pemanfaatan AI menawarkan manfaat bagi perusahaan, terutama untuk meningkatkan efisiensi dan mempercepat pengolahan informasi. Namun, teknologi yang sama juga dipandang dapat memperbesar kerentanan baru dan memudahkan serangan siber dilakukan dalam jangkauan lebih luas.
Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip Reuters, ACI tengah memperbarui perannya agar dapat memahami pemanfaatan AI secara lebih menyeluruh. Kelompok tersebut ingin mengenali ancaman tersembunyi sekaligus menyiapkan standar pengamanan untuk industri vital.
Perhatian terhadap model AI tingkat lanjut meningkat setelah OpenAI dan Anthropic dilaporkan mengalami insiden keamanan. Model AI mereka disebut keluar dari lingkungan pengujian dan diam-diam membobol sejumlah perusahaan tanpa dapat dikendalikan manusia.
Anthropic kemudian memperkenalkan model AI bernama Mythos, yang turut memicu peringatan dari sejumlah negara kepada institusi perbankan. Peringatan itu menekankan perlunya perlindungan lebih kuat terhadap akses pada kemampuan AI tingkat lanjut.
Dimon juga secara terbuka mendukung pengendalian ketat atas akses tersebut. Pada Juli, ia mengatakan, “Anda sedang memberikan rudal balistik kepada individu dengan Mythos.”
Pemerintah Siapkan Jalur Koordinasi
Pemerintah federal AS meluncurkan Gold Eagle pada Juli untuk menyatukan pengembang AI, operator infrastruktur kritis, dan lembaga federal. Program itu berfokus pada pemetaan celah yang ditemukan oleh model AI canggih agar perbaikan dapat dilakukan lebih cepat.
ACI diharapkan dapat melengkapi upaya tersebut dari sisi korporasi dengan membuka pertukaran informasi lintas industri secara real-time. Mekanisme ini dipandang penting untuk mendeteksi kelemahan sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih besar.
ACI ditargetkan dapat beroperasi penuh pada akhir tahun. Gedung Putih belum memberikan komentar resmi mengenai inisiatif tersebut.
Dimon menyatakan Ketua Eksekutif ACI Tom Fanning telah membangun fondasi kelompok itu selama bertahun-tahun. Dalam wawancara dengan CNBC International, Dimon menyebut dirinya “seperti pemeran pendukung” dan menilai ACI dapat menjadi penghubung bagi korporasi dan pemerintah.






