Pasar Motor Listrik Masih di Bawah 1 Persen, Molinas Bidik Peluang 170 Miliar Dollar AS

Penjualan motor listrik di Indonesia masih berada di bawah 1 persen, meski populasi motor nasional telah mencapai sekitar 140 juta unit. Kesenjangan ini menjadi dasar pemerintah menyiapkan Program Motor Listrik Nasional atau Molinas.

Rosan Roeslani memperkirakan ukuran pasar Molinas dapat mencapai sekitar 170 miliar dollar AS. Peluang tersebut bertumpu pada perpindahan pengguna motor berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik apabila pembiayaan dan industri pendukung berjalan sesuai rencana.

Penjualan motor baru di Indonesia disebut mencapai sekitar 6 juta hingga 7 juta unit setiap tahun. Sementara itu, pembelian motor listrik baru baru berkisar 60 ribu hingga 70 ribu unit.

Angka tersebut menunjukkan pasar kendaraan listrik roda dua masih sangat kecil dibandingkan kendaraan konvensional. Namun, kondisi itu sekaligus membuka ruang pertumbuhan yang luas bagi program nasional ini.

Hambatan Awal Pembelian Disasar Lewat Pembiayaan

Molinas menempatkan pembiayaan konsumen sebagai salah satu pengungkit utama pertumbuhan pasar. Pemerintah berupaya menghadirkan bunga cicilan yang lebih rendah, tenor lebih panjang, dan uang muka yang lebih ringan.

Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan peluang pembelian motor listrik tanpa DP sedang diupayakan. Pernyataan itu disampaikan dalam peluncuran Molinas pada Kamis (13/8/2026).

“Kita akan turunkan bunga cicilan untuk rakyat. Kemudian kita usahakan tidak pakai DP,” kata Prabowo. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mengurangi biaya yang harus dikeluarkan konsumen pada awal pembelian.

CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan lembaganya telah berkoordinasi dengan perbankan serta institusi keuangan di bawah naungannya. Mereka disiapkan untuk menyediakan pendanaan dengan bunga lebih rendah dan jangka waktu angsuran lebih panjang.

AspekKondisi Saat Ini atau RencanaArah Program
Uang mukaDisebut sekitar 10 persenDikurangi atau berpotensi dihapuskan
Bunga cicilanAkan diupayakan lebih rendahMeringankan pembiayaan konsumen
Tenor cicilanAkan diperpanjangMenekan nilai angsuran berkala

Penurunan beban pembiayaan dipandang penting karena harga awal kendaraan masih menjadi pertimbangan calon pembeli. Tenor yang lebih panjang dapat membuat cicilan berkala lebih mudah dijangkau, meski pelaksanaan kebijakannya akan menentukan hasil di pasar.

Selain pembelian, biaya pemakaian sehari-hari juga menjadi bagian dari daya tarik kendaraan listrik. Prabowo menyebut penggunaan motor listrik dibandingkan motor bensin dapat menghemat pengeluaran minimal 50 persen.

Menurutnya, penghematan tersebut bahkan berpeluang mencapai 70 persen pada perhitungan akhir. Potensi efisiensi ini menambah alasan pemerintah mendorong peralihan dari kendaraan berbahan bakar minyak.

Rantai Baterai Menjadi Penopang Program

Molinas tidak hanya diarahkan untuk memperbesar penjualan motor listrik, tetapi juga membangun rantai produksi dalam negeri. Danantara mendukung program dari hilirisasi bahan baku baterai sampai pembiayaan konsumen.

Baterai untuk Molinas akan didorong menggunakan basis nikel. Indonesia disebut memiliki 46 persen cadangan nikel dunia, sehingga bahan baku tersebut dinilai penting bagi pengembangan industri kendaraan listrik nasional.

Rosan menyatakan kemampuan dalam negeri telah mencakup teknologi dan hilirisasi nikel menjadi sel baterai hingga battery pack. Penguasaan rantai ini diharapkan mengurangi ketergantungan pada produk akhir dari luar negeri.

“Kalau kita lihat, resepnya untuk Molinas ini semuanya ada di kita,” ujar Rosan. Pernyataan itu merujuk pada ketersediaan bahan baku, kemampuan pengolahan, dan dukungan pendanaan yang tengah dipersiapkan.

Keberhasilan Molinas akan bergantung pada terlaksananya pembiayaan ringan dan kesiapan rantai pasok baterai di dalam negeri. Bila kedua unsur tersebut berjalan, pasar motor listrik yang masih kecil memiliki ruang untuk bertumbuh lebih cepat.

Baca Juga