Dukungan Ganja Terbelah Menjelang 2026, Trump dan Demokrat Pilih Jalan Berbeda

Dukungan legalisasi ganja di Amerika Serikat masih mayoritas, tetapi perpecahan politiknya semakin terlihat menjelang pemilu sela November 2026. Jajak pendapat Gallup pada November menunjukkan 64% warga dewasa mendukung legalisasi, turun dari 70% pada 2023.

Penurunan paling besar terjadi di kalangan pemilih Partai Republik, yang dukungannya berada pada 40%. Sebaliknya, dukungan mencapai 85% di kalangan Demokrat dan 66% pada pemilih independen.

KelompokPersentase Dukungan
Warga dewasa AS64%
Pemilih Republik40%
Pemilih Demokrat85%
Pemilih independen66%

Perbedaan itu membuat ganja menjadi isu yang dapat membelah basis suara, bukan sekadar kebijakan kesehatan atau penegakan hukum. Direktur Politik NORML Morgan Fox menyebut regulasi ganja sangat populer di kalangan pemilih, tetapi kekuatannya tetap berbeda menurut afiliasi politik.

CEO Smart Approaches to Marijuana Kevin Sabet menilai popularitas suatu isu dalam survei tidak selalu berujung pada keuntungan elektoral. Menurutnya, politisi kerap kecewa ketika mengira dukungan terhadap ganja akan otomatis mendatangkan suara.

Dua Pendekatan Federal yang Berlawanan

Pemerintahan Donald Trump mendorong perubahan klasifikasi ganja dari Golongan I menjadi Golongan III. Menurut Investor Daily, Trump pada Desember 2025 meminta Departemen Kehakiman mempercepat proses tersebut.

Pada April 2026, Pelaksana Tugas Jaksa Agung Todd Blanche menandatangani perintah untuk mengklasifikasi ulang ganja medis yang berlisensi di tingkat negara bagian. Langkah ini dinilai dapat melonggarkan hambatan penelitian dan membuka perubahan bagi bisnis ganja legal.

Sejumlah senator Demokrat mengusulkan arah yang lebih jauh melalui Cannabis Administration and Opportunity Act. Sebanyak 17 senator yang dipimpin Cory Booker, Chuck Schumer, dan Ron Wyden kembali mengajukan rancangan untuk menghapus ganja sepenuhnya dari Controlled Substances Act.

“Pemilih di seluruh negeri telah memperjelas bahwa mereka ingin cannabis dilegalkan, dan langkah setengah hati Trump tidak menipu siapa pun,” ujar Wyden. Pernyataan itu menegaskan kontras antara tuntutan penghapusan penuh dan strategi reklasifikasi yang ditempuh pemerintahan Trump.

Republik Menolak, Industri Menghitung Dampak

Proses reklasifikasi menghadapi penolakan yang kuat di internal Partai Republik. Lebih dari 20 senator serta sejumlah anggota DPR mendesak Gedung Putih menghentikan proses tersebut.

Di tengah perdebatan itu, perusahaan ganja memiliki kepentingan besar terhadap perubahan aturan pajak federal 280E. Ketentuan tersebut membatasi pengurangan biaya operasional seperti gaji, sewa, dan utilitas dari pendapatan kotor perusahaan ganja legal.

Presiden Sun Theory Matthew Merlander mengatakan penghapusan pembatasan itu berpotensi meningkatkan keuntungan industri secara langsung. “Kami tahu jika aturan itu benar-benar dihapus, secara otomatis industri akan menjadi lebih menguntungkan,” katanya.

Namun, prospek keringanan pajak memicu keberatan dari kelompok yang menolak perlakuan fiskal khusus bagi bisnis ganja. Nilai industri legal sekitar US$30 miliar menjadikan kebijakan federal itu memiliki konsekuensi ekonomi yang luas.

Pemungutan Suara dan Dana Politik

Pemungutan suara terkait kebijakan ganja direncanakan berlangsung di Massachusetts dan Idaho. Legalisasi juga menjadi salah satu isu persaingan dalam pemilihan gubernur di Kansas dan Iowa.

Beberapa perusahaan ganja dilaporkan menyalurkan sekitar US$11,5 juta kepada super PAC America First Agriculture Action Inc. yang berafiliasi dengan Trump. Perusahaan yang disebut meliputi Trulieve, Curaleaf, Green Thumb Industries, dan Verano Holdings.

Rangkaian perkembangan tersebut menempatkan ganja sebagai isu ekonomi dan politik sekaligus menjelang Pemilu Sela AS 2026. Sikap kandidat, kebijakan Washington, serta hasil pemungutan suara di negara bagian akan menentukan arah perubahan berikutnya.

Baca Juga