Di Balik Insentif AS untuk Iran, Ancaman Rudal dan Konflik Laut Justru Meluas

Insentif ekonomi yang dijanjikan Amerika Serikat kepada Iran belum meredakan ketegangan di kawasan. Setelah nota kesepahaman ditandatangani, laporan mengenai serangan di jalur laut, pengiriman persenjataan, dan peningkatan kesiapan militer justru terus muncul.

Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur energi regional dan negara-negara Teluk. Ketegangan juga disebut telah menyentuh Yordania, Irak, Yaman, Lebanon, Kuwait, serta kawasan Laut Merah.

Kesepakatan yang Belum Mengubah Kalkulasi

Dalam kesepakatan yang ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Iran pada 17 Juni, Teheran dijanjikan beberapa insentif ekonomi. Di antaranya keringanan sanksi, peluang kembali menjual minyak, akses terhadap dana yang dibekukan, dan potensi dana rekonstruksi hingga US$300 miliar.

Iran, sebagai bagian dari kesepakatan itu, diwajibkan membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal serta berunding serius mengenai program nuklirnya. Meski demikian, kelompok garis keras di Teheran dilaporkan tidak melihat perundingan dengan Washington sebagai jalan damai yang pasti.

Menurut laporan yang dikutip CNBC Indonesia, sebagian elite Iran menduga kesepakatan dapat menjadi taktik AS dan Israel. Pandangan itu berangkat dari anggapan bahwa tekanan terhadap ekonomi global dapat diredakan sementara pihak lawan menyiapkan langkah lanjutan.

Gangguan Jalur Laut dan Energi

Laporan penembakan kapal di Selat Hormuz muncul setelah penandatanganan kesepakatan tersebut. Konflik juga dilaporkan melebar ke Laut Merah, wilayah yang penting bagi pergerakan perdagangan dan energi.

LokasiAktivitas yang DilaporkanRisiko
Selat HormuzPenembakan kapalGangguan lalu lintas pelayaran
Laut MerahPengiriman rudal, senjata laut, dan peluncur dronePerluasan konflik regional
Selat Bab al-MandebPenutupan akses oleh HouthiTekanan terhadap jalur laut
IrakSerangan drone ke fasilitas minyak SaudiGangguan sektor energi

Milisi Houthi di Yaman dilaporkan kembali menyerang kapal-kapal Arab Saudi dan menutup akses Selat Bab al-Mandeb. Sementara itu, milisi di Irak disebut menggunakan drone untuk menyerang fasilitas minyak Saudi.

IRGC dilaporkan mengirim penasihat militer ke Irak, Yaman, dan Lebanon guna menyusun rencana serangan lanjutan. Pengiriman rudal, senjata laut, serta peluncur drone ke Laut Merah disebut menjadi bagian dari koordinasi antarkelompok di kawasan.

Penataan Ulang Kekuatan di Dalam Negeri

Di dalam negeri, Iran disebut memperluas operasi kontra-intelijen dan meningkatkan produksi rudal serta drone. Dalam dua bulan terakhir, penguatan kendali IRGC atas angkatan bersenjata reguler juga dilaporkan berlangsung.

Veteran perang Iran-Irak disebut ditempatkan pada posisi penting dalam struktur militer dan keamanan. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei juga dilaporkan melakukan perombakan besar untuk memperketat komando dan mendorong pendekatan yang lebih ofensif.

Mohammad Hassan Sangtarash, analis pertahanan asal Teheran yang dekat dengan pemerintah Iran, mengatakan ada pandangan luas bahwa perang sebenarnya belum benar-benar dimulai. Ia menyebut strategi yang ditempuh Iran sebagai “salami-slicing”, yaitu eskalasi bertahap dan terukur untuk melemahkan lawan sebelum konflik yang lebih besar.

Tekanan terhadap Negara Teluk dan AS

Salah satu insiden yang dilaporkan adalah penembakan lima rudal balistik ke Yordania yang menewaskan sejumlah tentara Amerika. Negara-negara Teluk juga dilaporkan mengkhawatirkan kemungkinan perluasan operasi Iran di wilayah mereka.

Enam personel IRGC disebut menyusup ke sebuah pulau di Kuwait pada awal Mei. Opsi yang dilaporkan dipertimbangkan mencakup sabotase kabel internet bawah laut di Teluk Persia, upaya memicu kerusuhan di Kuwait dan Bahrain, serta operasi darat ke Kuwait.

Trump dilaporkan memilih menahan diri sambil menunggu tekanan ekonomi dan blokade Angkatan Laut AS melemahkan Teheran. Mehdi Mohammadi, penasihat strategis perunding utama Iran, menyebut jalur damai saat ini dapat menjadi jeda sementara sebelum eskalasi kembali meningkat.

“Bangsa Iran masih punya banyak urusan yang belum selesai dengan Trump. Iran siap menghadapi konfrontasi besar,” kata Mohammadi.

Baca Juga