Tertahannya dolar Amerika Serikat dan imbal hasil obligasi membuka kembali ruang penguatan harga emas. Setelah turun hingga 18 persen dari rekor di atas US$ 5.300 per ons, logam mulia kembali diburu saat pasar menghadapi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Penguatan yang terlihat pada Kamis, 13 Agustus 2026, mencerminkan perubahan minat investor terhadap aset aman. Koreksi sebelumnya tidak menghilangkan perhatian pasar karena risiko inflasi jangka panjang masih membayangi berbagai instrumen berisiko.
Data Inflasi Mengubah Perhitungan Pasar
Inflasi konsumen Amerika Serikat tercatat 0,1 persen secara bulanan atau 3,4 persen secara tahunan. Data tersebut menurunkan spekulasi bahwa bank sentral akan segera mengambil langkah kenaikan suku bunga secara agresif.
Pelemahan sektor ketenagakerjaan Amerika Serikat turut memengaruhi ekspektasi arah suku bunga. Ketika imbal hasil aset berbunga tidak meningkat tajam, biaya peluang untuk menyimpan emas menjadi lebih rendah.
Imbal hasil obligasi dan dolar AS bergerak tertahan di kisaran 3,50–3,75 persen. Perkembangan ini memperkuat daya tarik Emas sebagai Aset Aman bagi investor yang mencari perlindungan ketika sentimen pasar berbalik cepat.
| Faktor Pasar | Data | Implikasi |
|---|---|---|
| Harga tertinggi sebelumnya | Di atas US$ 5.300 per ons | Menjadi patokan pemulihan |
| Koreksi harga emas | Hingga 18 persen | Menciptakan ruang rebound |
| Inflasi AS bulanan | 0,1 persen | Menahan spekulasi pengetatan agresif |
| Inflasi AS tahunan | 3,4 persen | Menjaga risiko inflasi jangka panjang |
Bank Sentral Asia Tetap Menambah Emas
Selain faktor kebijakan moneter, permintaan fisik dari bank sentral menjadi penopang penting bagi harga emas. People’s Bank of China membeli 19,9 ton emas pada Juli 2026 dan memperpanjang periode akumulasi menjadi 21 bulan berturut-turut.
Peningkatan Pembelian Emas Bank Sentral di Asia terus diawasi karena memberi dukungan yang lebih stabil daripada transaksi spekulatif jangka pendek. Tren itu membuat pasar melihat permintaan fisik emas masih memiliki fondasi yang kuat.
Belanja fiskal Amerika Serikat yang tinggi juga meningkatkan perhatian terhadap potensi inflasi dalam jangka panjang. Investor Daily melaporkan bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia menjadi faktor lain yang memperkuat kehati-hatian investor.
Pasar Kripto dan Geopolitik Menambah Risiko
Volatilitas pasar kripto mendorong sebagian investor institusional menimbang kembali instrumen konvensional untuk mempertahankan nilai aset. Dalam keadaan tersebut, emas fisik dipandang sebagai salah satu pilihan ketika pergerakan aset berisiko tidak stabil.
Pasar juga menaruh perhatian pada arah Suku Bunga The Fed di bawah Ketua Dewan Gubernur Kevin Warsh. Ketidakpastian ini dapat memengaruhi dolar, imbal hasil obligasi, serta minat terhadap aset yang tidak memberikan bunga seperti emas.
Ketegangan di Selat Hormuz turut menjadi perhatian karena menahan harga minyak Brent di US$ 90 per barel. Risiko geopolitik tersebut memperkuat alasan investor mempertahankan eksposur pada emas di tengah kondisi global yang belum sepenuhnya stabil.
Kenaikan emas juga menguntungkan saham tambang, dengan indeks sektor tersebut membukukan kinerja mingguan terbaik sejak krisis keuangan 2008. AngloGold Ashanti dan Newmont menjadi contoh perusahaan yang diperhatikan pasar karena valuasi Price-to-Earnings yang dinilai murah dan dividen tinggi.
Arah harga selanjutnya akan ditentukan oleh inflasi Amerika Serikat, kebijakan bank sentral, serta keberlanjutan pembelian fisik di Asia. Jika kondisi itu tetap mendukung, emas berpeluang kembali mendekati rekor harga sebelumnya.






