Rencana belanja negara Rp4.097,2 triliun dalam RAPBN 2027 menjadi salah satu faktor yang paling dicermati pasar. Besarnya anggaran dapat mendukung aktivitas ekonomi, tetapi investor menunggu bukti bahwa belanja tersebut efektif dan produktif.
Target pendapatan negara sebesar Rp3.426 triliun juga membuat ruang defisit menjadi perhatian. Pasar akan mengukur kualitas pengeluaran pemerintah, bukan semata-mata besaran anggaran yang direncanakan.
Anggaran besar belum tentu cukup
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai defisit yang signifikan menjadi salah satu risiko dalam pembacaan pasar terhadap RAPBN 2027. Belanja negara perlu menghasilkan dorongan nyata terhadap investasi, produktivitas, dan kegiatan ekonomi.
Efek anggaran terhadap pasar saham dinilai akan bergantung pada pelaksanaannya. Investor akan memantau apakah pengeluaran pemerintah membantu konsumsi, kredit, serta perbaikan pendapatan perusahaan.
Di tengah perhatian itu, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027. Sasaran tersebut disertai target inflasi 2,5% dan imbal hasil SBN tenor 10 tahun sebesar 6,9%.
| Komponen RAPBN | Target 2027 | Makna bagi Pasar |
|---|---|---|
| Pertumbuhan ekonomi | 6% | Memberi sinyal optimisme pemerintah |
| Inflasi | 2,5% | Menopang pesan stabilitas ekonomi |
| Imbal hasil SBN 10 tahun | 6,9% | Menjadi acuan kondisi pasar keuangan |
| Belanja negara | Rp4.097,2 triliun | Efektivitasnya akan diuji |
| Pendapatan negara | Rp3.426 triliun | Menyisakan defisit signifikan |
Optimisme awal untuk IHSG
Target pertumbuhan ekonomi 6% memberi dorongan positif bagi IHSG dalam jangka pendek. Pasar menangkap sasaran itu sebagai sinyal kepercayaan pemerintah terhadap arah ekonomi nasional.
Nafan Aji Gusta, analis pasar senior Mirae Asset Sekuritas, menilai target tersebut dapat menjadi sentimen positif bagi saham. Ia melihat adanya arah pergeseran sumber pertumbuhan dari konsumsi menuju investasi, industrialisasi, hilirisasi, produktivitas, dan peningkatan nilai tambah.
Namun, pasar tidak akan hanya menilai pesan optimistis dari angka pertumbuhan. Investor akan melihat kesiapan program pemerintah untuk mengubah target tersebut menjadi capaian ekonomi riil.
Jarak target dan realisasi
Menurut Wafi, risiko pertama muncul dari jarak antara target pertumbuhan ekonomi 6% dan realisasi pertumbuhan pada tahun berjalan. Kondisi itu membuat sasaran 2027 dipandang sebagai target yang ambisius.
Respons pasar dapat bersifat positif pada tahap awal karena target itu memberi sinyal kepercayaan. Dalam jangka panjang, investor akan menilai kekuatan program pendukung dan konsistensi pelaksanaannya.
Risiko berikutnya terkait persepsi investor asing terhadap kredibilitas kebijakan. Wafi menyoroti bahwa IHSG sebelumnya baru mengalami tekanan akibat sentimen MSCI.
Kepekaan investor asing terhadap risiko membuat rekam jejak kebijakan menjadi penting. Penguatan pasar setelah pengumuman RAPBN 2027 akan lebih berkelanjutan bila realisasi anggaran dan indikator ekonomi bergerak sesuai sasaran.
Perkembangan investasi, konsumsi, kredit, serta laba perusahaan akan menjadi indikator yang terus diperhatikan. Faktor-faktor itu akan menentukan apakah optimisme pasar terhadap RAPBN 2027 dapat bertahan setelah respons awal mereda.






