Bantar Gebang Lepas 6,3 Ton Metana per Jam, MSIG Edukasi Anak Bogor

TPST Bantar Gebang diperkirakan memancarkan sekitar 6,3 ton metana setiap jam, atau mencapai 55.000 ton dalam setahun. Data UCLA Emmett Institute on Climate Change and the Environment itu menunjukkan dampak besar dari pembusukan sampah organik di tempat pembuangan akhir.

Metana termasuk gas rumah kaca yang dapat memicu perubahan iklim dan memberi tekanan pada ekosistem. Risiko tersebut mendorong perlunya kebiasaan memilah sampah sejak sebelum material buangan sampai ke tempat pembuangan akhir.

PT Asuransi MSIG Indonesia membawa isu ini ke ruang belajar melalui Biodiversity Fun Class atau BDFC 2026 di Bogor. Sebanyak 109 siswa kelas 5 dari SDN Jampang 01 dan SDN Karang Tengah 07 mengikuti kegiatan bertema “Kepedulian untuk Masa Depan”.

Program itu menggunakan konsep “Pilah Sampah, Bumi Bahagia!” untuk menjelaskan keterkaitan sampah dengan iklim dan keanekaragaman hayati. Peserta diajak melihat bahwa tindakan kecil di rumah dapat memiliki dampak bagi lingkungan yang lebih luas.

Memahami Dampak Sebelum Membuang

Dalam kegiatan tersebut, siswa mempelajari dampak pengolahan sampah yang tidak tepat terhadap tanah, air, hewan, dan kesehatan manusia. Materi juga membedakan sampah berdasarkan karakter dan penanganannya.

Tiga kategori yang diperkenalkan ialah organik, anorganik, dan residu. Pengelompokan itu membantu anak-anak memahami bahwa tidak semua sampah seharusnya dibuang dengan cara yang sama.

Pembelajaran tidak hanya mengandalkan penjelasan di kelas. Siswa mengikuti penayangan video, storytelling, kuis, permainan kelompok, serta praktik langsung agar materi lebih mudah diterapkan.

Karyawan MSIG Indonesia terlibat sebagai relawan pendamping dalam kegiatan tersebut. Para relawan sebelumnya telah mendapat pelatihan khusus untuk mendukung edukasi lingkungan kepada siswa.

Sekolah Mendapat Sarana Pemilahan

Selain kelas edukasi, MSIG Indonesia menyediakan fasilitas pemilahan bagi dua sekolah peserta. Setiap sekolah menerima satu unit alat pengepres botol plastik dan tiga unit tempat sampah terpilah.

Peralatan itu ditujukan untuk memperluas praktik pemilahan sampah di lingkungan sekolah. Siswa diharapkan dapat menghubungkan pengetahuan di kelas dengan kebiasaan yang dilakukan secara rutin.

Presiden Direktur MSIG Indonesia Tomosuke Tsuruoka mengatakan pengenalan kebiasaan sederhana sejak dini dapat membangun kesadaran lingkungan. Menurutnya, siswa dapat menginspirasi keluarga dan komunitas agar menerapkan praktik yang lebih bertanggung jawab.

BDFC diselenggarakan bersama Gerakan Nasional Orang Tua Asuh atau GNOTA serta Save the Children Indonesia. Sejak berjalan pada 2019 hingga 2026, program ini melibatkan 86 relawan karyawan dan menjangkau sembilan SD negeri di Jakarta, Tangerang, serta Bogor.

Baca Juga